Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Josua Pardede. Sumber: BSTV

Josua Pardede. Sumber: BSTV

Neraca Transaksi Berjalan Berpeluang Surplus Lagi

Sabtu, 21 November 2020 | 12:00 WIB
Nasori ,Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id –  Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, jika dilihat surplus pada defisit transaksi berjalan merupakan surplus pertama sejak 2011, meskipun surplus masih kecil.

“Tapi dilihat penurunan atau prospek dari current account balance ditopang aktivitas domestik yang masih relatif lemah dan juga impor masih terkontraksi lebih dalam dibandingkan ekspor,” jelasnya.

Sementara itu, ia menilai masih ada peluang neraca transaksi berjalan mengalami surplus kembali meningkat di kuartal IV-2020. Sebab, data dari surplus perdagangan Oktober 2020 cukup tinggi sebesar US$ 3,61 miliar.

Neraca transaksi berjalan kuartalan
Neraca transaksi berjalan kuartalan

Kemudian, data neraca nonmigas Oktober juga surplus tertinggi sejak 2008 . Oleh karena itu, kinerja defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kuartal IV-2020 masih harus melihat data kinerja di November dan Desember.

“Ini dimana impor masih terlihatkontraksi karena aktivitas produksi belum full capacity dan PMI Manufacturing September- Oktober masih fase kontraksi. Artinya, di kuartal IV masih ada potensi surplus kecil atau defisit kecil, range-nya di surplus US$ 0,3 miliar atau defisit US$ 0,3 miliar,” jelas Josua.

Sementara itu, untuk prospek CAD di tahun depan, menurut dia, dipengaruhi oleh asumsi keberhasilan vaksin cukup positif sehinga mengggerakkan aktivitas masyarakat dan sisi demand perekonomian.

Neraca transaksi berjalan tahunan
Neraca transaksi berjalan tahunan

“Kemudian, sisi kegiatan ekspor impor mulai meningkat dan memperbesar defisit jasa. Mulai kuartal II tahun depan ada tren defisit meningkat dan perkiraan full year tahun depan masih di bawah 2% belum ada peningkatan defisit di atas 2%, karena kalau dilihat pertumbuhan ekonomi sendiri memang masih belum bolak balik ke kondisi sebelum covid-19,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia memperkirakan peningkatan impor bahan baku juga akan meningkatkan defisit neraca jasa. Sebab, banyak yang tertahan belum bisa traveling dan itu akan pengaruhi sisi kebijakan.

Kendati begitu, dia menegaskan bahwa neraca transaksi berjalan yang surplus pada kuartal III belum baik, karena disebabkan oleh impor turun lebih dalam. Menurutnya, di negara berkembang dengan ekonomi growing kondisi seperti Indonesia masih merupakan net importir jadi aturan normatif current account balance defisit, tapi pertumbuhannya masih di atas 5%, investasi masih tetap tumbuh di 3 tahun terakhir 5-6%, dan sisi manufaktur dalam negeri dilihat juga belum ada peningkatan signifikan.

Naraca Pembayaran Indonesia (NPI) Tahunan
Naraca Pembayaran Indonesia (NPI) Tahunan

“Impor bahan baku dan barang modal tetap tinggi, tidak bisa dipungkiri normatif kita current account defisit. Jadi sekarang kita alami surplus current account sebab ada something wrong dalam ekonomi. Surplus current account menjadi salah satu latar belakang penurunan suku bunga acuan BI menjadi 3,75%, bisa mendorong terus permintaan kredit jadi kita bisa menopang pembiayaan sektor rill,” ujarnya.

Di sisi lain, dia menilai kondisi ekonomi di kuartal II tahun depan akan terjadi jump dan technical recovery karena base di kuartal II tahun ini yang terkontraksi -5,32%. “Kinerja ekonomi normal mulai pick up di kuartal III atau kuartal IV tahun depan,” terangnya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Foto: IST.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Foto: IST.

Meski Indonesia masuk dalam perjanjian perdagangan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dia menilai kondisi ekspor dalam beberapa bulan akan positif dengan demand sering pemulihan dari mitra dagang. Karena itu, dampak RCEP dinilainya belum akan signifikan untuk menggerakkan ekspor lebih tinggi di tahun depan dan yang terpenting adalah meningkatkan hilirisasi.

Mengenai NPI yang kembali surplus pada kuartal III-2020, dia menilai masih berpotensi terus meningkat pada akhir tahun, karena adanya inflow Oktober dan November. Hal ini seiring meredanya ketidakpastian terkait pemilu AS dan adanya penemuan vaksin Covid-19 oleh Pfizer.

“Tren masuknya kembali dana asing berlanjut, jadi surplus transaksi modal dan finansial berpotensi meningkat. Transaksi modal dan finansial di kuartal III agak turun karena foreign flow agak berkurang sebab terjadi outflow, dengan pemilu AS maka lebih jelas dan pengembangan vaksin lebih positif TMF meningkat di kuartal IV,” tuturnya. (ts/ns/sny)

Baca juga

https://investor.id/macroeconomics/neraca-transaksi-berjalan-surplus-us-1-miliar

https://investor.id/business/sehat-tetapi-penyakitnya-masih-eksis

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN