Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI: Kenaikan Capital Inflow Berdampak Positif untuk Perekonomian Nasional

Minggu, 22 November 2020 | 14:39 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Meningkatnya jumlah aliran modal asing (capital inflow) yang masuk diyakini akan membawa dampak positif untuk perekonomian domestik. Sebab peningkatan arus modal ini akan memperkuat neraca finansial pada  neraca pembayaran dan menambah pasokan valuta asing dalam menopang kestabilan nilai tukar rupiah.

Catatan Bank Indonesia (BI) menunjukkan pada 16 sampai 19 November 2020 atau minggu ke-3 November, aliran modal asing neto masuk ke pasar keuangan domestik mencapai Rp 8,53 triliun. Ini melanjutkan tren kenaikan beberapa pekan sebelumnya yaitu Rp 3,81 triliun pada minggu pertama November dan Rp 7,18 triliun pada minggu ke-2 November.

“Setelah terjadi outflows dari SBN (Surat Berharga Negara) dan saham pada periode  Covid-19 shock sejak akhir Januari sampai ke akhir Maret. Indikasi kembalinya dana asing mulai terlihat sejak Oktober dan meningkat di awal November 2020,” ucap Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsyah saat dihubungi pada Minggu (22/11).

Nanang Hendarsah. Foto: IST
Nanang Hendarsah. Foto: IST

Nanang mengatakan kenaikan jumlah capital inflow ini terjadi karena faktor dari dalam dan luar negeri. Untuk faktor dari luar negeri (pull factor) yaitu kemungkinan besar beralihnya kepemimpinan politik di Amerika Serikat, yang membuat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mereda.

Selain itu, injeksi masif likuiditas dollar oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reverse) dan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) dalam rangka quantitative easing yang akan berkepanjangan dengan suku bunga Amerika dan Eropa bertahan rendah hingga 2023.

“Kebijakan fiskal Amerika masih menghadapi tantangan karena pemilu 3 November 2020 menghasilkan balance of power. Di mana presidensi dan DPR dikuasai demokrat sementara senat masih akan dikuasai republik. Kasus Covid dunia yang masih meningkat juga perlu diwaspadai akan mempengaruhi dinamika pasar,” ucap Nanang.

Sedangkan dari sisi domestik atau pull factor yang meningkatkan alirang modal asing yaitu yield SBN yang masih cukup tinggi relatif bila dibandingkan negara berkembang lainnya. Defisit transaksi berjalan juga diperkirakan semakin rendah. Nilai tukar rupiah juga masih berada di bawah fundamentalnya (undervalued).

“Sedangkan inflasi yang diperkirakan akan stabil di level yang rendah,” ucap Nanang.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN