Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi. Foto: youtube

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi. Foto: youtube

Ekonom: Pengembangan SDM Harus Dimulai dari Pembenahan Kurikulum

ARK, Senin, 25 Februari 2019 | 19:06 WIB

JAKARTA – Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) maka pemerintah harus melakukan perbaikan di sisi kurikulum. Sebab, sekolah kejuruan masih menjadi penyumbang terbesar untuk pengangguran.

“Kurikulum dan kesungguhan pemerintah dalam Balai Latihan Kerja(BLK)nya. Kalau dilihat di Jerman BLK disana ada 133 ribu orang yang ditempatkan disana sebagai staf dan instruktur. Sementara di Indonesia hanya memiliki 1200 orang. Oleh karenanya hal sepert ini yang membuat kita secara kapasitas terbatas,” ucap Fithra pada akhir pekan.

Sebagian besar tenaga kerja masih berasal dari lulusan sekolah dasar. Sementara adanya era industrialisasi dan digitalisasi membuat tenaga kerja harus kompetitif. Tenaga kerja saat ini dinilai belum kompetibel karena tingkat pendidikan dan soal kurikulum.

"Mengapa tidak kompetibel? Karena secara pendidikan rendah dan secara kurikulum di universitas dan lembaga profesional dan sekolah kejuruan memang tidak terkoneksi dengan industri. Oleh karenanya pengembangan SDM harus menjadi sebuah focal point," kata Fithra.

Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan SDM.

Pertama, Kemenaker menyiapkan grand design pelatihan vokasi yang disusun berdasarkan kebutuhan tenaga kerja pada prioritas pembangunan nasional. Kedua, mengembangkan pemagangan serta program triple skilings seperti skilling, upskilling dan reskilling. Ketiga melakukan revitalisasi BLK. Keempat membuat akses seluas luasnya agar angkatan kerja dapat mengakses pelatihan vokasi.

“Akses dibuka dengan menghilangkan syarat umur dan pendidikan untuk mengikuti pelatihan di BLK, serta peningkatan mutu pelatihan vokasi,” kata Bambang.

Namun dalam pengembangan SDM ini pihaknya masih menghadapi kendala. Khususnya sinergi dan kontribusi dari sektor industri. Pihaknya melihat konstribusi industri secara umum terhadap pengembangan kualitas SDM belum seperti yang diharapkan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, untuk mengembangkan SDM, universitas tidak hanya menghasilkan lulusan yang pintar secara akademis. Namun juga menghasilkan lulusan yang bisa langsung masuk ke dunia kerja. Dalam hal ini kreatifitas anak juga harus terus dilatih di sekolah.

“Tidak hanya lulus sekolah dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) baik, tetapi bisa langsung masuk tenaga kerja. Bagaimana dia memiliki kreatifitas sehingga dia bisa menghasilkan ide kreatif,” ujar Bambang.

Industri harus pada level yang bisa menjaga daya saing otomatis dari segi pendidikan bisa diperbaiki. Walaupun ada otomatisasi, tetap diperlukan pekerja yang memiliki kemampuan tertentu.

Disinilah pentingnya peran BLK dan pendidikan vokasi. Bambang mencontohkan, Jerman yang keadaan industrinya bagus karena memiliki BLK yang baik.

“Sistemnya sinkron saat ada di BLK siswa tidak hanya berada di kelas. Bisa dibagi satu semester berada di kelas dan satu semester praktik di lapangan atau tiga hari di kelas dan tiga hari praktik. Sistem seperti ini akan menghasilkan lulusan yang memilik kemampuan teori dan praktik yang seimbang,” ucap Bambang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA