Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teuku Riefky, ekonom LPEM FEB UI

Teuku Riefky, ekonom LPEM FEB UI

LPEM FEB UI Perkirakan PDB RI Kuartal I Masih Kontraksi 0,6%

Selasa, 4 Mei 2021 | 13:38 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksi, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2021 masih tumbuh minus atau kontraksi 0,6% (kisaran -0,8% hingga -0,4%). Pertumbuhan ini membaik dari kuartal IV-2020 yang tercatat -2,19%, namun jauh lebih rendah dari kuartal sama tahun lalu yang tercatat masih 2,97%.

“Sedangkan estimasi kami untuk pertumbuhan ekonomi (PDB) keseluruhan tahun 2021 berkisar antara 4,4% hingga 4,8%,” ujar ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam pengantar laporan Seri Analisis Makroekonomi: Indonesia Economic Outlook Triwulan II-2021 yang diterima Investor Daily, Selasa (4/5).

Laporan ini dipublikasikan juga dalam rangka menyongsong rilis PDB Indonesia kuartal I-2021 oleh BPS yang dijadwalkan pada Rabu (5/5). Dalam laporan ini LPEM FEB UI memaparkan hasil analisis terkait kondisi terkini perekonomian Indonesia di tengah krisis pandemi Covid-19 yang terus berlanjut.

Menurut Riefky, setelah melewati beberapa fase proses pemulihan ekonomi yang tertekan akibat pandemi Covid-19 sekitar setahun terakhir, permintaan agregat masih lemah dan penerimaan negara juga masih rendah.

Dalam laporan ini, LPEM FEB UI membagi proses pemulihan ekonomi Indonesia menjadi tiga tahap. Pertama adalah fase kontraksi dalam perekonomian Indonesia yang terjadi selama semester I-2020. Fase ini berfokus pada tingkat kedalaman kontraksi ekonomi.

“Membekunya aktivitas ekonomi menyebabkan penurunan tajam pada PDB, baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Dalam fase ini implementasi PSBB melumpuhkan aktivitas ekonomi dan bisnis, utamanya aktivitas yang melibatkan interaksi tatap muka,” tandas Riefky.

Tahap kedua adalah fase pemulihan awal pascapelonggaran pembatasan sosial tahap pertama yang terjadi selama semester II-2020. Dalam fase ini, titik fokus berada pada seberapa tinggi ekspansi awal ekonomi. Fase kedua ini diciriutamakan dari ekspansi ekonomi setelah diberlakukannya relaksasi pembatasan sosial.

“Setelah pengimplementasian PSBB ketat selama April-Juni tahun lalu, perekonomian Indonesia perlahan tumbuh pada semester II-2020 akibat pembukaan perlahan aktivitas ekonomi domestik dan global, didukung dengan paket stimulus yang masif,” papar Riefky.

Sedangkan tahap ketiga dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia adalah tahap menuju titik pemulihan total, yang akan berlangsung pada 2021 hingga ke depan. Fokus utama dalam fase ini adalah seberapa lama waktu yang dibutuhkan oleh perekonomian Indonesia untuk bisa pulih total dan kembali ke tingkat pertumbuhan jangka panjangnya.

Di masa mendatang, lanjut Riefky, prospek perekonomian Indonesia akan sangat bergantung terhadap dukungan kebijakan fiskal dan moneter serta usaha pemerintah dalam meredam penyebaran pandemi. Prospek pemulihan akan menghadapi tantangan baik di jangka pendek, menengah, dan panjang.

“Terlepas dari pemulihan secara signifikan di sektor eksternal seperti surplus neraca perdagangan, tingkat konsumsi dan investasi diperkirakan masih akan terbatas pertumbuhannya seiring masih tingginya angka kasus Covid-19,” pungkas Riefky.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN