Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI Akselerasi Bauran Kebijakan

Selasa, 4 Mei 2021 | 15:22 WIB
Triyan Pangastuti ,Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id –  Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan akan terus melanjutkan bauran kebijakan yang akomodatif untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Ia menyatakan, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebanyak enam kali secara agresif selama satu tahun terakhir. Bahkan BI dalam RDG pada 19-20 April memutuskan mempertahankannya di level 3,5%.

“Ini merupakan suku bunga kebijakan BI terendah sepanjang sejarah,” ujarnya dalam konferensi pers KSSK secara virtual, Senin (3/5).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: IST
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: IST

Konferensi pers tersebut juga dihadiri Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang juga Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa.

Kemudian, dalam menjaga stablitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan dari dampak global dengan kenaikan yield US Treasury, BI terus melakukan stabilitas nilai tukar rupiah dan mekanisme pasar dengan intervensi di pasar baik spot DNDF SBN dari pasar sekunder.

PMI Manufaktur Indonesia
PMI Manufaktur Indonesia

“Stabilisasi nilai tukar erat koordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk menjaga stablitas pasar SBN,” tutur dia.

Selanjutnya, BI mendorong kebijakan makroprudensial dengan mempertahankan ratio countercyclical buffer sebesar nol persen, rasio penyangga makroprudensial 6%, rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial Syariah (PLM Syariah) 4,5% dengan fleksibilitas repo 4,5%.

Ralisasi anggaran PC-PEN 2021 hingga April 2021
Ralisasi anggaran PC-PEN 2021 hingga April 2021

Lebih lanjut BI juga memperkuat rasio intermediasi makroprudensial (RIM) dengan melonggarkan ketentuan loan to value (LTV) untuk KPR menjadi 100% dan uang muka KKB menjadi nol persen serta mendorong penurunan suku bunga kredit dengan Suku Bunga Kredit Dasar (SBDK).

“Dari sisi kebijakan sistem pembayaran, BI mempercepat program-program digitalisasi untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

Kredit Bulanan Tumbuh Positif

Perkembang rupiah terhadap US$
Perkembang rupiah terhadap US$

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, di tengah pandemic Covid-19 yang masih berlanjut, sektor jasa keuangan stabil dan menunjukkan perbaikan. Kredit perbankan mulai tumbuh positif secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 1,43%.

“Kredit industri perbankan masih dalam zona kontraksi sebesar 3,77% secara tahunan (year on year/yoy). Ini karena base effect yang tinggi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, mulai menunjukkan pertumbuhan positif secara mtm sebesar 1,43% atau tumbuh sebesar 0,27% year to date (ytd),” jelas Wimboh.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto: IST
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto: IST

Di sisi lain, Wimboh juga menyebutkan bahwa rasio prudensial sektor keuangan yang berperan penting terhadap stabilitas sektor keuangantetap terjaga dengan baik.

“Hingga Maret 2021, perbankan masih menunjukkan kondisi permodalan yang kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) berada pada level 24,18%,” ucap Wimboh.

Tidak hanya di industri perbankan, gearing ratio industri pembiayaan jugaberada di level yang baik 2,03 kali. Serta risk-based capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing jauh di atas threshold. Kecukupan likuiditas perbankan juga terjaga, tercermin dari alat likuid/ non-core deposit (AL/NCD) berada di level 162,69% dan (AL/DPK) per 21 April 2021 sebesar 35,17%. Keduanya berada di atas threshold yang ditetapkan regulator.

Perkembangan tingkat inflasi
Perkembangan tingkat inflasi

“Dana pihak ketiga (DPK) masih menunjukkan pertumbuhan tinggi sebesar 9,50% (yoy),” imbuh Wimboh.

Pada Maret 2021, OJK juga mencatat risiko kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross membaik menjadi 3,17% dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 3,21%. Di sisi lain, non performing financing (NPF) perusahaan pembiayaan juga membaik ke level 3,74%.

Perkembangan cadangan devisa
Perkembangan cadangan devisa

“OJK tetap fokus memperkuat pengawasan dan surveillance secara terintegrasi guna mendeteksi potensi risiko terhadap SSK. Dan terus mendorong upaya kebijakan yang preemptive dan forward looking untuk membantu percepatan pemulihan sektor riil danperekonomian secara keseluruhan serta menjaga momentum penguatan ekonomi,” terang Wimboh.

Penjaminan LPS

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pihaknya memiliki komitmen yang tinggi dalam menjaga dana nasabah di perbankan. Cakupan penjaminan simpanan bank per Maret 2021 mencapai 99,92% dari total 355 juta rekening, atau 50,15% dari total nominal simpanan.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: IST
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: IST

“Jumlah simpanan sampai dengan Rp 2 miliar per nasabah yang dijamin berkembang, setara dengan 35,1 kali PDB per kapita nasional 2020. Rasio ini jauh di atas rata-rata negara berpendapatan menengah ke atas sebesar 6,25 kali PDB per kapita,” urai Purbaya.

Penjaminan yang dilakukan LPS tersebut meningkat dibandingkan dengan tingkat penjaminan simpanan tahun sebelumnya yang sebesar 33,8 kali dari PDB per kapita.

Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan, untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional, LPS menurunkan tingkat bunga penjaminan. Pada 22 Februari 2021, LPS telah menurunkan tingkat bunga penjaminan (TBP) simpanan rupiah pada bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR) masing-masing 25 basis poin (bps) menjadi 4,25% dan 6,75%. TBP untuk simpanan valuta asing pada Bank Umum juga diturunkan sebesar 25 bps menjadi 0,75%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia

“Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong penurunan biaya dana (cost of fund) perbankan agar suku bunga kredit menjadi turun untuk mendorong pertumbuhan kredit,” imbuh Purbaya.

LPS juga melanjutkan kebijakan relaksasi sebelumnya, seperti relaksasi pengenaan denda atas keterlambatan pembayaran premi oleh bank peserta penjaminan untuk memberikan tambahan ruang likuiditas bagi bank, serta relaksasi penyampaian laporan berkala bank untuk mengurangi beban pelaporan bank. (b1/ns/leo/jn)

Baca juga

https://investor.id/business/sistem-keuangan-dalam-kondisi-normal

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN