Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank DBS Indonesia

Bank DBS Indonesia

Melihat Peluang Usaha dan Beradaptasi di Iklim Investasi Era Baru

Minggu, 18 Oktober 2020 | 10:47 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id– Pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Menyikapi keadaan ini, Bank DBS Indonesia senantiasa berkomitmen untuk memberikan pandangan terkini akan tren perekonomian dan investasi melalui webinar atau seminar online DBS eTalk Series, termasuk di dalamnya membahas topik hangat terkait situasi pandemi global, pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) di bulan November dan posisi perdagangan Tiongkok & AS yang mempengaruhi perekonomian di Asia.

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Paulus Sutisna mengatakan, Bank DBS Indonesia telah mengadakan kegiatan eTalk Series ini secara rutin sejak bulan April 2020.

Paulus Sutisna
Paulus Sutisna

Hal ini merupakan salah satu upaya Bank DBS untuk dapat tetap berinteraksi dengan nasabah di tengah kondisi pandemi dan sebagai wujud komitmen dalam memberikan insight yang relevan terkait situasi ekonomi dan pasar modal terkini, dari kacamata global maupun Indonesia.

“Melalui webinar yang berjudul  DBS Macro Economic Insights: Recovering from Covid-19 diharapkan nasabah kami akan dapat memahami situasi ekonomi makro saat ini, dari wawasan yang diberikan oleh Ekonom DBS, sehingga dapat  menggali potensi peningkatan usaha dan bisnis, maupun pengembangan portofolio di iklim investasi era baru. Hal ini sejalan dengan komitmen kami sebagai mitra terpercaya berusaha juga untuk pengelolaan dan pengembangan kekayaan”, ujar Paulus Sutisna dalam keterangan tertulisnya.

Kontraksi dan perlambatan ekonomi pada triwulan kedua tahun 2020 seiring dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Fakta ini ditandai dengan angka pertumbuhan dan inflasi yang rendah, peningkatan defisit fiskal, angka hutang yang melonjak naik, serta eskalasi geopolitik di berbagai negara.

Seiring dengan kasus positif Covid-19 di Indonesia yang semakin tinggi (ditandai dengan dijalankannya kembali PSBB pada bulan Agustus lalu), Indonesia kembali mengalami deflasi. Berdasarkan data dari Bappenas, Produk Domestik Bruto (PDB) di triwulan kedua mengalami kontraksi sebesar -5,32% secara tahunan. Meskipun demikian, pasar masih optimis akan mengalami pemulihan ekonomi pada triwulan selanjutnya.

Pada webinar  Kamis (15/10), para ekonom dari DBS Group Research, Dr Taimur Baig dan Radhika Rao, berbagi tentang hasil penelitian mereka pada pertumbuhan ekonomi saat ini dan proyeksi mendatang pasca pemulihan ekonomi. Keduanya menyajikan perkiraan mobilitas ekonomi global, kawasan Asia dan beberapa negara terdekat, PDB, inflasi, kebutuhan pembiayaan domestik dan eksternal, dan perubahan nilai mata uang yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.

“Beberapa faktor akan sangat menentukan daya tahan dan kekuatan pemulihan, termasuk penyempurnaan siklus perdagangan, fiskal berkelanjutan dan akomodasi moneter, koordinasi regional untuk membuka kembali perjalanan dan pariwisata, dan mempertahankan praktik terbaik dalam pengelolaan pandemi akan menjadi kunci untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan,” ujar Managing Director and Chief Economist Group Research, DBS Bank, Dr Taimur Baig.

Taimur Baig, Chief Economist Bank DBS
Taimur Baig, Chief Economist Bank DBS

Terkait dengan pelaksanaan Pemilihan Presiden AS yang akan dilaksanakan di bulan November, telah membuat pelaku pasar untuk lebih berhati-hati, mengingat bahwa gejolak di pasar dapat melonjak pasca pemilu. Hal ini diprediksikan akan menyebabkan permintaan likuiditas lebih besar dalam beberapa minggu. Namun demikian, pelaksanaan pilpres AS diperkirakan tidak akan mengubah arah persaingan Tiongkok dan AS, sehingga tetap ada optimisme bahwa gejolak dan ketidakpastian ini akan mereda setelah masa pilpres AS selesai.

Calon presiden (capres) dari Partai Demokrat Joe Biden (kanan) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat mengikuti debat capres pertama di Case Western Reserve University dan Cleveland Clinic di Cleveland, Ohio pada 29 September 2020. ( Foto : JIM WATSON, SAUL LOEB / AFP )
Calon presiden (capres) dari Partai Demokrat Joe Biden (kanan) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat mengikuti debat capres pertama di Case Western Reserve University dan Cleveland Clinic di Cleveland, Ohio pada 29 September 2020. ( Foto : JIM WATSON, SAUL LOEB / AFP )

Laju pemulihan ekonomi di tengah pandemi global di beberapa negara, seperti AS, Eropa, dan Jepang, telah terlihat melandai (flattened) setelah terjadi lonjakan tajam di triwulan ketiga. Prospek perdagangan di Asia juga tampak telah membaik seiring dengan dimulainya kembali rantai perdagangan, yang ditunjukkan dengan terjadinya peningkatan permintaan di Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi di Asia perlahan telah kembali stabil.

“Meskipun masih banyak tantangan, terdapat tanda-tanda bahwa ekonomi di Asia mulai bangkit kembali yang disebabkan dari berhasilnya pengelolaan pandemi, seperti kembalinya demand di Tiongkok, kebijakan moneter yang akomodatif, serta langkah-langkah fiskal yang besar dan tepat untuk mendukung pulihnya sektor konsumen, bisnis, dan sektor keuangan,” ujar Senior Vice President, Economics & Strategy Research, DBS Bank, Radhika Rao.

Meskipun demikian, Radhika berpendapat bahwa Indonesia masih akan menempuh proses yang panjang dalam hal pengelolaan pandemi dan pemulihan kehidupan masyarakat, serta juga melihat terhadap beberapa faktor lain, seperti dampak pandemi pada ekonomi, pengelolaan dana bantuan, objektivitas Bank Indonesia, Pasar Keuangan, dan faktor risiko lainnya.

PDB negara diperkirakan akan meningkat 5,5% tahun depan, sedangkan defisit fiskal diprediksi akan tetap terkontraksi ke -5,5% dari sebelumnya di angka -6,3%.

Selain itu, beberapa faktor lainnya yang menjadi risiko pemulihan bagi Indonesia adalah penundaan kembalinya aktivitas jika kasus positif Covid-19 tidak kunjung mereda, tingginya partisipasi dari investor asing di pasar utang dalam negeri, kesehatan fiskal dan tingkat hutang publik serta rasio cadangan devisa terhadap pembiayaan eksternal bruto yang relatif lebih kecil bila dibandingkan negara-negara lain di kawasan regional.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN