Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski

Fokus Pasar: Amerika dan Tiongkok Kembali Harmonis

Nabil Alfaruq, Jumat, 8 November 2019 | 12:03 WIB

JAKARTA, investor.id  — Amerika dan Tiongkok telah sepakat untuk menurunkan tarif barang-barang secara bertahap. Dalam kurun waktu 2 minggu terakhir, para negosiator telah melakukan diskusi yang serius dan konstruktif, dimana kedua negara pada akhirnya setuju untuk menghapus tarif tambahan secara bertahap karena kemajuan yang dicapai dalam diskusi dan perjanjian tersebut.

Pilarmas Sekuritas menilia, harga yang diberikan Tiongkok, pada akhirnya telah dibayar oleh Amerika. “Kami cukup senang mendengar berita tersebut, karena kami melihat bahwa Trump pada akhirnya mau untuk membayar harganya untuk sebuah kesepakatan,” ujarnya, Jumat (8/11).

Penasihat Presiden Kellyanne Conway menambahkan, saat ini Donald Trump tengah cemas, pasalnya negosiasi sedang berlangsung, namun waktu dan tempat untuk penandatanganan tersebut masih belum ditentukan.

Sementara itu Tiongkok mengatakan, jika pihaknya dan Amerika mencapai kesepakatan fase pertama, kedua belah pihak harus memutar kembali tarif tambahan yang ada dalam proporsi yang sama secara simultan dan didasarkan kepada konten perjanjian, dimana hal tersebut merupakan syarat penting untuk mencapai kesepakatan.

Dari Benua Eropa Lain, Bank of England pada akhirnya belum melakukan pemotongan tingkat suku bunga. Namun, Michael Saunders dan Jonathan Haskel mendukung pemotongan tingkat suku bunga sebanyak 25 bps, dimana hal ini akan menyebabkan poundsterling menjadi jatuh.

“Hal tersebut membuat suasana menjadi suram, karena pembuat kebijakan telah menginsyaratkan penurunan dalam aktivitas ekonomi yang dapat mendorong pelonggaran kebijakan,” ujar Pilarmas Sekuritas.

Pada akhirnya efek Brexit memberikan dampak terhadap pertumbuhan Inggris secara keseluruhan, dan akan terus mengalami penurunan apabila Brexit tidak diselesaikan lebih cepat.

Dari dalam Negeri, Bank Indonesia (BI) menyatakan cadangan devisa pada Oktober 2019 mengalami kenaikan 2% menjadi US$ 126,7 miliar dari bulan sebelumnya US$ 124,3 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

“Hal ini merupakan sesuatu yang sangat baik karena diatas standar kecukupan internasional yaitu sekitar 3 bulan,” ujar Pilarmas Sekuritas.

Peningkatan cadangan devisa pada Oktober 2019 dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah, penerimaan devisa migas, dan penerimaan valas lainnya. Ke depannya, Bank Indonesia melihat cadangan devisa tetap memadai yang didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang diproyeksikan akan kembali membaik. (c03)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA