Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koperasi dan Usaha, Kecil, dan Menengah (UKM) Teten Masduki

Menteri Koperasi dan Usaha, Kecil, dan Menengah (UKM) Teten Masduki

Peran Agregator akan Permudah Ekspor Produk UMKM

Selasa, 23 Februari 2021 | 22:12 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) menilai masih terdapat sejumlah kendala agar pelaku UKM untuk bisa melakukan ekspor. Oleh karena itu pelaku UMKM membutuhkan peran agregator agar bisa menjual produk hingga ke pasar internasional. Kendala yang dihadapi pelaku UMKM adalah harus memiliki sertifikat hingga mahalnya biaya logistik.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan dengan adanya agregator pengiriman barang bisa dilakukan oleh beberapa UMKM melalui satu kontainer. Sebab bila pelaku UMKM mengirimkan barang sendiri sendiri maka  memakan biaya besar. Pihaknya sudah berbicara dengan  gabungan pengusaha eksportir agar bisa menjadi agregator.

“Kalau UMKM kita masih dalam jumlah kecil maka akan mahal biaya logistiknya sehingga harga produk menjadi  tidak bersaing,” ucap Teten dalam telekonferensi pers, Selasa (23/2).

Ia mengatakan pelaku UMKM juga kesulitan untuk memenuhi standar dari negara tujuan ekspor khususunya sertifikat produk. Pihaknya mendorong agar pelaku UMKM bisa  bermitra dengan eksportir sudah memiliki sertifikat. Sehingga UMKM tidak perlu memiliki sertifikat lagi.

“Ini menjadi kemitraan yang bagus dan akan kami coba,” imbuh  Teten.

Teten mengatakan umumnya produk makana dan minuman yang akan masuk pasar internasional  harus memiliki  sertifkasi yang rumit. Kesulitan yang dialami yaitu pelaku UMKM harus memilki seritifikat sesuai standar dari negara ekspor tujuan, sertifikat tersebut juga harus diaudit dalam waktu cepat.

“Misalnya produk pisang yang akan diekspor harus memiliki 21 sertifikat dan setiap 6 bulan harus audit,  syarat ini memberatkan UMKM,” ucap Teten.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN