Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo bersama Gubernur Jatim Khofifah Indah Parawansa saat pembukaan Festival Ekonomi Syariah Indonesia bertema Sinergi Membangun Ekonomi Syariah Indonesia di Grand City Surabaya, Rabu (6/11/2019). Foto:Amrozi Amenan

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo bersama Gubernur Jatim Khofifah Indah Parawansa saat pembukaan Festival Ekonomi Syariah Indonesia bertema Sinergi Membangun Ekonomi Syariah Indonesia di Grand City Surabaya, Rabu (6/11/2019). Foto:Amrozi Amenan

FESyar Indonesia di Surabaya Resmi Dibuka

Amrozi Amenan, Rabu, 6 November 2019 | 23:02 WIB

SURABAYA, investor.id -Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo secara tesmi membuka Festival Ekonomi Syariah Indonesia bertema “Sinergi Membangun Ekonomi Syariah Indonesia" di Grand City Surabaya, Rabu (6/11/2019).

Dalam kesempatan itu, Dody menyatakan, bahwa acara ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan Festival Ekonomi Syariah, yang telah dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi stakeholders dari beberapa daerah di seluruh Indonesia.

FESyar putaran pertama berlangsung di Palembang yang mewakili regional Sumatera pada Agustus lalu dan berhasil menorehkan capaian yang cukup memuaskan. Diantaranya, dari sisi pelaksanaan fair dikunjungi kurang lebih 11 ribu orang selama 3 hari dan transaksi business matching yang mencapai Rp 2,11 triliun, atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 210 miliar.

Sementara itu, dari segi sharia forum, FESyar Sumatera menaruh perhatian yang sangat besar terhadap upaya mewujudkan skema halal value chain yang mapan dan bisa melibatkan potensi yang besar dalam lingkup kerjasama antar daerah, khususnya dengan pembentukan halal-hub yang bisa menampilkan keunggulan komparatif pada setiap daerah.

Diskusi yang berkembang di dalam FESyar ini menjadi pijakan awal, kesiapan Sumatera dalam melaksanakan kajian serta implementasi ekosistem halal value chain, dengan fokusnya mewujudkan kemandirian pada lembaga pendidikan Islam serta kesejahteraan bagi pelaku usaha skala mikro dan kecil lainnya.

"Kita tentu mengharapkan adanya follow up yang positif di wilayah Sumatra dan sekitarnya untuk membawa setiap ide segar yang dikemukakan tidak hanya sekadar berhenti sampai denganperencanaan, namun juga terbukti menjadi kenyataan," kata Dody.

Dody Budi Waluyo

FESyar Sumatera juga merupakan FESyar pertama yang menyelenggarakan Kampanye GISWAF, yakni sebuah instrumen komunikasi yang melibatkan partisipasi publik secara luas dalam mendukung pemanfaatan wakaf secara produktif.

Kemudian, pada putaran berikutnya, FESyar yang kedua dilaksanakan pada September di Banjarmasin, yang mewakili kepesertaan regional Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Hasil yang dicapai FESyar KTI juga tidak kalah menggembirakan. Diantaranya, tingkat kunjungan yang mencapai 41 ribu orang pada saat fair yang disertai komitmen business matching senilai RP 2,61 triliun, atau  meningkat cukup tinggi melebihi capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,7 triliun.

Pada pelaksanaan sharia forum, FESyar KTI mengangkat materi yang cukup relevan dengan isu terkini di bidang ekonomi syariah, dan merupakan dua hal yang tidak mudah untuk dipenuhi di kawasan KTI dengan segala tantangan infrastruktur yang dihadapi, yakni mengenai pentingnya perolehan jaminan halal serta digitalisasi aspek bisnis pada UMKM Syariah.

Pelajaran berharga yang bisa  dipetik dari sini adalah tentang sustainabilitas pelaksanaan pengembangan ekosistem ekonomi syariah, yang pada prinsipnya hanya bisa ditempuh ketika pelaku usaha didalamnya telah mampu memenuhi aspek dasar jaminan sertifikasi halal yang menjadi preferensi bagi kebanyakan publik saat ini, serta inovasi yang terus mengikuti kebutuhan zaman.

Pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Indonesia di Surabaya, Rabu (6/11).
Pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Indonesia di Surabaya, Rabu (6/11).

"Semoga kedua FESyar yang telah dilaksanakan dengan sukses tersebut, akan menjadi bekal yang berharga bagi kita semua, untuk bisa merumuskan strategi dan arah kebijakan yang tepat dalamnmembaca kebutuhan masyarakat akan produk dan layanan jasa di bidang eksyar yang lebih baik di masa akan datang," harap Dody.

Adapun dalam putaran final penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah secara Nasional di Surabaya, Jatim akan menjadi tuan rumah dan dalam tiga hari ke depan, yang secara komprehensif mampu memadukan keterlibatan seluruh komponen utama penggerak sektor ekonomi dan keuangan syariah didalamnya.

Menurut Dody, FESyar Indonesia tahun ini mengambil tema “Sinergi Membangun Ekonomi Syariah Indonesia”. Tema ini diambil dengan kesadaran akan pentingnya komitmen yang kuat dalam mewujudkan sinergi antar pemangku kepentingan di Indonesia untuk lebih meningkatkan peranan ekonomi dan keuangan syariah bagi perekonomian nasional.

Sinergi yang erat dalam naungan KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah) tersebut tentunya menjadi penting untuk terus dijaga dan menjadi modal yang besar dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia di masa yang akan datang.

Sinergi juga menjadi prasyarat penting yang harus dipenuhi untuk memperkuat pelaksanaan 4 strategi utama pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di tanah air, seperti yang tercantum dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019 – 2024, yang meliputi diantaranya penguatan rantai nilai halal,  penguatan sektor keuangan syariah, penguatan usaha mikro, kecil dan menengah dan pemanfaatan ekonomi digital.

FESyar Indonesia sendiri pada tahun ini merupakan wajah baru dari pelaksanaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di daerah, yang telah terselenggara dengan sukses di Surabaya dalam lima tahun terakhir dan melahirkan beragam inisiatif yang menjadi rujukan nasional.

Melihat keberhasilannya tersebut, ISEF didorong untuk memasuki level yang berbeda dengan menjadi event yang tidak hanya fokus pada skala domestik, namun juga menyentuh pada level global dengan keterlibatan investor dan forum internasional syariah yang lebih luas, dan nantinya akan diselenggarakan di Jakarta.

Namun demikian,  Dody menyadari bahwa fondasi yang telah dibangun dengan baik oleh ISEF selama ini di daerah, khususnya wilayah Jatim, tentunya tidak akan bisa ditinggalkan begitu saja. Kebanggaan Jatim sebagai salah satu daerah yang memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional akan tetap terjaga dengan kehadiran FESyar Indonesia yang mewakili penyelenggaraan event dalam skala nasional dan menjadi puncak kegiatan FESyar lainnya di seluruh Indonesia.

Dody mengatakan FESyar Indonesia di Jatim dan ISEF di Jakarta akan saling melengkapi, dengan fokusnya masing-masing pada penguatan di sisi domestik, dan juga perluasan rekognisi dalam skala internasional. Pagelaran Indonesia Sharia Economic Festival di Jakarta Convention Centre akan berlangsung pada 12-16 November 2019.

Menurut dia, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini tidaklah ringan. Harus diakui, bahwa dunia yang ada di hadapan memang tidak sedang baik-baik saja, bahkan dalam beberapa kondisi,kembali memunculkan risiko yang berdampak negatif pada tumbuh kembang perekonomian domestik.

Indonesia dan negara lainnya di kawasan, tidak terkecuali ikut terpapar kondisi yang kurang menguntungkan bagi kinerja sektor ekstenal di dalam negeri. Keadaan ini kemudian diperparah dengan proyeksi pada pertumbuhan ekonomi dunia yang belum menunjukkan pemulihan yang berarti, disertai berlanjutnya risiko ketidakpastian hubungan dagang antar negara utama di dunia serta isu geopolitik lainnya yangmasih membayangi.

"Meski demikian, dalam kondisi yang penuh tantangan tersebut, kita harus bersyukur bahwa release terbaru data pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaru menunjukkan jika momentum pertumbuhan di dalam negeri ternyata bisa tetap terjaga dan cukup kuat di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang makin melambat," katanya.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo bersama Gubernur Jatim Khofifah Indah Parawansa saat pembukaan Festival Ekonomi Syariah Indonesia bertema Sinergi Membangun Ekonomi Syariah Indonesia di Grand City Surabaya, Rabu (6/11/2019). Foto:Amrozi Amenan
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo bersama Gubernur Jatim Khofifah Indah Parawansa saat pembukaan Festival Ekonomi Syariah Indonesia bertema Sinergi Membangun Ekonomi Syariah Indonesia di Grand City Surabaya, Rabu (6/11/2019). Foto:Amrozi Amenan

Perekonomian Indonesia pada triwulan III tumbuh 5,02% (yoy), atau relatif sama dengan capaian triwulan sebelumnya yang sebesar 5,05% (yoy), didukung permintaan domestik yang tetap terjaga dan Kinerja sektor eksternal yang menguat di tengah permintaan dan harga komoditas global yang masih menghadapi tekanan.

Secara khusus, capaian positif tersebut tentunya tidak bisa terlepas dari kinerja perekonomian daerah yang cukup baik, khususnya di wilayah Jawa (tumbuh 5,56% (yoy)), Sumatera (tumbuh 4,49% (yoy)), Kalimantan (tumbuh 5,92% (yoy)), dan Bali – Nusa Tenggara(tumbuh 5,28% (yoy)).

BI juga mengapresiasi perekonomian Jawa Timur pada Triwulan III ini yang masih terjaga di angka 5,32% (yoy) meski lebih rendah dibandingkan Triwulan sebelumnya yang sebesar 5,72% (yoy).

Tantangan yang akan dihadapi Jawa Timur ke depan tentunya tidak semakin mudah, terlebih ketika risiko global yang masih menyelimuti kinerja sektor eksternal di daerah [Jatim mengalami kontraksi ekspor dan impor yang lebih dalam].

"Kami berpesan, dalam kondisi yang penuh dengan  ketidakpastian seperti sekarang ini, paparan angka ataupun indikator makroekonomi lainnya tentu tidak akan cukup untuk bisa memberi keyakinan dan gambaran optimisme yang utuh bagi pelaku usaha dalam menghadapi situasi perlambatan yang sudah semakin nyata.  Perlu dilakukan pendekatan yang lebih aktif dan persuasif kepada mereka, serta stimulus usaha lainnya yang kiranya diperlukan untuk  menjaga ketahanan serta confidence level bagi pelaku usaha, khususnya kalangan industri di pulau Jawa agar mampu memenuhi  performa yang diharapkan," papar Dody.

Pagelaran FESyar Indonesia kali ini diharapkan juga menjadi ajang yang  bisa memperkenalkan inisiatif dan terobosan di bidang ekonomi dan  keuangan syariah, dan menghadirkannya sebagai centre of excellence  bagi lembaga-lembaga dalam payung KNKS.

Dody berharap, sinergi yang baik antar lembaga dengan didukung implementasi program yang inovatif dan semakin berorientasi pada kualitas, dapat menjadi daya dorong yang optimal tidak hanya untuk melaksanakan target pengembangan Eksyar jangka panjang,  namun juga percepatan implementasinya pada beberapa sektor atau klaster industri halal yang dinilai potensial serta berdaya saing tinggi.

"FESyar Indonesia bukanlah milik Bank Indonesia semata, FESyar Indonesia akan selamanya menjadi milik mereka yang memiliki keinginan kuat untuk  berkolaborasi dalam mewujudkan pengembangan ekonomi dan  keuangan syariah yang lebih maju dan terdepan di Indonesia," pungkasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA