Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pemda Harus Manfaatkan TPID untuk Kendalikan Inflasi

ah, Kamis, 22 Januari 2015 | 14:56 WIB

BOGOR-Dalam acara pengarahan di Istana Bogor, Jawa Barat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan kepada para bupati pentingnya mengendalikan inflasi. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi bisa tidak signifikan jika angka inflasi hampir bisa menyusul. Presiden pula menyarankan agar para kepala daerah itu mengefektifkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

“Juga saya tekankan sangat pentingnya inflasi. Pertumbuhan ekonomi misalnya bisa sampai 5,8 atau 6 persen tapi inflasinya 8 persen, itu jadi enggak ada artinya,” demikian disampaikan Presiden Jokowi saat jeda memberikan pengarahan kepada para bupati di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/1).

Dalam pengarahan gelombang pertama ini hanya diikuti oleh 101 bupati dan direncanakan bakal dilangsungkan gelombang berikutnya. Pengarahan dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemberian pemaparan awal oleh Menteri Dalam Negeri (mendagri) Tjahjo Kumolo dan beberapa menteri di Kabinet Kerja.

Jokowi mengatakan dia juga membagikan pengalaman kiat praktis dalam memanfaatkan TPID agar efektif menekan inflasi antara lain menjelaskan poin-poin kerja TPID dan cara menekan inflasi.

“Apa yang dilakukan, apa yang harus dikerjakan dan siapa yang didatangi,” kata dia mengenai TPID itu.

Berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, Presiden Jokowi juga menanggapi asumsi pertumbuhan ekonomi yang awalnya 5,8 persen untuk tahun ini. Jokowi menilai angka itu harus realistis dan melihat kondisi dunia. Pasalnya negara-negara di dunia bahkan Tiongkok yang pertumbuhannya paling tinggi juga menurunkan target angka pertumbuhan ekonominya.

“Kalau nanti bisa jadi 5,6-5,8 persen, saya kira prestasi. Lihat semuanya mengurangi, semuanya Tiongkok, India semua mengurangi,” katanya.(B1)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA