Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Febrio Kacaribu. Foto: IST

Febrio Kacaribu. Foto: IST

Kemenkeu: Defisit APBN 2020 Lebih Tinggi Dibandingkan Krisis 1998

Jumat, 25 September 2020 | 12:50 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA- Kementerian Keuangan menyebut target defisit anggaran tahun ini sebesar 6,34%  merupakan yang terbesar dibandingkan krisis ekonomi yang dialami Indonesia tahun 1997/1998.  Pelebaran defisit merupakan respon fiskal pemerintah untuk memberikan stimulus ditengah pandemi dan menjaga kinerja perekonomian.

Kepala BKF, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan bahwa semua negara melakukan respon agresif secara fiskal untuk menyelamatkan ekonomi negaranya, termasuk Indonesia defisit dilebarkan hingga 6,34% atau setara Rp 1.039,2 triliun. 

“Defisit belum pernah sedalam itu dalam konteks krisis tahun 1998 defisit APBN sekitar 4 atau 5 persen. Jadi belum pernah kita sedalam itu, kita introduce fiskal”tuturnya dalam diskusi Tanya BKF, Ekonomi dan APBN” Jumat (25/9).

Ia mengatakan pelebaran defisit dikarenakan penerimaan negara yang tidak terpenuhi dari target, sementara sisi belanja justru lebih tinggi dari perkiraan awal. Oleh karena itu, untuk menutupi kekurangan gap antara penerimaan dan belanja maka dilakukan penambahan utang.

Kendati begitu, ia menegaskan bahwa pelebaran deifsit selama pandemi tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di negara lain yang agresif dalam menghadapi krisis.

“Semua negara negara tergantung kemampuan meminjam. Defisit ini meminjam uang karena penerimaan enggak cukup tapi harus belanja banyak”ujarnya.

Defisit Sesuai Target.

Adapun hingga Agustus tercatat Rp 500,5 triliun.  Defisit ini setara dengan 3,05 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan mengalami kenaikan hingga 152,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 197,9 triliun.  Defisit telah memenuhi 48,2 persen dari pagu Perpres 72/2020 sebesar Rp 1.039,2 triliun.

Meski lonjakan defisit Agustus cukup tinggi, Febrio menilai target defisit 6,34 persen dapat tercapai, meskipun sisi penerimaan negara terkoreksi dari target namun ia enggan mengungkapkan besaran realisasi penerimaan hingga akhir tahun.

“ Itu relatif confidence tercapai. Jadi kalau kita lihat simulasi sekarang  tampaknya di 6,34 akan kurang lebih di situ realisasinya”tuturnya. 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN