Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi Partai Nasdem, Charles Meikyansah.

Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi Partai Nasdem, Charles Meikyansah.

Charles Meikyansyah: Perekonomian Domestik Memiliki Ketahanan Hadapi Guncangan dari Luar

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 08:44 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi Partai Nasdem, Charles Meikyansyah mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,44% pada Kuartal II/2022 menunjukkan bahwa perekonomian domestik memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap shock dari luar.

Di lain sisi, mobilitas kita juga relatif tinggi karena kebijakan pengendalian Covid-19 yang diterapkan memang tidak seketat negara lain, sehingga ini juga bisa menjadi faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

“Akan tetapi, kita tidak boleh terlena karena bisa jadi ini merupakan pertumbuhan yang semu akibat commodity boom dimana harga komoditas melambung tinggi, sedangkan output yang kita hasilkan sebenarnya relatif tidak berubah,” kata Charles kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (5/8).

Dia mengatakan, capaian Indonesia pada titik pertumbuhan ekonomi 5,44% pada kuartal II merupakan bentuk keberhasilan Indonesia dalam mengelola perekonomian, yaitu menyeimbangkan antara demand dan supply. Hal ini terjadi di samping adanya permasalahan geopolitik maupun pandemi Covid- 19.

Ekspor impor Indonesia merosot akibat pandemi. Foto: SP/Joanito De Saojoao
Ekspor impor Indonesia merosot akibat pandemi. Foto: SP/Joanito De Saojoao

“Tingkat pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan perbaikan setiap triwulannya menjadi bukti optimisme untuk terhindar dari resesi. Namun, perlu diingat bahwa pemerintah tetap harus hati-hati dalam membuat suatu kebijakan mengingat adanya tekanan inflasi global dan risiko resesi global yang disebabkan oleh pengetatan moneter yang agresif di Amerika Serikat dan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Cina,” ujarnya.

Indonesia, kata dia memang diprediksi hanya memiliki potensi resesi sebesar 3%. Angka ini memang tergolong rendah, tetapi ini bukan berarti kita akan aman dari ancaman resesi.

Perekonomian yang makin terintegrasi melalui jalur perdagangan dan keuangan membuat potensi shock yang menyebabkan resesi dapat terjadi kapan saja. Resesi sendiri sebenarnya merupakan sesuatu yang lumrah terjadi dalam siklus bisnis perekonomian asalkan jangka waktunya tidak lama dan berkepanjangan.

Target kinerja ekspor impor Indonesia 2021. Foto: SP/Joanito De Saojoao
Target kinerja ekspor impor Indonesia 2021. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,44% pada triwulan II-2022 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Dengan demikian kinerja ekonomi triwulan II-2022 sudah lebih tinggi daripada sebelum pandemi. Hal ini menandakan pemulihan ekonomi yang berlangsung sejak triwulan II-2021 terus berlanjut dan semakin menguat.

"Pertumbuhan ekonomi tahun ini meningkat secara persisten. Polanya mulai dari triwulan II-2021, triwulan III-2021, triwulan IV-2021, triwulan I-2022, dan triwulan II-2022 sekarang ini terus mengalami pertumbuhan," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat(5/8/2022).

Ia pun menjelaskan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44% berasal dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) maupun PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).

Pada triwulan II-2022, PDB ADHB tercatat Rp4.919,9 triliun atau meningkat dari kuartal II-2021 yang sebesar Rp4.176,4 triliun. Begitu pula PDB ADHK yang membaik dari Rp2.772,9 triliun di kuartal II-2021 menjadi Rp2.923,7 triliun pada triwulan II-2022.

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quartal-to-quartal/qtq), Margo menyebutkan perekonomian domestik berhasil tumbuh sebesar 3,72%.

Jaga Momentum Pertumbuhan

Charles memberi saran agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas 5%. Menurut dia, ke depan adalah pemerintah harus bisa menjaga ruang fiskal supaya pemberian subsidi untuk menahan inflasi akibat kenaikan harga energi dapat terus dilakukan. Pemerintah juga harus memikirkan exit strategy ketika masa commodity boom berakhir dengan menyiapkan cadangan devisa yang besar guna mengantisipasi shock yang mungkin terjadi pada nilai tukar.

Beberapa proyek pembangunan nasional harus diperhatikan produktivitasnya. Bank Indonesia juga harus tetap independen dalam mengambil kebijakannya dan menyesuaikan dengan kondisi perekonomian yang memang sedang serta akan terjadi.

Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menunjukkan arah positif, Indonesia harus tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun berikutnya.

Pekerja menyelesaikan pembuatan mi di industri UMKM mi dan pangsit di Bogor, Jawa Barat.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Pekerja menyelesaikan pembuatan mi di industri UMKM mi dan pangsit di Bogor, Jawa Barat. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Selain itu, pemerintah juga harus memikirkan exit strategy ketika masa commodity boom berakhir dengan menyiapkan cadangan devisa yang besar guna mengantisipasi shock yang mungkin terjadi pada nilai tukar.

Pemerintah juga memperhatikan adanya lonjakan inflasi yang mungkin terjadi yang dapat menggerus daya beli dan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menahan laju inflasi tetap terjaga.

Dia juga berharapr pemerintah terus mendorong daya beli masyarakat. Hal tersebut dikarenakan komponen ini menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi. Upaya yang dilakukan dapat melalui kebijakan moneter maupun fiskal (subsidi/ bantuan sosial). Tindakan tersebut nantinya akan membuat perekonomian stabil dan mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan.

Terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi ke depan, Alumni FISIP Universitas Negeri Jember ini berpendapat, hal tersebut bergantung pada kemampuan bank sentral dalam mengendalikan inflasi yang tengah naik sekarang dan konsolidasi fiskal agar APBN tetap terjaga.

Intinya, koordinasi kebijakan yang baik antara fiskal dan moneter akan menentukan nasib perekonomian kita ke depannya. Banyak negara yang berusaha meredam inflasi dengan hanya menekan suku bunga, tetapi stimulus fiskalnya masih digencar besar-besaran, alhasil inflasi meroket dan sulit untuk dikendalikan.

Dia menilai bauran kebijakan di Indonesia sebenarnya cukup baik terlihat pada kebijakan moneter yang lebih pasif dalam rangka mendorong kebijakan fiskal yang tujuannya pro-growth. "Stimulus fiskal kita juga terkendali dengan baik dan hati-hati terlihat dari pemangkasan dana PEN 2022 karena perekonomian sudah nampak pulih," ucapnya.

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN