Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Jaga Defisit APBN

Oleh Arnoldus Kristianus dan Nasori, Senin, 20 Agustus 2018 | 14:28 WIB

Menurut Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo, ke depan banyak tantangan makroekonomi yang dihadapi negeri ini. Normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS masih menjadi ancaman bagi rupiah. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dan ancaman perang dagang akan menambah beban defisit transaksi berjalan.

Karena itu, kata dia, dalam RAPBN 2019 pemerintah perlu menyusun anggaran yang mampu mendorong stabilitas rupiah dengan menjaga defisit APBN, namun tetap menciptakan optimisme ke depan. Kecuali itu, pemerintah perlu melanjutkan kebijakan pro poor yang selama ini mampu mengurangi kemiskinan maupun kesenjangan secara efektif. “Lugasnya, seraya tetap optimistik, kita harus terus waspada terhadap dinamika ekonomi,” kata dia.

Dia menjelaskan, indikator ekonomi makro RAPBN 2019 cukup realistis, moderat, dan mengakui adanya tantangan. Peran APBN dalam menghadapi tantangan ekonomi juga terlihat pada sisi pengeluaran. Untuk mendorong ekspor, RAPBN 2019 memprioritaskan percepatan dan perbaikan kualitas infrastruktur, terutama yang mampu meningkatkan konektivitas wilayah-wilayah di Indonesia.

Dalam RAPBN 2019, menurut Yustinus, untuk pertama kalinya pendapatan negara ditargetkan tembus dari Rp 2.000 triliun. Peranan penerimaan perpajakan dalam APBN juga semakin signifikan, yaitu naik dari 74% pada 2014 menjadi 83,1% pada 2019. Penerimaan perpajakan dipatok Rp 1.781 triliun dengan rincian penerimaan pajak Rp 1.572,4 triliun serta penerimaan kepabeanan dan cukai Rp 208,6 triliun. Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 361,1 triliun.

Menurut Yustinus, dalam RAPBN 2019, narasi kebijakan pajak lebih jelas, rinci, dan terukur. Paradigma menjaga keseimbangan peran pajak antara budgetair (mengisi kas negara) dan regulerend (instrumen kebijakan) semakin jelas. “Target penerimaan pajak hanya naik 15,39-16,68% dari proyeksi saya atas realisasi penerimaan pajak APBN 2018, yakni 94,6-95,6% dari target tanpa melakukan perubahan APBN,” ucap dia.

Target tersebut, kata Yustinus, lebih realistis jika melihat kemajuan reformasi perpajakan yang telah memberikan hasil positif bagi kinerja Ditjen Pajak, seperti peningkatan kepatuhan pajak pascaamnesti, perbaikan kualitas pelayanan, pemeriksaan yang lebih kredibel dan adil, pemanfaatan informasi atau data keuangan dari AeoI, serta pemberian insentif yang lebih terukur dan tepat sasaran.

Target penerimaan cukai juga dipatok secara realistis, dengan kenaikan sebesar 6,5% dari outlook 2018. “Pemerintah tinggal konsisten menjalankan kebijakan eksisting seperti PMK-146/2017, agar hasilnya lebih optimal dan menjamin kepastian usaha,” tegas Yustinus. (hg/az)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA