Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia. Sumber: BSTV

Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia. Sumber: BSTV

Neraca Dagang 2020 Diprediksi Surplus US$ 8 Miliar

Minggu, 2 Agustus 2020 | 18:06 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core), Mohammad Faisal memprediksi neraca dagang Indonesia sepanjang 2020 akan tercatat surplus senilai US$ 8 miliar.

Dia mengatakan, surplus akan didorong oleh penurunan impor yang lebih dalam dari turunnya ekspor. Pasalnya, pandemi Covid-19 telah mengurangi aktivitas konsumsi dan produksi sehingga impor bahan baku dan barang modal yang sepanjang Januari-Juni 2020 mencapai 86,88% dari total impor juga tertekan.

"Hanya saja di semester paruh kedua, karena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sudah dicabut, sudah berlaku new normal, sebagian aktivitas produksi sudah mulai jalan lahi. Sehingga biasanya impornya juga sudah mulai. Jadi, pada bulan-bulan ke depan surplus masih terjadi tapi sudah lebih tipis dibandingkan dengan semester pertama," kata Faisal kepada Investor Daily, Minggu (2/8).

Sementara itu, dia mengatakan bahwa kecil kemungkinan bagi ekspor untuk tumbuh signifikan di tengah pandemi Covid-19. Menurut dia, pandemi Covid-19 menekan perekonomian beberapa negara mitra dagang. Bahkan, sudah banyak negara yang mengalami resesi sehingga permintaan untuk barang asal Indonesia juga berkurang.

Salah satu negara mitra dagang terbesar Indonesia yang mengalami resesi ialah Amerika Serikat. Namun, menurut Faisal, kinerja ekspor Indonesia ke Amerika Serikat masih lebih baik dibandingkan dengan ekspor ke negara mitra dagang lain.

"Karena Amerika Serikat juga tidak melakukan lockdown, mungkin kita masih bisa ekspor. Cuma itu tadi, resesi terakhir kan besar sekali, itu tetap akan berpengaruh terjadap kinerja ekspor kita ke AS, terutama yang paling besar kan tekstil dan alat kaki," imbuh Faisal.

Hanya saja, menurut Faisal, perekonomian beberapa negara mitra dagang Indonesia yang lain mulai pulih, seperti Tiongkok. Ekspor ke Tiongkok pun diyakini dapat menolong ekspor Indonesia secara keseluruhan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia ke Tiongkok sepanjang Januari-Juni 2020 mencapai nilai US$ 12,82 miliar atau naik 11,95% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 11,45 miliar.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, dalam satu tahun ke depan akan mendorong ekspor ke negara-negara yang telah lebih pulih dari dampak pandemi Covid-19. Dia mencontohkan antara lain Australia, Selandia Baru, Inggris, Jerman, Italia, Perancis, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, Aljazair, Kanada, dan Meksiko.

Selain itu, sebagai strategi mendorong ekspor dalam jangka pendek, Kemendag juga akan mendorong ekspor produk yang banyak dibutuhkan di tengah pandemi, seperti makanan, minuman, dan produk farmasi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN