Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

Harga Pangan Picu Inflasi November 0,14%

Triyan Pangastuti, Selasa, 3 Desember 2019 | 14:55 WIB

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi selama November 2019 sebesar 0,14%, lebih rendah dibandingkan November 2018 sebesar 0,27%. Kenaikan harga pangan menjadi pemicu inflasi November lalu.

“BPS mencatat, tingkat inflasi pada November lalu 0,14%. Dengan angka tersebut, tingkat inflasi tahun kalender (Januari hingga November 2019) atau year to date mencapai 2,37%. Sedangkan tingkat inflasi tahun kalender atau year on year (yoy) mencapai 3,00%,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Senin (2/12).

Ia mengatakan, sumbangan inflasi berasal dari kelompok bahan makanan mencapai 0,37% dan memberikan andil inflasi paling besar yakni 0,07%. Bawang merah tercatat memberikan andil inflasi 0,07%, tomat sayur 0,05%, daging ayam ras 0,03%, telur ayam ras 0,01%, sedangkan beberapa sayuran dan buah-buahan 0,1%.

Namun, ada sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi terhadap kelompok bahan makanan, yakni cabai merah sebesar 0,08%, serta ikan segar dan cabai rawit yang memberikan andil masing-masing 0,2%.

“Kelompok bahan makanan menyumbang setengah inflasi secara keseluruhan. Inflasi November 2019 lebih tinggi dibanding bulan lalu," ujar Suhariyanto.

Inflasi Indonesia
Inflasi Indonesia

Namun demikian, lanjut dia, target inflasi tahun ini kemungkinan akan tercapai. Dalam APBN 2019, asumsi inflasi dipatok 3,5% (yoy).

Ia menambahkan, pada Desember, bisa lebih tinggi, karena ada perayaan Natal dan persiapan Tahun baru. ”Angka inflasi pada 2 tahun sebelumnya, di Desember 2017 inflasi 0,71% dan Desember tahun 2018 0,62%. Kami akan melihat Desember 2019, tapi perlu diantisipasi, sebab permintaan konsumsi masyarakat meningkat menjelang liburan dan persiapan Natal dan Tahun Baru,” tandasnya.

Transportasi Deflasi

Suhariyanto mengatakan lebih lanjut, berdasarkan kelompok pengeluaran, hanya kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami deflasi sebesar 0,07%. Sementara itu, seluruh kelompok pengeluaran lain mengalami inflasi.

“Kelompok makanan jadi, rokok, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,25% dan memberikan andil sebesar 0,04%. Rokok kretek dan rokok kretek filter memberikan andil inflasi paling besar pada kelompok ini, masing-masing 0,01%,” paparnya.

Suhariyanto mengatakan, sejak beberapa bulan terakhir, harga rokok di level konsumen mulai naik secara perlahan, mengantisipasi rencana kenaikan tarif cukai rokok pada Januari mendatang. Harga rokok kretek filter sudah meningkat 0,70%.

Kepala BPS Suhariyanto. Foto: youtube
Kepala BPS Suhariyanto. Foto: youtube

Kenaikan harga rokok sudah terjadi di 50 kota IHK, seperti di Sibolga, Tegal, Madiun, Semarang, Pontianak, dan Bekasi. “Memang kalau dilihat rokok sejak bulan lalu sudah meningkat di tingkat pedagang eceran. Tampaknya para pedagang mengantisipasi kenaikan rokok Januari nanti, dengan menaikkan tipis-tipis, secara gradual," tutur dia.

Kelompok sandang, lanjut dia, tercatat juga mengalami inflasi sebesar 0,03%, kesehatan 0,23%, serta perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,12%. Namun, andil kelompok-kelompok tersebut terhadap inflasi hanya 0,00% hingga 0,01%.

"Menurut komponennya, andil inflasi paling besar diberikan oleh harga bergejolak sebesar 0,07%, sedangkan inflasi inti memberikan andil 0,06%, dan harga yang diatur pemerintah 0,01%. Kita berharap inflasi di bulan berikutnya, hingga Desember, tetap terkendali, sehingga sepanjang 2019 di bawah target pemerintah 3,5%," ujarnya.

Adapun berdasarkan wilayah, dari 82 kota IHK, inflasi pada November 2019 terjadi di 57 kota, sedangkan 25 kota lainnya deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 3,3% dan terendah di Malang 0,01%. Sementara itu, deflasi tertinggi di Tanjung Pandan sebesar 1,06% dan terendah di Batam dan Denpasar 0,01%.

Inflasi 2020

Pesawat Garuda Indonesia
Pesawat Garuda Indonesia

Sementara itu, sejumlah faktor yang bisa memengaruhi inflasi tahun depan terkait kebijakan penaikan tarif cukai rokok tahun 2020 menjadi 23%, menghapus subsidi listrik 900 volt ampere untuk rumah tangga mampu, serta memangkas subsidi solar menjadi Rp 1.000 per liter dan subsidi elpiji 3 kg. Selain itu, pemerintah berencana meningkatkan iuran BPJS Kesehatan.

Suhariyanto menilai, kenaikan tarif iuran peserta BPJS Kesehatan tahun depan tidak akan memengaruhi laju inflasi 2020. Hal ini terjadi karena berdasarkan manual penghitungan CPI Index atau Indeks Inflasi, asuransi tak masuk dalam penghitungan.

"Kalian bisa cek nanti, yang namanya life insurance maupun non-life insurance tidak masuk dalam konsumsi, karena dia masuk dalam transfer. Jadi, yang dimasukkan ke dalam konsumsi itu adalah biaya administrasi," ujarnya.

Untuk rencana pemangkasan subsidi listrik dan menaikkan tarif listrik di tahun depan, ia masih belum bisa mengkalkulasikan seberapa besar dampaknya terhadap inflasi. Sebab, kebijakan itu masih belum diputuskan.

“Tapi jika membicarakan tarif dasar listrik, karena bobotnya besar, pasti akan berpengaruh. Tapi ini belum positif, karena harapannya tentu tidak ada kebijakan yang terlalu drastis sehingga memengaruhi inflasi administered price,” ujarnya.

Inflasi Terkendali

Destry Damayanti. Foto: Majalah Investor/ Uthan A Rachim
Destry Damayanti. Foto: Majalah Investor/ Uthan A Rachim

Ditemui terpisah, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, dengan hasil inflasi November 2019 sebesar 0,14%, hal itu menunjukkan inflasi masih terkendali. Untuk keseluruhan inflasi tahun ini akan berada di titik tengah target sasaran inflasi BI 3,5% plus minus 1%.

”Kalau dari BI kan ada target 3,5% plus minus 1%. Dengan hasil yang sekarang 0,14% November lalu, kami melihat justru inflasi tahun 2019 akan ada di titik bawahnya BI, jadi 3,1%, kurang lebih di situ,” ujar Destry saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Senin (2/12).

Meski begitu, Destry menjelaskan, menjelang akhir tahun atau Desember, secara tren pola musiman inflasi akan lebih tinggi dibandingkan November. Ini karena ada musim liburan akhir tahun dan perayaan hari Natal.

Untuk inflasi November lalu yang masih disumbang oleh beberapa komoditas pangan seperti telur ayam, bawang merah, dan daging ayam ras, kata Destry, hal ini akan menjadi perhatian Bank Indonesia bersama pemerintah untuk terus menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan hingga akhir tahun 2019. “Itu yang menjadi perhatian, makanya kami punya Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPDI) di bawah Kemenko Perekonomian. Hal ini menjadi concern BI yang terlibat, sebab sesuai dengan tupoksi BI menjaga inflasi rendah,” tuturnya.

Dihubungi terpisah, ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, keseluruhan tahun kalender inflasi sebesar 2,37% menunjukkan bahwa inflasi sepanjang tahun ini masih terkendali. Hal ini disebabkan oleh koordinasi pemerintah dan BI yang cukup baik untuk mengelola inflasi di tingkat nasional dan daerah. Selain itu, pada tahun ini kecenderungannya tidak ada kenaikan signifikan pada kelompok dengan kebijakan harga yang diatur pemerintah atau administered price.

Josua Pardede, ekonomi Bank Permata. Foto: metrotv
Josua Pardede, ekonomi Bank Permata. Foto: metrotv

“Inflasi masih disumbang inflasi bergejolak dan inflasi inti. Dua komponen itu masih jadi pendorong inflasi tahun ini,” ucap Josua saat dihubungi Investor Daily, Senin (2/12).

Untuk keseluruhan tahun ini, ia memperkirakan inflasi akan berada di bawah titik tengah sasaran BI 3,5% plus minus 1%. Hingga akhir tahun, lanjut dia, masih ada tren permintaan barang yang meningkat terkait dengan libur Natal dan Tahun Baru.

Untuk awal tahun depan diperkirakan inflasi cenderung naik, sebab musim panen pangan telah berakhir. Selain itu, ada kebijakan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok, kenaikan iuran BPJS Kesehatan, dan rencana mencabut sebagian subsidi listrik.

“Tahun depan, kecenderungan inflasi didorong kebijakan rokok yang mulai naik perlahan dan belum lagi memperhitungkan (kenaikan) iuran BPJS. Jadi, menjadi pendorong inflasi harga diatur pemerintah di awal tahun depan dan itu perlu diantisipasi. Di sisi lain, inflasi inti masih manageable,” tuturnya.

Menurut dia, perekonomian suatu negara dikatakan stabil jika indikator inflasi inti terkendali. Oleh karena itu, pemerintah perlu meredam dampak langsung dan turunan dari kebijakan pemerintah. Ini dilakukan dengan mengatur waktu kenaikan tarif yang dapat dilakukan bertahap, tidak secara sekaligus. Selain itu, kenaikan tidak difokuskan pada kuartal I tahun 2020 yang bisa memengaruhi daya beli masyarakat.

Yusuf Rendy Manilet, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Yusuf Rendy Manilet, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Sedangkan ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan, jika dilihat dari perspektif target pertumbuhan ekonomi, inflasi yang rendah saat ini perlu diwaspadai. Pasalnya, bisa saja ini menunjukkan gejala perlambatan pertumbuhan ekonomi. (en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA