Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang mengenakan masker pelindung saat berbelanja di sebuah pasar swalayan di Shenyang, provinsi Liaoning,  timur laut Tiongkok, pada 10 Februari 2020. Korban jiwa dari wabahvirus korona melonjak menjadi 1.000 pada 11 Februari 2020. ( Foto: STR / AFP )

Orang-orang mengenakan masker pelindung saat berbelanja di sebuah pasar swalayan di Shenyang, provinsi Liaoning, timur laut Tiongkok, pada 10 Februari 2020. Korban jiwa dari wabahvirus korona melonjak menjadi 1.000 pada 11 Februari 2020. ( Foto: STR / AFP )

Antisipasi Dampak Corona, Pemerintah Siapkan 5 Strategi Jaga Ketahanan Ekonomi

Triyan Pangastuti, Jumat, 14 Februari 2020 | 18:04 WIB

JAKARTA, investor.id - Badan Kebiajakan Fiskal, Kementerian Keuangan  menyiapkan strategi  mengantisipasi dampak penyebaran virus corona  terhadap perekonomian. Strategi   yang ditempuh bertujuan menjaga daya beli masyarakat, sebab konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Plt. Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Arif Baharudin mengatakan,  untuk mengantisipasi situasi ekonomi global yang diliputi tantangan termasuk merebaknya virus corona,  pemerintah mengambil langkah dengan menjaga daya beli dan mendorong aktivitas produksi.

“Pertumbuhan ekonomi kita sangat didukung oleh konsumsi, sehingga pada kuartal I sudah diarahkan aka nada pendorong konsumsi belanja negara, maka kita bisa mengupayakan untuk mendorong sisi konsumsi rumah tangga” jelasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (14/2).

Ia menjelaskan, tekanan ekonomi Tiongkok berpotensi memberikan dampak negatif ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Beberapa  sektor yang berpotensi terkena dampak seperti sektor pariwisata, perdagangan internasional, dan aliran investasi.

Meskipun  masih diliputi ketidakpastian,  sejumlah institusi memperkirakan bahwa dampak corona pada ekonomi Indonesia tidak sebesar negara-negara lain, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, atau Singapura yang mempunyai hubungan lebih besar terhadap ekonomi Tiongkok.

“Beberapa institusi melihat, apabila penyebaran wabah Virus Corona berlangsung cukup lama dan terus menghambat aktivitas ekonomi, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia dapat terus tumbuh melambat” ujarnya.

Dikatakan, untuk mengukur dampak  virus Corona melalui transmisi perdagangan internasional, perlu dicermati kinerja ekspor impor Indonesia khususnya dengan Tiongkok  pada awal tahun 2020 ini.  Pada periode ini, arus barang ke dan dari Tiongkok  banyak dipengaruhi faktor lain, seperti faktor musiman Hari Raya Imlek.

Ada sejulah langkah antisipatif telah dipersiapankan pemerintah untuk mengatasi dampak corona. Pertama, mempercepat realisasi belanja Kementerian/Lembaga, terutama belanja bantuan sosial (seperti PKH dan kesehatan), serta belanja non operasional.

Kedua,  mendorong pusat-pusat pariwisata melalui berbagai program pendukung, seperti percepatan pembangunan lima destinasi pariwisata super prioritas  yakni Danau Toba, Borobudur, Likupang, Labuan Bajo, dan Mandalika. Pemerintah juga akan menyiapkan kebijakan fiskal dan non-fiskal untuk menstimulasi sektor pariwisata” ujarnya.

Ketiga mendorong dan mempercepat belanja padat karya untuk kegiatan produktif yang menyerap banyak tenaga kerja, seperti belanja infrastruktur di pusat dan daerah. Kemudian yang keempat mengoptimalkan peran APBN sebagai instrumen yang fleksibel dalam merespon situasi ekonomi (countercyclical) dengan tetap dalam batasan yang aman dan terkendali.

Terakhir, mempercepat penajaman program Kredit Usaha Rakyat (KUR), termasuk perluasan sasaran. Dampak virus corona sangat terasa pada pergerakan arus orang dari Tiongkok ke Indonesia setelah diberlakukannya larangan penerbangan dari/ke Tiongkok.  Dengan jumlah pergerakan penumpang masuk asal Tiongkok mencapai puncak di tanggal 25 Januari 2020 dan mengalami penurunan drastis hingga saat ini jumlah penumpang Tiongkok mencapai < 500 orang. (TRY).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN