Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PDB Jawa dan Luar Jawa

PDB Jawa dan Luar Jawa

PROSPEK EKONOMI 2019

Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Balinusra Tetap Kuat, Sulampua Melambat

Abdul Aziz, Rabu, 11 September 2019 | 13:57 WIB

JAKARTA, Investor.id - Perekonomian nasional pada 2019 diperkirakan tumbuh di bawah titik tengah prakiraan 5,0-5,4%. Angka itu masih dalam kisaran target APBN 2019 sebesar 5,3%. Secara spasial, kinerja perekonomian nasional bakal ditopang kuatnya ekonomi Jawa serta membaiknya ekonomi Sumatera, Kalimantan, dan Balinusra. Sebaliknya, ekonomi Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) diprediksi tumbuh melambat.

“Perbaikan pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah terutama bersumber pada konsumsi yang tetap kuat, di tengah investasi yang termoderasi dan ekspor yang tumbuh melambat,” demikian Bank Indonesia (BI) dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Laporan Nusantara yang diterbitkan pekan lalu.

Berdasarkan kajian BI, perbaikan pertumbuhan ekonomi di sisi lapangan usaha (LU) ditopang oleh masih kuatnya kinerja industri pengolahan, khususnya yang terkait dengan pengolahan tambang.

Perbaikan ekonomi juga berasal dari peningkatan pertumbuhan sektor tersier, seperti LU perdagangan besar dan eceran serta LU penyediaan akomodasi dan makan minum. “Adapun perlambatan pertumbuhan Sulampua disebabkan oleh menurunnya kinerja sektor tambang,” demikian kajian BI.

Jawa Tumbuh 5,5-5,9%

BI mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Jawa pada 2019 yang diperkirakan tetap kuat di kisaran 5,5-5,9% bakal ditopang konsumsi. Dorongan konsumsi rumah tangga dan pemerintah dipengaruhi meningkatnya stimulus fiskal melalui bantuan sosial dan dana desa serta pelaksanaan Pemilu 2019.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, demikian BI, tertahan oleh kinerja investasi yang termoderasi dan ekspor luar negeri yang tumbuh rendah sejalan dengan prospek perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi di sisi LU terutama didukung perdagangan besar dan eceran seiring masih kuatnya konsumsi.

Pertumbuhan LU pertanian juga diperkirakan membaik seiring dengan prospek kondisi iklim yang relatif lebih normal dibandingkan tahun sebelumnya. “Namun kinerja LU industri pengolahan Jawa masih dibayangi oleh menurunnya permintaan ekspor seiring dengan prospek perlambatan ekonomi di negara mitra dagang,” demikian BI dalam kajiannya.

Sumatera Tumbuh 4,5-5,0%

Bank Sentral memperkirakan perekonomian Sumatera tahun ini tumbuh pada kisaran 4,5-5,0%, disokong konsumsi

dan ekspor antardaerah. Peningkatan pertumbuhan ekonomi Sumatera terutama didukung konsumsi pemerintah yang berasal dari kenaikan alokasi transfer ke daerah dan dana desa (TKDD).

Di pihak lain, pertumbuhan konsumsi rumah tangga cenderung moderat dan investasi melambat sejalan dengan prospek ekspor luar negeri yang melambat akibat rendahnya harga komoditas, khususnya minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), timah, batu bara, dan kopi.

Meski demikian, menurut BI, ekspor antardaerah diperkirakan meningkat, terutama CPO. Itu terjadi karena CPO digunakan untuk mendukung perluasan kebijakan B20 (program pencampuran 20% CPO untuk solar atau biodiesel) di pasar domestik.

“Dampak positif kebijakan B20 juga tercermin pada LU pertanian dan LU industri pengolahan yang diperkirakan tumbuh meningkat. Sedangkn LU pertambangan masih akan tumbuh terbatas akibat penurunan lifting minyak bumi secara alamiah dan kuota produksi batu bara,” demikian kajian BI.

Kalimantan Tumbuh 4,0-4,4%

BI menyatakan, perekonomian Kalimantan pada 2019 diperkirakan membaik dan tumbuh pada kisaran 4,0-4,4%, disangga konsumsi dan investasi. Membaiknya kinerja pertumbuhan ekonomi Kalimantan terutama didorong peningkatan permintaan domestik, baik dari konsumsi maupun investasi.

Ekspor dari wilayah ini diperkirakan tumbuh membaik setelah pada tahun sebelumnya mengalami kontraksi. Kenaikan ekspor didukung prospek peningkatan permintaan batu bara oleh India.

Meski demikian, menurut BI, pertumbuhan yang lebih tinggi diperkirakan tertahan oleh penurunan kuota ekspor batu bara. Dinamika di sisi penggunaan tersebut tercermin pada kinerja LU utama, seperti pertambangan, industri pengolahan, dan pertanian yang juga tumbuh meningkat.

Balinusra Tumbuh 5,0-5,4%

Dalam perkiraan Bank Sentral, perekonomian Balinusra tahun ini tumbuh membaik pada kisaran 5,0-5,4%, antara lain dipengaruhi pemulihan ekonomi pascabencana.

Perkembangan terkini mengindikasikan prospek perekonomian wilayah ini sedikit lebih rendah dari yang diperkirakan sejalan dengan terbatasnya perbaikan kinerja ekspor tembaga dan jasa pariwisata.

“Pertumbuhan ekonomi Balinusra tetap baik, terutama didorong oleh kembali bertumbuhnya perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) pada kisaran 4,4-4,8% setelah tahun lalu tumbuh negatif,” demikian BI.

Selain bersumber pada konsumsi, menurut BI, peningkatan pertumbuhan ekonomi Balinusra didorong investasi yang tumbuh meningkat sebagai bagian dari rekonstruksi infrastruktur pascagempa berupa pembangunan rumah hunian tetap.

Selain itu, ekspor diperkirakan tumbuh positif. Kondisi itu lebih disebabkan faktor base effect rendahnya ekspor tembaga tahun lalu dan prospek peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali.

“Dinamika di sisi penggunaan itu tercermin pada kinerja LU konstruksi, perdagangan, dan pertambangan yang diperkirakan tumbuh meningkat,” demikian kajian Bank Sentral.

Sulampua Tumbuh 3,0-3,4%

BI memprediksi kinerja ekonomi Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) pada 2019 masih tumbuh rendah pada kisaran 3,0-3,4%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulampua terutama disebabkan kontraksi ekspor komoditas tambang, khususnya tembaga, di Papua.

Masih berlangsungnya transisi metode penambangan dari open pit (penambangan terbuka di atas permukaan tanah) ke underground (bawah tanah) menyebabkan turunnya produksi tambang terbesar di Papua sebagaimana tercermin pada kontraksi pertumbuhan LU pertambangan.

Perlambatan ekonomi lebih dalam sedikit tertahan oleh kinerja konsumsi rumah tangga dan pemerintah. “Perekonomian Sulampua di sisi LU juga ditopang oleh meningkatnya pertumbuhan industri pengolahan akibat naiknya kinerja industri nikel olahan di Sulawesi,” demikian BI.

LU pertanian, menurut Bank Sentral, juga diperkirakan tumbuh membaik akibat potensi kenaikan produksi perikananan seiring implementasi kebijakan pemerintah daerah untuk mempermudah perizinan kapal di bawah 60 GT.

Menurut BI, terdapat beberapa risiko yang berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi berbagai wilayah pada 2019. Dari sisi eksternal, potensi risiko dari dampak berlanjutnya tensi dagang antara AS dan Tiongkok, perlambatan ekonomi global, volume perdagangan dunia dan harga komoditas bakal membayangi prospek perbaikan kinerja ekspor berbagai daerah.

“Perlambatan ekonomi global berpotensi memengaruhi penurunan harga komoditas tambang lebih dalam dari perkiraan,” demikian kajian BI.

Dalam jangka menengah, kebijakan untuk melakukan pengalihan (switching) penggunaan sumber energi oleh Tiongkok berpotensi menekan ekspor bahan mineral, khususnya batu bara. Itu memberi risiko bagi prospek ekonomi Kalimantan dan Sumatera yang merupakan basis produksi batu bara nasional.

Restriksi kebijakan impor India terhadap produk CPO Indonesia di tengah tekanan harga yang melemah, juga berpotensi menekan kinerja ekspor daerah penghasil kelapa sawit.

“Dari sisi domestik, dukungan fiskal daerah juga berpotensi lebih rendah jika kendala terkait penyerapan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) masih berlanjut hingga paruh kedua 2019,” demikian BI dalam kajiannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA