Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Indef: Tak Ada Perubahan Berarti

Selasa, 31 Mei 2016 | 13:10 WIB
Oleh Yossi Winosa

Direktur Indef Enny Sri Hartati mengemukakan, meski pemerintah mengklaim realisasi paket kebijakan ekonomi telah mencapai 95%, deregulasi tersebut belum efektif memperbaiki iklim usaha. Hal itu tercermin pada arus investasi langsung (direct investment) yang masuk.


Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, komitmen dan persetujuan investasi tahun lalu mencapai Rp 1.852 triliun, tumbuh 45% secara tahunan (year on year/yoy). Namun, realiasasi investasi hanya mencapai Rp 545,4 triliun atau hanya tumbuh 17,8% (yoy). Sedangkan realisasi investasi sepanjang kuartal I-2016 hanya mencapai Rp 146,5 triliun.


“Dengan demikian, tidak ada perubahan yang berarti pada kinerja investasi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya ketika belum ada paket stimulus ekonomi,” kata Enny ketika menyampaikan kajian Indef tentang implementasi paket kebijakan ekonomi.


Selain itu, menurut Enny, paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan pemerintah belum mampu menghentikan perlambatan ekonomi nasional. “Buktinya, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2016 hanya mencapai 4,92%, lebih rendah dari kuartal IV-2015 seebsar 5,04%,” ujar dia.


Enny menilai paket stimulus ekonomi belum efektif karena realisasi dan implementasinya masih lemah dan terhambat regulasi yang tumpang-tindih. “Itu diperparah lagi oleh lemahnya koordinasi, baik antarsektor maupun antarkementerian teknis, baik pusat maupun di daerah,” ucap dia.


Enny menjelaskan, pemerintah harus membuat aturan konkret dan berisi program yang implementatif. Selain itu, paket kebijakan ekonomi harus fokus pada sektor tertentu. Selama ini, paket stimulus tidak fokus pada satu sektor, sehingga pelaku usaha kurang bisa menangkap maksud tiap paket kebijakan.


“Jadi, bukan jumlah regulasinya, tapi efektivitas kebijakannya yang perlu ditekankan. Misalnya realisasi investasi langsung di BKPM yang naik, tapi porsi dia hanya 20% dari total investasi nasional. Jadi, minimal harus bisa trickle-down effect untuk mendorong yang 80% investasi, misalnya di UMKM dan sektor usaha lainnya,” papar dia. (mam/ths/az/gor)


Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/apindo-pertanyakan-efektivitas-memperbaiki-iklim-bisnis/144580

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN