Menu
Sign in
@ Contact
Search

Pemerintah akan Geser Fokus Perhatian pada Neraca Modal

Selasa, 4 Februari 2014 | 23:14 WIB
Anis Rifatul Ummah (redaksi@investor.id)

JAKARTA - Pemerintah menyatakan akan menggeser fokus perhatiannya tahun ini, dari mengurangi defisit pada neraca transaksi berjalan di periode tahun lalu menjadi memperbaiki neraca modal (capital account). Pergeseran fokus ini penting untuk mengantisipasi arus modal kembali ke Amerika Serikat (AS) seiring berlajalannya kebijakan tapering off The Fed.

Menteri Keuangan Chatib Basri menjelaskan kombinasi dari kebijakan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah telah membuahkan hasil surplus pada neraca perdagangan pada kuartal IV hingga US$2,3 miliar. Namun surplus yang diproyeksikan akan menurunkan defisit neraca transaksi berjalan pada 2014 hingga di bawah 2% diyakini belum cukup untuk mengantisipasi dampak perkembangan ekonomi global, sehingga fokus kebijakannya akan digeser pada isu mendasar yakni neraca modal.

"Kita tidak lagi bicara (defisit neraca transaksi berjalan) 2,5%, tapi di bawah 2%. Ini satu gejala baik yang memberikan confidence tapi ini saja tidak cukup karena ada isu yang mendasar. Isu yang akan kita hadapi dalam beberapa bulan ke depan adalah isu neraca modal," Tutur Menkeu di Jakarta, Selasa (4/2).

Lebih lanjut Menkeu menjelaskan kondisi ekonomi global akan terkena dampak dari tren menguatnya yield obligasi negara AS dari  2,9% menjadi antara 2,7-2,6%. Di satu sisi, pasar modal dipasar negara-negara emerging juga mengalami goncangan.

Walaupun goncangan di pasar modal Indonesia relatif kecil jika dibandingkan negara lain, yang Selasa ini di kisaran 20-25 bps dan sebelumnya di kisaran 30-38 bps, semua pihak terkait diharapkan mengantisipasinya. Hal ini karena Menkeu melihat adanya kecenderungan modal kembali ke AS seiring berakhirnya era uang mudah (easy money). "Inilah yang menandai apa yang  dinamai the end of easy money. Saya akan membayangkan emerging market nantinya harus bertaruh mendapatkan capital atau modal," katanya.

Menurutnya orang akan melihat sebuah negara bukan lagi dari tangable asset atau aset fisik seperti sumberdayanya, pasar dan upah buruh, melainkan dari kebijakannya. Dalam hal ini, kata Chatib, pemerintah harus bisa memprediksi langkah yang dilakukan oleh berbagai tipe investor baik investor baru atau investor loyal.

Menkeu menyadari pemerintah tidak bisa hanya bergantung pada investor loyal dalam meningkatkan investasinya karena tingkat persaingan yang semakin ketat. Untuk itu pemerintah dipastikan akan meningkatkan peran isu good governance untuk memberikan informasi yang positif terhadap investor, khususnya investor baru.

"Kalau orang masih melihat republik ini dalam 30 tahun ke depan artinya mereka punya confidence. Tapi tidak semua orang punya informasi seperti ini. Investor yang loyal akan melihat lebih jauh resiko-resiko dari perkonomian, kalau investor familiarities atau knowledge nya terbatas akan melihat dari indikator tertentu. Disinilah peran dari issue good governance menjadi sangat penting," katanya.

Dia mengungkapkan isu good governance sering terlupakan ketika era easy money karena banyak negara yang mengandalkan informasi fisik. Seiring masuknya era uang sulit, lanjutnya, maka para investor akan jauh lebih selektif untuk berinvestasi hanya pada negara-negara yang terjamin dari sisi politik dan ekonominya yang bisa dilihat melalui indikator kebijakannya.

"Biasanya isu good government walaupun penting tapi sering dilupakan. Mirip air mengalir di sungai, kalau lagi deras banjir kita tidak melihat ada kotoran, batu dan sebagainya. Tapi ketika air surut kita mulai bicara di sungai itu banyak kotoran, sampah batu dan sebagainya," tukasnya. (wyu)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com