Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani Indrawati tengah diwawancarai wartawan usai mengikuti Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (13/8) siang. (sumber: Sekretariat Kabinet)

Menkeu Sri Mulyani Indrawati tengah diwawancarai wartawan usai mengikuti Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (13/8) siang. (sumber: Sekretariat Kabinet)

Menkeu: Kejatuhan Peso Takkan Picu Gejolak Global

Arnoldus Kristianus, Rabu, 14 Agustus 2019 | 15:54 WIB

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati berharap, kemerosotan nilai tukar peso Argentina terhadap dolar AS hingga mendekati level terendahnya dalam sejarah pada awal pekan ini, tidak akan memicu gejolak global. Pasalnya, seperti halnya pelemahan mata uang sejumlah negara sebelumnya, pelemahan mata uang negara di Amerika Selatan itu lebih dikarenakan oleh faktor-faktor domestik, yaitu hasil sementara pemilu presiden yang tidak sesuai harapan pasar.

“Ini persoalan spesifik masing-masing negara dan di Argentina berhubungan dengan pemilu. Ini berkaitan dengan ekspektasi dari pasar mengenai arah kebijakan ke depan. Sehingga, peso (Argentina)mengalami koreksi yang sangat dalam," ujar Sri Mulyani usai membuka acara Penyembelihan Hewan Qurban Kementerian Keuangan 1440 Hijriah/2019 Masehi di Kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, (13/8).

Seperti dilaporkan CNBC pada hari yang sama, mata uang pesomengalami kejatuhan yang cukup dalam menyusul hasil pemilihan presiden di Negeri Tango itu dua hari sebelumnya. Calon presiden petahana Mauricio Macri yang dikenal probisnis dan pro-austerity (penghematan anggaran) terancam tidak terpilih lagi. Macri kalah pada putaran pertama pemilu dengan capaian suara hanya 32,1%. Sedangkan Alberto Fernandez dari pihak oposisi yang cenderung populis mendapat 47,4% suara.

Hasil pemilu yang terpaut jauh ini menimbulkan persimisme pelaku pasar bahwa Macri akan mampu memenangi pemilu putaran kedua yang akan digelar Oktober nanti dan kebijakan yang probisnis bisa berlanjut. Akibatnya, pada perdagangan Senin (12/8) di pasar uang Argentina, peso ditutup 15% lebih lemah pada 53,5 per dolar AS, sedangkan pasar saham jatuh lebih dari 30%. Menurut laporan Reuters, ini merupakankemerosotan dalam satu hari terbesar kedua sejak 1950.

Sri Mulyani mengatakan, pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di Argentina, namun sebelumnya juga menimpa mata uang negara lain, di antaranya dolar Hong Kong. Ia berharap, masalah-masalah politik setempat yang kemudian memunculkan dinamika pasar (market) hanyaakan berdampak terbatas pada negara tersebut.

Konflik internal di negara tersebut, lanjut dia, diharapkan tidak akan berpengaruh besar terhadap negara emerging market, termasuk Indonesia. "Kami harap itu tidak terjadi karena semenjak krisis 2008 banyak sekali tahap-tahap yang dilakukan oleh regulator dari sisi sektor keuangan yang mencoba untuk mengatasi sisi kerawanan," ucap mantandirektur pelaksana Bank Dunia ini.

Namun demikian, ia tidak memungkiri, kondisi pelemahan mata uangpeso Argentina dapat mempengaruhi sentimen pasar sehingga berdampakke nilai tukar rupiah. Hanya saja, ini lebih sebagai efek domino pelemahan mata uang negara berkembang lain. "Jadi, kalau sekarang terjadi di Argentina, nanti terjadi di Hong Kong atau waktu itu seperti terjadi di Turki, memang kemudian negara-negara emerging akan mendapatkan sentimennya. Tetapi kami harap tidak menimbulkan gejolak," kata Sri Mulyani.

 

BI Intervensi

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mengaku sudah melakukan intervensi di pasar spot dan pasar domestik mata uang valas berjangka (Domestic NDF) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi terhadap dolar AS akibat sentimen pelaku pasar global setelah anjloknya nilai mata uang peso Argentina.

"Kami melihat, pasar terkejut terutama dengan peristiwa politik di Argentina. Kami juga akan masuk pasar SBN (Surat Berharga Negara)setelah lelang SBN hari ini diumumkan, terutama apabila terjadi pelepasan yang berkelanjutan oleh innvestor asing yang dapat menekan pelemahan rupiah,” ucap Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah kepada Investor Daily, Selasa (13/8).

Bank sentral sudah mentsabilisasi nilai tukar mata uang rupiah di spot dan DNDF agar depresiasi sejak pagi tidak merosot terlalu jauh. "Untuk menyikapi market surprise (kejutan di pasar) yang sifatnya temporer kami tentu tidak ingin menimbulkan dampak terhadap mata uang rupiah," ujar Nanang.

Ia mengatakan, efek pelemahan tidak hanya menimpa rupiah, namun juga seluruh mata uang negara-negara berkembang atau emerging markets. Tercatat, won Korea Selatan, dolar Singapura, yuan Tiongkok,ringgit Malaysia, peso Filipina, dan rupe India juga melemah. Kepanikan itu mendorong aksi flight to quality, yaitu tindakan investor melarikan modalnya ke aset yang lebih aman.

Menurut Nanang, hasil pemilihan presiden putaran pertama memperbesar kemungkinan kemenangan pemimpin oposisi Alberto Fernandez yang juga dikenal oleh pasar sebagai pengusung rezim pengendalian devisa (capital control) di Argentina. Hal tersebut semakin memperbesar kemungkinan memburuknya krisis ekonomi di Argentina yang dapat menyeret negara negara Latin lain terutama Brasil,” ucap Nanang.

Tekanan pada mata uang rupiah dan negara-negara lain di kawasan, ia menambahkan, juga timbul akibat unjuk rasa besar-besaran di Hong Kong yang menimbulkan proyeksi bahwa pemerintah Tiongkok akan melakukan intervensi politik. Hal ini mendorong yield US Treasury dan sovereignbond negara utama lainnya turun dan membuat mata uang safe haven seperti yen Jepang dan france Swiss menguat.

“Bahkan yield US Treasury bond turun ke 1,64%. Kami melihat pasar terkejut terutama dengan peristiwa politik di Argentina, dan peristiwa baik di Argentina maupun Hong Kong. (Sikap pasar) tidak ada kaitannya dengan kondisi ekonomi Indonesia,” tutur Nanang.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (13/8) sore, masih melanjutkan pelemahan padaawal pekan. Rupiah melemah 75 poin atau 0,53% menjadi Rp 14.325 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.250 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah BI pada hari yang sama menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp 14.283 per dolar AS dibanding hari sebelumnya yang berada di posisi Rp 14.220 per dolar AS.

Sementara indeks harga saham gabungan (IHSG) perdagangan Selasa (13/8) ditutup melemah 39,6 poin atau 0,64% ke level 6.210,9, dengan kapitalisasi pasar (market capitalization) Rp 7.145 triliun. Kumpulan saham bluechips yang tergabung dalam indeks Investor33 melemah 3,6 poin atau 0,80% di posisi 453,9. Indeks LQ-45 turun 9,1 poin atau 0,93% ke level 976,3. Jakarta Islamic Index (JII) turun 8,1 poin atau 1,21% menjadi 667,4.

 

Indeks Dolar AS

Secara terpisah, Dekan Fakultas Ekonomi dan Binis Universitas Indonesia Ari Kuncoro berpendapat, pelemahan mata uang sejumlah negara terjadi karena terjadi kenaikan indeks dolar AS. Kenaikan tertinggi terjadi saatThe Fed menurunkan suku bunga acuannya. Ini mengirimkan sinyal kalau Amerika Serikat (AS) akan resesi.

Saat AS resesi, lanjut Ari, maka akan berdampak juga terhadap perekononomian global. Hal ini biasanya adan mendorong investor berbondong-bondong untuk membeli instrumen investasi. Sementara instrumen yang paling aman yaitu obligasi pemeirntah AS, terutama yangberjangka pendek.

“Kalau dia (investor) membeli obligasi (AS) tersebut, maka butuh dolarAS. Akibatnya permintaan dolar meningkat sehingga mata uang dolar ASjuga menguat terhadap hampir semua negara,” jelas dia ketika dihubungi pada Selasa (13/8).

Di sisi lain, kata Ari, di Indonesia kondisi neraca pembayaran juga sedang mengalami defisit. Defisit neraca transaksi berjalan (current acciunt deficit/CAD) tidak bisa ditutup lagi dengan surplus dari neraca modal. Sehingga rupiah tidak bisa menguat, terlebih ditambah indeks dolar yangmenguat lagi. “Efeknya dibandingkan negara lain membuat dolar menguat, sementara untuk Indonesia ditambah kelemahan di neraca pembayaran domestik,” jelas Ari.

Namun, ia melihat, pelemahan nilai tukar rupiah hanya bersifat temporer. Dengan kondisi Amerika saat ini, Ari menilai, Indonesia masih berpeluang untuk menerima aliran modal asing yang masuk. Investor akan menaruh modal di negara yang dianggap prospektif, salah satunya adalah Indonesia. Efek ini akan sedikit meredakan pelemahan rupiah membawa ke penguatan lagi walaupun tidak terlalu drastis. Ini karena posisi CADyang masih cukup tinggi. “Rupiah bergerak dalam rentang yang sempit,” ucap dia.

Ari menjelaskan, dalam situasi seperti ini, BI harus terus memantau kondisi global. Sebab, tren ini belum selesai dalam waktu dekat, terlebih dengan keputusan pemerintah AS untuk meneruskan perang dagang. Dalam situasi tidak pasti, investor akan kembali ke obligasi jangka pendek AS. Sehingga nilai tukar rupiah terus berfluktuasi. “Perang dagang menjadi elemen tidak terduga. Situasinya menjadi kompleks, nilai tukar rupiah silih berganti antara menguat dan melemah,” ucap Ari.

 

 
  •  
     

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN