Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Inflasi

Ilustrasi Inflasi

HINGGA DESEMBER 2019, PASOKAN BERAS AMAN

Jaga Inflasi, Pemerintah Perhatikan Distribusi Pangan

Arnoldus Kristianus, Kamis, 11 Juli 2019 | 12:11 WIB

JAKARTA, investor.id – Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk menjaga posisi inflasi di angka 3,5% plus minus 1%. Sementara mengantisipasi terjadinya musim kemarau, pemerintah melakukan sejumlah langkah untuk menjaga posisi inflasi dengan menata produksi dan distribusi menjadi lebih terintegrasi.

“Realisasi inflasi selama semester I-2019 terjaga pada tingkat 3,28% (yoy) dan 2,05% (ytd), atau masih terkendali sesuai dengan target sasaran 2019. Secara spasial, inflasi daerah juga terkendali,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam high level meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) di kantornya, Rabu (10/7).

Realisasi inflasi semester I-2019 yang terjaga, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah, sejalan dengan konsistensi seluruh elemen TPIP, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi, dan TPID kabupaten/kota dalam menjalankan strategi kebijakan 4K (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif) serta mengimplementasikan Peta Jalan Pengendalian Inflasi Tahun 2019-2021.

“Serangkaian kebijakan penurunan tarif angkutan udara juga telah memberikan kontribusi terjaganya inflasi dalam periode Ramadan dan Lebaran 2019 dan semester I-2019,” ucap Darmin.

Untuk kedepan, pemerintah dan BI telah menginventarisasi tantangan dalam rangka pencapaian sasaran inflasi 2019, yaitu potensi kemarau panjang dan tantangan menjaga ketersediaan pangan pokok antarwaktu dan antarwilayah. Guna mengantispasi hal tersebut, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga realisasi inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) maksimal di angka 5% (yoy), dan menjalankan kebijakan utama 4K.

Dalam jangka panjang, pemerintah dan BI juga menyepakati pentingnya penciptaan ekosistem yang mendukung terwujudnya ketersediaan pangan pokok antarwaktu dan antarwilayah.  “Kebijakan mendorong hilirisasi produk pertanian, perbaikan sistem logistik, peningkatan produktivitas pertanian, penerapan sistem cluster di sektor pertanian perlu disinergikan dengan segenap pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah,” tutur Darmin.

Senada dengan Darmin, Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto mengatakan, kondisi inflasi dalam enam bulan pertama ini berada dalam kondisi baik, sebab masih berada di bawah target inflasi. Kendati demikian, tetap diperlukan upaya penataan komoditas bahan makanan agar harga kebutuhan pokok tetap bisa terjaga.

“Perlu penataan ekosistem menjadi lebih baik. Tidak hanya konsentrasi di produksi tetapi bagaimana jalur distribusi yang lebih efisien, juga penyiapan gudang untuk beberapa komoditas yang mudah busuk. Hal seperti ini yang perlu diantisipasi ke depan,” ucap Suhariyanto.

Menurut dia, yang perlu diantisipasi adalah kenaikan harga bahan makanan seperti cabai dan sayuran. Catatan BPS menunjukan, komoditas yang memberikan andil inflasi paada Juni 2019 yaitu kenaikan harga cabai merah yang berandil 0,20%. Kemudian, ikan segar memberikan andil inflasi 0,05%. Komoditas aneka sayuran lainnya memberikan andil 0,01%. Hal ini terjadi karena cuaca kurang mendukung.

Kepala Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, produksi beras sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pada saat musim kering, Bulog siap menyalurkan beras. “Untuk sampai Desember (2019) sudah aman. Prediksi ke depan, kita masih punya. Kalau sampai Desember, masih 1,5 juta ton. Berarti aman,” ucap Budi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN