Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Menkeu: Pascakrisis 1998, Ekonomi RI Tumbuh Stabil

(gor/ant), Jumat, 15 Maret 2019 | 00:44 WIB

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Indonesia pernah mengalami krisis keuangan pada 1997-1998, namun bisa bangkit dari keterpurukan. Saat ini perekonomian Indonesia dalam kondisi stabil.

“Biasanya negara yang mengalami krisis butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk bisa kembali pulih. Kemampuan negara untuk pulih dipicu oleh sektor keuangan yang memang tergantung dari sistem hukum, jadi mampu melakukan recovery secara cepat. Hal ini termasuk Indonesia yang sudah pulih, meski pemulihan yang tidak cepat, jika dibandingkan Korea Selatan, Thailand, kita lambat pulihnya,” kata Sri dalam dialog ekonomi mengenai "Prospek Ekonomi dan Kebijakan Fiskal 2019" yang diadakan Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Rabu (13/3).

Dia menjelaskan, kondisi ekonomi yang terjadi saat ini turut dipengaruhi oleh krisis di masa lalu. Menurutnya, di dunia banyak negara yang tidak mampu untuk segera bangkit dari keterpurukan akibat krisis.

Saat ini, ekonomi Indonesia mampu tumbuh stabil usai bangkit dari keterpurukan krisis. Terbukti, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu stabil di atas angka 5%, meskipun saat krisis memang ada beberapa tantangan yang bikin shock yakni oil boom dan Indonesia juga terkenda dampaknya.

Selanjutnya, kata dia, dalam menyusun APBN juga diperlukan kehatihatian, serta tingkat kepercayaan yang tinggi, serta fiskal juga penting untuk menjalankan suatu negara. Pasalnya APBN dapat dijadikan fondasi bangsa sekaligus mampu menjawab persoalan penting.

Sejak era reformasi, dengan mengacu pada UU Keuangan yang mengatur sejumlah aspek penting, defisit anggaran ditetapkan tidak boleh melebihi 3% terhadap PDB. Juga utang tidak boleh lebih dari 60%. "Banyak yang bilang ruwet dan bilang APBN sebagai tujuan untuk berutang. Padahal APBN adalah tools untuk capai tujuan negara," ungkap Sri.

Di sisi lain, di tengah gejolak, Indonesia masih bisa tumbuh stabil sebesar 5,17% terhadap PDB dengan inflasi yang terkendali di 3,5% sepanjang tahun lalu. Menurutnya, untuk menjaga perekonomian suatu Negara tetap stabil sangat tidak mudah, apalagi di tengah kondisi perekonomian global yang sulit. Kedepan, pemerintah akan terus mendorong investasi, ekspor, dan konsumsi masyarakat agar pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,3%.

"Mengelola ekonomi nggak seperti dalam laboratorium fisika, kimia, biologi yang hanya ditambah unsur reagen dan terjadi. Kita constantly hadapi situasi dinamis di luar dan dalam. Situasi ini bisa positif dan negatif. Ini bukan manajamen konstan. Flexibilty, agility penting untuk hadapi situasi yang berubah cepat," ujarnya. (try)

BAGIKAN