Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. ( Foto: Istimewa )

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. ( Foto: Istimewa )

Dorong Transformasi Ekonomi, Pemerintah Kurangi Ekspor Bahan Mentah

Rabu, 16 September 2020 | 17:39 WIB
Arnold Kristianus

JAKARTA, investor.id – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah terus berupaya untuk melakukan transformasi ekonomi, salah satunya dengan berinvestasi pada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah. Dalam hal ini pemerintah menghentikan ekspor untuk produk barang mentah, khususnya untuk nikel.

“Sudah saatnya Indonesia tidak lagi melakukan ekspor produk yang sifatnya barang mentah. Hari ini kita lihat nikel, kita membuat larangan untuk ekspor nikel,” ujar Bahlil Lahadalia dalam HSBC Economic Forum, Rabu (16/9).

Untuk meningkatkan nilai tambah nikel, pemerintah membangun hilirisasi produk mentah nikel. Sedangkan kedepannya Indonesia harus menghasilkan produk baterai sendiri. Sebab pada 2025 konsep green energy di hampir semua belahan dunia sudah mulai fokus pada bagaimana membangun alat transportasi dengan baterai.

“Di Indonesia saya pikir salah satu negara yang harus kita syukuri karena Allah begitu memberikan sumber daya alam yang melimpah, di mana cadangan ore (nikel) dunia itu 20% ada di Indonesia,” kata Bahlil.

Ia menambahkan bahwa Indonesia juga mempunyai material lain yakni sebanyak 85% dari total material untuk mematuhi pembangunan baterai itu ada di Indonesia. Untuk power plant, Indonesia memiliki pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kalimantan Utara sebesar 13 ribu megawatt (MW), dan di Mamberamo, Papua sebesar 247 ribu MW.

“Fokus kami yaitu memberikan sesuatu yang maksimal. Saya yakin,  Indonesia akan menjadi negara yang akan memberikan kontribusi dalam melakukan supply terhadap negara-negara yang lain, khususnya di bidang otomotif nantinya,” katanya.

Lebih lanjut Bahlil menuturkan, beberapa perusahaan Tiongkok dan Korea hari ini sudah melakukan proses negosiasi dengan Pemerintah Indonesia termasuk dengan badan usaha milik negara (BUMN) untuk menjalankan hal tersebut. Negosiasi bahkan sudah memasuki tahap head of agreement (HOA).

 “Untuk kedepannya Indonesia akan mempunyai peran penting sebab tidak ada negara di Asia Tenggara yang wilayahnya sama dengan Indonesia, memiliki sumber daya alamnya besar, jumlah market-nya 43% dari total penduduk Asia Tenggara. Itu ada di Indonesia,” tutur dia.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN