×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sri Mulyani Indrawati. Foto: IST

Sri Mulyani Indrawati. Foto: IST

Menkeu: Daerah Tembus Pasar Ekspor Bisa Diberi Insentif

(gor/ant), Kamis, 28 Februari 2019 | 07:18 WIB

 

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, untuk meningkatkan pasar ekspor harus dimulai dengan mengenali kebutuhan pasar. Sementara peningkatan ekspor harus dilakukan untuk meningkatkan perekonomian Tanah Air.

 

 

 

“Kalau Anda bicara destinasi market ini unlimited, tumbuh cepat sekali. Kalau Anda melakukan yang terbaik pun Anda belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh dunia. Sekarang Anda tinggal bertanya siapa yang bisa memenuhi kebutuhan ini," ucap Sri Mulyani di Jakarta pada Rabu (27/2)

 

 

 

Ia mengatakan, untuk meningkatkan pasar maka harus memahami dulu keinginan pasar. Pihaknya juga berencana untuk mengoptimalkan potensi daerah dalam meningkatkan ekspor. Hal ini akan dilakukan dengan cara memasukan kriteria baru dalam pemberian dana insentif daerah.

 

 

 

Daerah yang dapat meningkatkan produknya sampai ke pasar internasional, kata Sri Mulyani, akan diberikan tambahan dana insentif daerah.

 

 

 

“Saya jadi terpikir untuk memasukan ke dana insentif daerah agar setiap daerah berlomba lomba menghasilkan produk yang bagus,” ucap Sri Mulyani.

 

 

 

Pada saat yang sama, pihaknya juga akan mengandeng seluruh kementerian/ lembaga terkait mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, sampai Kementerian Perindustrian untuk duduk bersama dan mengadakan rapat bulanan untuk membahas peningkatan ekspor.

 

 

 

“Proses peningkatan ekspor juga dilakukan dengan melalui pembuatan kebijakan. Kalau berpikir secara detail, konsisten dan evidence base, kita akan sukses. Produsen yang tangguh adalah yang mengetahui kondisi pasar,” tutur Sri Mulyani.

 

 

 

Sementara itu, ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani mengatakan, dari kondisi neraca perdagangan yang ada, ekspor migas menurun akibat volume ekspor menurun dan ekspor nonmigas juga menurun terutama karena penurunan harga barang barang ekspor.

 

 

 

“Sementara impor juga melemah karena penurunan impor migas karena harga minyak yang menurun. Impor nonmigas tumbuh relatif rendah karena mungkin belum memasuki tahap persiapan produksi,” ucap Dendi.

 

 

 

Dendi memandang, untuk mengurangi defisit neraca perdagangan yang ada, maka pemerintah harus terus mengupayakan membuka pasar baru dan melakukan diversifikasi produk yang diekspor terutama produk industry manufaktur.

 

 

 

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, tidak mudah untuk mendorong ekspor dalam sitasi perlambatan ekonomi global. Mendorong ekspor memerlukan kebijakan jangka panjang. Jika dipaksakan dalam waktu cepat, dikhawatirkan bisa memunculkan dampak negatif.

 

 

 

“Menurut saya pemerintah sebaiknya tdk terlalu memaksakan untuk mendorong ekspor. Yang lebih realistis saya kira adalah menahan laju impor,” ucap Piter.

 

 

 

Ada beberapa kebijakan yang harus dievaluasi pemerintah, seperti kebijakan postborder. Piter melihat kebijakan ini menjadi faktor utama meningkatnya laju pertumbuhan impor pada 2018. Jumlah impor melambung setelah Kementerian Perdagangan melonggarkan pengawsan impor lewat kebijakan ini.

 

 

 

“Impor yang seharusnya secara ketat diawasi disetiap titik pintu masuk dilonggarkan, bisa diawasi setelah lewat titik masuk. Jumlah kebocorannya besar,” tutur Piter.

 

 

 

Selain itu, ada wacana untuk mempermudah ketentuan yang melarang atau membatasi ekspor barang tertentu, seperti barang mentah termasuk kayu log. Sebaiknya kebijakan ini tidak dilakukan karena akan berdampak negatif untuk neraca perdagangan.

 

 

 

Sementara upaya mendorong ekspor tidak bisa dilakukan dalam waktu cepat. “Kalau dipaksakan ekspor, yang memungkinkan adalah ekspor hasil alam yang masih mentah seperti kayu gelondongan,” imbuh Piter. (ark)

 

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN

Terkini

BCA Catat Laba Bersih Tumbuh 10,1% Rp 6,1 Triliun

Kamis, 25 April 2019 | 22:26 WIB

Wika Gedung Kantongi Lima Kontrak

Kamis, 25 April 2019 | 22:17 WIB