Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Erick Thohir

Erick Thohir

SUPERHOLDING BATAL, FOKUS KE BISNIS INTI

Erick Thohir Tata Ulang BUMN

Prisma Ardianto/Kunradus Aliandu, Selasa, 3 Desember 2019 | 17:18 WIB

JAKARTA, investor.id – Menteri BUMN Erick Thohir menyiapkan sejumlah strategi untuk menata ulang badan usaha milik negara (BUMN). BUMN ke depan harus konsolidasi dan fokus kembali ke bisnis inti. Jumlah anak dan cucu perusahaan yang terlampau banyak harus dikaji ulang. Selain itu, rencana pembentukan super holding BUMN juga dibatalkan dan akan diganti dengan konsep subholding.

Kementerian BUMN juga akan memangkas birokrasi di tubuh BUMN dengan mengurangi jumlah direksi dan komisaris serta memprioritaskan restrukturisasi utang. Ke depan, BUMN juga didorong untuk dapat ekspansi ke luar negeri.

Demikian arah kebijakan pembenahan dan pengembangan BUMN ke depan yang diungkapkan oleh Erick Thohir di depan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (2/12).

Strategi Tata Ulang BUMN
Strategi Tata Ulang BUMN

Erick menyebutkan beberapa strategi yang akan ditempuh untuk pembenahan dan pengembangan BUMN ke depan. Pertama, reformasi birokrasi BUMN, sesuai dengan misi Presiden Joko Widodo. Dia menyebutkan baru saja memangkas birokrasi yang sangat panjang di Kementerian BUMN, dengan mengurangi jumlah deputi dari tujuh menjadi tiga, serta mengangkat dua wakil menteri BUMN yang benar-benar fokus pada portofolio 142 BUMN.

“Kementerian BUMN harus menjadi kementerian yang service oriented kepada kementeriannya sendiri, tidak memperpanjang birokrasi kepada BUMN-nya. Tiga deputi nanti akan fokus pada hukum, SDM, dan keuangan,” kata Erick.

Erick juga menekankan bahwa BUMN harus kembali ke bisnis inti (core business). Dia menilai ada sejumlah BUMN yang bisnisnya tidak fokus. Itu semua harus disinkronisasi dan dikonsolidasikan agar BUMN kembali ke fokus bisnis inti.

Langkah lain adalah mengevaluasi keberadaan anak dan cucu BUMN yang jumlahnya terlampau banyak. Pembentukan anak dan cucu perusahaan sebenarnya mengkerdilkan perusahaan yang tadinya sudah untung. Namun bukan berarti semua anak perusahaan sakit. Seperti Telkomsel sebagai anak usaha Telkom sangat sehat. Juga patungan Krakatau Steel dengan Posco sebagai anak usaha juga sehat.

BUMN dengan total aset terbesar
BUMN dengan total aset terbesar

Dalam konteks itu, Erick akan mengeluarkan peraturan menteri (permen) sebagai panduan jika BUMN hendak membentuk anak atau cucu usaha. “Saya tidak akan menghalangi BUMN membuat anak perusahaan, tapi kalau alasannya tidak jelas maka akan saya setop. Sebab, saya tidak mau perusahaan-perusahaan BUMN yang notabene masih sehat, ke depannya justru digerogoti oknum. Saya tidak bicara direksi, tapi oknum yang sengaja menggerogoti perusahaan yang sehat-sehat itu,” tegasnya.

Dia mencontohkan PT Krakatau Steel Tbk yang memiliki utang hampir Rp 40 triliun dan mempunyai 60 anak-cucu perusahaan. “Kalau bapak ibu tanya, apakah saya bisa me-review KS dalam waktu seminggu, saya angkat tangan,” tuturnya.

Krakatau Steel. Foto: Defrizal
Krakatau Steel. Foto: Defrizal

Erick mengingatkan agar perusahaan BUMN mengantisipasi dampak disrupsi. Bisa jadi eksistensi perbankan dan industri telekomunikasi pada 10 tahun ke depan belum tentu masih eksis.

Berdasarkan data Investor Daily, pada 2018 terdapat 113 BUMN yang berada di 11 sektor usaha dengan total aset Rp 8.200 triliun dan ekuitas Rp 2.600 triliun. Pendapatan BUMN mencapai Rp 2.300 triliun dan membukukan laba bersih Rp 188 triliun. Sepuluh BUMN terbesar menguasai aset 84% atau setara Rp 6.768 triliun. Sedangkan laba 10 BUMN teratas mencapai Rp 171 triliun atau 90% dari total perolehan laba BUMN tahun 2019.

Superholding Batal

Erick Thohir. Foto: IST

Erick menyatakan, Kementerian BUMN tidak akan melikuidasi perusahaan yang sakit karena kebijakan sebelumnya, tapi akan memerger.

Pihaknya sudah bertemu dengan top 30 CEO BUMN dan beserta komisaris utama BUMN tersebut untuk melakukan review bulanan bersama yang hanya dihadiri dirut dan komut saja. “Kenapa? Karena komut bertanggung jawab kepada komisarisnya, dan dirut bertanggungjawab kepada direksinya. Saya tidak mau ketika saya me-review sebuah perusahaan, direksi saling tunjuk. Yang lebih gampang kita copot saja dirutnya,” kata dia.

Hal lain yang akan dilakukan Erick adalah menerbitkan permen untuk menjaga transparansi BUMN. “Tender itu harus transparan. Kemarin terjadi hal yang tidak baik ketika ada kasus-kasus OTT (operasi tangkap tangan) atas direksi BUMN. Ini untuk memperbaiki citra BUMN. Sangat berat jika kepercayaan publik terhadap BUMN tidak ada, ini akan terjadi sistemik,” kata dia.

Langkah berikutnya adalah restrukturisasi utang BUMN, yang bakal memakan waktu cukup panjang. “Kita harus tahu, mana utang yang salah, mana utang yang benar. Selama utang itu dipakai untuk pengembangan dan kegiatan yang baik, tentu itu utang yang benar. Tetapi kalau berutang untuk kegiatan yang tidak baik, apalagi teridentifikasi besarannya bodong, ini yang harus kita bereskan. Sudah banyak utang yang mau jatuh tempo. KS Desember ini harus restrukturisasi utang. TPPI di Pertamina itu sudah hampir 15 tahun, tidak ada kesepakatan atau restrukturisasi. Insya Allah TPPI pada akhir Desember ini bisa kita restrukturisasi total, sehingga TPPI bisa sehat,” ujar Erick.

BUMN dengan laba terbesar
BUMN dengan laba terbesar

Setelah restrukturisasi utang, kata Erick, pihaknya akan perbaiki model bisnis masing-masing BUMN. Contoh konkret mengenai perusahaan leasing kapal. Bagaimana perusahaan leasing kapal bisa hidup kalau sejarahnya adalah bisnis leasing pesawat terbang. “Apalagi, tiba-tiba masuk ke bisnis hotel. Jadi semua BUMN itu punya bisnis hotel. Nah, semua itu harus dikonsolidasikan sesuai dengan core business-nya. Jangan sampai terjadi overlapping sehingga kontraproduktif. Harus fokus ke core business,” kata dia.

Dalam konteks itu pula, Erick menegaskan bahwa konsep super holding BUMN –semacam Temasek di Singapura --yang diwacanakan oleh menteri-menteri sebelumnya akan dibatalkan, diubah menjadi subholding yang fokus pada masing-masing kegiatan unit usaha. Contoh, Pelindo I, II, III, dan IV selama ini dibagi berdasar rayon, nanti dibagi berdasar fungsi. Karena selama ini terjadi kanibalisasi di antara mereka.

Tahapan berikutnya yang disasar Erick adalah mendorong BUMN untuk ekspansi ke luar negeri. “Jadi tidak hanya market Indonesia diambil oleh pihak asing, tapi kita berkompetisi juga dengan pihak asing untuk punya market yang lebih besar,” tuturnya.

Erick berharap pula BUMN berperan dalam ketahanan pangan dan energi karena penduduk Indonesia sangat besar, yang pasti akan jadi masalah ke depan.

Menaikkan Nilai Perusahaan

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV

Sementara itu, Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengapresiasi langkah strategis Menteri BUMN Erick Thohir dalam membenahi BUMN. Menurut dia, upaya tersebut perlu mendapatkan dukungan nyata dari seluruh pihak terutama komunitas BUMN dengan segenap sumber dayanya.

“Saya kira yang direncanakan Menteri BUMN Erick Thohir merupakan langkah strategis yang baik dan positif dalam rangka memperbaiki kinerja BUMN secara menyeluruh melalui konsolidasi ulang BUMN dengan mengembalikan bisnis inti supaya lebih fokus, efektif, efisien, dan berdaya saing. Ini semacam mengembalikan roh BUMN supaya kembali ke khittah-nya sebagai business entity dengan motif profit (kinerja unggul) dengan tetap aktif menjalankan peran sebagai agen pembangunan,”ujarnya saat dihubungi Investor Daily, Senin (2/12).

Ryan mengatakan, rencana pengkonsolidasian (regrouping) BUMN juga merupakan langkah strategis untuk lebih mendayagunakan BUMN sesuai dengan kapasitas, pengalaman, dan bisnis intinya sehingga mampu meningkatkan corporate value BUMN tersebut. Ini lebih tepat disebut dengan strategi rightsizing (membetulkan struktur organisasi) BUMN agar lebih fit and agile dalam menyikapi dinamika internal dan eksternal BUMN.

Lana Soelistianingsih, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia; Ekonom PT Samuel Aset Manajemen
Lana Soelistianingsih, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia; Ekonom PT Samuel Aset Manajemen

Sedangkan ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan, apapun langkah yang ditempuh untuk memperbaiki BUMN, yang penting adalah mendatangkan efisiensi.

“Dari aspek makronya yang penting BUMN bisa efisien dan profitable. Kalau nggak profit, ya sepatutnya dipertimbangkan untuk dijual atau dimerger,”ujarnya.(hg)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA