Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Koppasindo Nusantara Mampu Tekan Laju Inflasi Daerah

Gora Kunjana, Rabu, 9 Agustus 2017 | 21:29 WIB

YOGYAKARTA- Koperasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (Koppasindo) Nusantara, hadir membawa cita-cita: mengurangi kesenjangan pendapatan, memastikan ketersediaan barang kebutuhan pokok di pasar dan menciptakan stabilitas harga yang terjangkau oleh masyarakat.

 

Ketiga misi tersebut diyakini mampu mengatasi inflasi yang terjadi di setiap wilayah Indonesia, karena Koppasindo Nusantara didukung oleh konsep penggunaan teknologi digital dengan menyajikan informasi pasar melalui data primer dan data real time serta transaksi melalui digital yang on line, pendidikan yang terstruktur dan kontinue bagi pedagang pasar sebagai anggota, serta didukung oleh manajemen  profesional dan berintegritas, personalia yang handal dan berkompeten serta didukung oleh legal counsel, riset dan tim audit independen.

 

Demikian pokok-pokok pikiran yang disampaikan Paul Soetopo Tjokronegoro,  dalam Rapat Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID),  awal  Agustus 2017 di Hotel Ambarukmo Jogjakarta yang dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dan aparat pemerintahan DIY terkait. 

 

“Dalam memberikan pelayanan optimal bagi anggota maka Koppasindo Nusantara memperkuat kelembagaan dan jaringan melalui pembukaan kantor seperti perbankan yaitu kantor pusat, kantor koordinator wilayah, kantor cabang utama, kantor cabang, cabang pembantu dan kantor kas. Sistem tersebut memberikan kesempatan bagi personalia untuk mengikuti jenjang karier yang sebelumnya telah dibekali dengan salary diatas UMR dan UMP,” papar Paul Soetopo.

         

Terjadinya inflasi menurutnya karena dua faktor utama yaitu faktor permintaan dan penawaran yang tidak seimbang. Hal ini terjadi karena pola tata niaga yang tidak teratur dan tentu menyulitkan pemerintah dalam mengontrol. Mata rantai perdagangan sekitar 10-12 titik, masing-masing ingin mendapatkan margin, sehingga harga barang pada konsumen tinggi, namun hal tersebut sangat ironis karena petani selaku produsen justru mendapatkan harga jual yang murah. Ada tengkulak, rentainer, agen, supllier, distributor dan lain sebagainya.

 

“Koppasindo hadir untuk memotong mata rantai tersebut, dari 10 sampai 12 menjadi hanya 4. Karena Koppasindo akan bergandengan dengan Poktan/Gapoktan lalu mendistribusikan barang langsung kepada pedagang pasar. Jadi harga jual petani lebih kompetitif, demikian pun harga di pedagang relatif murah”, ujar Paul Soetopo.

 

Untuk menjalankan misi besar tersebut Koppasindo menggunakan teknologi digital yang andal. Melalui teknologi digital, akan memperoleh data primer dan data real time. Data real time sangat kuat karena langsung diinput oleh pedagang dan supplier, konsumen dan semua pihak mampu mendapatkan informasi terkini tentang harga berbagai komoditi di pasar setiap waktu, informasi stok produk dan jumlah permintaan pedagang melalui Purchase Order.

 

Dengan menyediakan data stok produk, data permintaan serta harga yang online setiap saat maka mampu mengontrol ketersediaan barang di pasar dan tentu harga akan tetap stabil. Dengan kekuatan teknologi digital, Koppasindo yakin mampu memotong mata rantai dagang yang panjang sehingga menjaga kestabilan.

 

Transparansi yang diharapkan dalam penentuan harga produk dapat tercipta, sebab dua sisi yaitu sisi ketersediaan produk pada poktan /gapoktan akan dipublikasikan melalui teknologi informasi, demikianpun pedagang akan mempublikasikan harga real time produk sekaligus pemesanan produk, sehingga semua pihak dapat mengetahui informasi produk dan informasi harga setiap saat.

 

Kerjasama dengan Gapoktan

Sementara itu, di sesion yang berbeda, R Bangun, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidomulyo Sleman menyatakan dukungannya dan siap untuk bekerjasama dengan Koppasindo.

 

“Kami mengharapkan Koppasindo Nusantara bisa bekerjasama dengan Gapoktan kami, karena selama ini kami kesulitan untuk memasarkan beras dalam jumlah besar. Kami bisa memproduksi beras 40 ton perhari tetapi kesulitan dalam memasarkan. Kami berharap Koppasindo bisa memasarkan produk kami ,” ujar R Bangun yang juga pembicara dalam kegiatan Rakorda TPID DIY tersebut.

 

Pemasaran yang tertata rapi, kontinue dan terkontrol serta kestabilan dalam harga merupakan harapan petani seluruh DIY dan Indonesia.

 

Gubernur DIY Jogjakarta Sultan Hamengkubuwono ke X, dalam sambutannya mengatakan bahwa inflasi yang rendah dan stabil akan mendorong daya beli masyarakat terjaga. Karena itu perlu ditopang koordinasi dan sinergi kebijakan tingkat propinsi dan kabupaten, serta menciptakan iklim bisnis yang kondusif.

 

Menurut Sultan, karakteristik inflasi di Indonesia banyak dipengaruhi oleh faktor kejutan atau shock berupa gangguan produksi karena bencana alam seperti banjir dan musim kering. Faktor alam ini banyak mempengaruhi inflasi pada kelompok bahan makanan atau folatile food. Selain itu kejutan bisa ditimbulkan dari kenaikan tarif atau komponen inflasi yang harganya diatur pemerintah (administered prices).

 

Koordinasi yang efektif antara pusat dan daerah, tidak hanya menekankan inflasi daerah tetapi berlanjut pada capaian sasaran inflasi nasional yang rendah dan stabil. DIY dalam dasawarsa terakhir mencapai pada titik terendah pada 2016 lalu yaitu 2,29%  dengan inflasi volatile food 4,96 persen dan administered prices 2,44%. Sedangkan Juli 2017, Inflasi DIY mencapai 0,43%.

 

Surplus, Petani tak Untung

Sementara itu, Sekda DIY dalam laporannya menyampaikan bahwa permasalahan tata niaga cukup panjang dan didominasi peran dari midle man yang menimbulkan kerentanan terhadap spekulasi dan fluktuasi pangan pokok. Walau DIY surplus beras namun beras tersebut justru berasal dari luar Jogjakarta seperti Klaten dan Boyolali. Beras, bawang merah, cabai merah, daging ayam dan sapi, tingkat margin tinggi didominasi distributor utama, sedangkan petani di tingkat hulu justru dapat margin kecil. Petani, pengepul, supplier, distributor utama, pedagang besar, pedagang grosir, pedagang eceran merupakan mata rantai perdagangan. Posisi tawar petani dan pedagang eceran sangat rendah. Strategi spekulasi pedagang besar menimbulkan harga tinggi dan berfluktuatif. Praktek demikian sangat terasa di DIY pada lebaran tahun 2017 hingga mencapai inflasi terendah selama lima tahun terakhir mencapai titik 0,61 dan lebih rendah dibanding inflasi nasional.

 

Oleh karena itu, DIY melakukan program pengendalian inflasi dengan 4 K yaitu ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga dan komunikasi efektive. Untuk merencanakan program 4 K maka DIY melakukan peningkatan efektivitas tata niaga pangan dengan membuat regulasi tentang perdagangan komoditas, kelembagaan mengurangi inefisiensi dengan memperpendek mata rantai niaga yang didukung oleh teknologi digital, dan informasi pasar dengan menyajikan informasi pasar melalui teknologi digital. (gor)

BAGIKAN

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA