Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Ketimpangan Lebih Besar di Perkotaan

Rabu, 3 Januari 2018 | 12:17 WIB

Selain angka kemiskinan yang menurun, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio juga menurun. Per September 2017, rasio Gini tercatat sebesar 0,391, turun jika dibandingkan Maret 2017 sebesar 0,393.

Ketimpangan yang lebih besar terjadi di perkotaan. Rasio Gini di kota pada September 2017 tercatat sebesar 0,404 atau turun dibandingkan Maret 2017 sebesar 0,407 dan September 2016 sebesar 0,409. Sedangkan rasio Gini di desa pada September 2017 mencapai 0,320 atau sama dengan periode Maret 2017, namun naik dibandingkan September 2016 sebesar 0,316.


Besaran rasio Gini berada dalam kisaran 0 (nol) hingga 1 (satu). Angka nol mencerminkan pemerataan sempurna, sedangkan angka satu menunjukkan ketimpangan sempurna.

Suhariyanto menyatakan, berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), kenaikan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk kelompok 40% terbawah dan 40% kelompok menengah pada periode Maret- September 2017 meningkat lebih cepat dibanding kepompok penduduk 20% teratas.

Rata-rata pengeluaran kelompok penduduk 40% terbawah meningkat 6,31%, sementara pengeluaran 20% penduduk teratas hanya meningkat 5,06%. Inilah faktor yang membuat tingkat ketimpangan menurun," kata dia.


Sedangkan untuk perdesaan, kenaikan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan kelompok 40% menengah meningkat lebih cepat dibandingkan kelompok penduduk 40% terbawah dan 20% teratas. Karena itulah, kata Suhariyanto, pengeluaran per kapita per bulan untuk kelompok 40% terbawah harus meningkat lebih cepat dari sebelumnya, agar ketimpangan di desa dapat ditekan.


Suhariyanto mengungkapkan pula bahwa ada sembilan provinsi, yang rasio Gininya lebih tinggi dibanding rata-rata rasio Gini nasional. Di antaranya adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, DKI Jakarta, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Papua, Sulawesi Utara dan Jawa Barat. Adapun provinsi yang mempunyai rasio Gini tertinggi per September 2017 adalah Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 0,440, dan terendah adalah Bangka Belitung sebesar 0,276.

Sejak September 2015 hingga September 2017, rasio Gini terus menurun. Menurut Suhariyanto, kondisi tersebut menunjukkan terjadinya perbaikan pemerataan pengeluaran di Indonesia. (c01/c02)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA