Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani Indrawati (kedua kanan) bersama Gubernur BI Perry Warjiyo (kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kedua kanan) bersama Kepala BPS Suhariyanto (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2020).  Foto: SP/Ruht Semiono

Menkeu Sri Mulyani Indrawati (kedua kanan) bersama Gubernur BI Perry Warjiyo (kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kedua kanan) bersama Kepala BPS Suhariyanto (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2020). Foto: SP/Ruht Semiono

DAMPAK PSBB LANJUTAN DKI JAKARTA DAMPAK PSBB LANJUTAN DKI JAKARTA

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Bisa di Bawah Minus 2,1%

Rabu, 16 September 2020 | 08:29 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemberlakuan kembali PSBB DKI Jakarta akan menekan kinerja pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 menjadi lebih dalam dari prediksi semula di kisaran 0% hingga batas bawah minus 2,1%. “Kita perkirakan mungkin lower endnya yang minus 2,1 ini bisa lebih rendah dari 2,1%,”tutur dia dalam doorstop virtual Selasa (15/9).

Kendati begitu, ia tidak mendetailkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III terbaru, tetapi ia berharap penurunannya tidak terlalu jauh dari prediksi semula. Pasalnya, PSBB yang berlaku saat ini berbeda dengan PSBB lanjutan pada periode Maret dan April 2020 yang menghentikan hampir seluruh aktivitas kegiatan ekonomi. Sedangkan pada PSBB lanjutan, pengendalian aktivitas difokuskan pada pusat penyebaran Covid-19 yakni perkantoran.

“Pada dasarnya kita sekarang sedang melakukan monitoring dan melihat data-data berhubungan dengan pergerakan seiring dengan pemberlakukan PSBB mulai 14 September oleh pemerintah DKI. Sesuai yang diumumkan, PSBB sifatnya pada beberapa yang ditengarai sebagai pusat penyebaran covid yakni perkantoran. Masih ada jumlah dari staf ASN yang bekerja sesuai zonanya dan sekitar 25% dari kapasitas WFO dan WFH. Artinya PSBB sekarang berbeda dengan situasi pada Maret dan April yang waktu itu situasi di mana seluruh kegiatan masyarakat terhenti. Sekarang kita melihat skalanya menurun,”tuturnya.

Adapun pada kuartal II pertumbuhan ekonomi tercatat minus 5,32%. Penurunan ini sangat dalam karena pembatasan aktivitas ekonomi. “Berapa perkiraan yang terbaru nanti kita lihat berdasarkan assessment kita terhadap pergerakan 2 minggu ini. Kita harap nggak terlalu jauh penurunannya,”tuturnya.

Menkeu mengatakan, DKI Jakarta memiliki andil dalam perekonomian, yaitu mencapai 17% terhadap GDP perekonomian nasional. Karena itu, ia berharap pertumbuhan ekonomi kuartal III DKI Jakarta akan membaik, dibandingkan kontraksi pada kuartal II yang tercatat -8,2%.

“Situasi yang harusnya bertahap baik, pada kuartal III saya harapkan tidak ada penurunan pada September ini sehingga kontraksi DKI pada kuartal III diharapkan lebih rendah dari atau jauh lebih kecil dibandingkan kontraksi pada kuartal II,”tuturnya.

Untuk kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal IV, ia memperkirakan masih dapat tumbuh di kisaran 0,4% hingga 3,1%. Namun, proyeksi ini juga masih akan bergantung pada kemampuan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengelola penyebaran Covid-19 dan mencegah terjadinya kenaikan kasus positif Covid-19.

“Saya harap, tentu saja dalam hubungan pusat dan daerah yang makin baik untuk terus dilakukan. Ada 8 provinsi yang masih bisa dikendalikan kasus positif Covid-19 . Sehingga kita bisa mengikuti trajectory forecast kita yang secara bertahap terjadi pemulihan pada kuartal IV,”tuturnya.

Dengan demikian, sepanjang tahun pertumbuhan ekonomi diharapkan masih bisa bergerak sesuai prediksi awal di kisaran minus 1,1% hingga 0,2%. Tetapi kemungkinan besar, realisasinya akan mengarah pada batas bawah. “Namun tonenya kita melihat kemungkinan bahwa dalam kisaran ini karena adanya seperti terjadi di DKI, kita siapkan kemungkinan berada di lower end,”jelasnya.

Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Republik Indonesia Eric Sugandi mengatakan, kebijakan PSBB dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya DKI Jakarta memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional yakni sekitar 16% dari GDP Indonesia. “Tentu ada trade off antara PSBB di Jakarta dan pertumbuhan ekonomi DKI dan nasional, karena aktivitas ekonomi akan melambat,”tuturnya kepada Investor Daily, Senin (14/9).

Ia mengatakan, langkah melakukan PSBB juga diperlukan untuk mengendalikan wabah Covid-19, karena tren positif Covid-19 terus meningkat. Namun kalaupun tidak dilakukan pengetatan PSBB, akan ada biaya yang harus dibayar pemerintah karena kasus Covid-19 bisa meningkat. “Tapi sekali lagi, langkah ini perlu dilakukan agar wabahnya bisa terkendali. Pengendalian penyebaran wabah dari Jakarta ke daerah dan sebaliknya mesti dilakukan sambil menunggu vaksin dan vaksinasi massal,”tuturnya.

Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Bahkan, ia meminta jika DKI memiliki dana maka perlu menggelontorkan stimulus tambahan.

“Jika ada dananya, maka Pemda DKI perlu memberikan Bantuan Langsung Tunai untuk rumah-rumah tangga miskin dan bantuan dana untuk UMKM,”ujarnya.

 

Sektor Informal

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, meski kelompok penghasilan menengah ke bawah sudah diberikan bantuan, tetapi dengan PSBB ini kegiatan aktivitas perkantoran tidak akan seramai biasanya. Sehingga ada potensi pendapatan akan berkurang bagi para pekerja di sektor informal ini. Hal ini akan tergambar dalam perekonomian DKI Jakarta pada kuartal III.

“Meskipun membaik, tetapi perbaikannya saya kira akan marginal dan pertumbuhannya masih akan berada di level negatif. Itu pula yang akan mempengaruhi kinerja perekonomian nasional, karena proporsi DKI Jakarta terhadap ekonomi nasional cukup besar, ini akan berdampak pada lambatnya proses pemulihan ekonomi nasional,”kata dia.

Lebih lanjut, ia mmemproyeksikan sepanjang tahun ini ekonomi nasional akan berada di level -1% sampai dengan -3%. Bahkan proyeksi ini pun bisa terjadi lebih buruk apabila dalam proses PSBB ketat ini ternyata kasus aktif Covid-19 belum melandai dan semakin memburuk.

Lebih lanjut, Yusuf mengatakan bahwa, secara tren aktivitas berdasarkan google mobility trend, meskipun sempat naik pada Juli, namun ada kencenderungan aktivitas masyarakat yang ke pusat perbelanjaan dan ritel kembali menurun di Agustus.

“Saya kira ini tidak terlepas dari sentimen negatif dari kasus Covid-19 yang kasusnya bertambah signifikan, sehingga menjadi faktor masyarakat untuk mengurungkan niatnya kembali berbelanja,”tuturnya.

Meski tidak seketat jilid I, namun dengan terbatas aktivitas perkantoran, misalnya akan berpengaruh pada pendapatan kelompok pekerja informal seperti misalnya ojek online, pedagang kaki lima, dan warung-warung kecil.

“Kondisi ini yang berpotensi kembali akan menekan daya beli mereka, jika daya beli mereka kembali melambat maka penjualan ritel dan manufaktur akan kembali melambat. Namun perlambatan ini tidak akan terlalu dalam mengingat bantuan pemerintah untuk kelompok ini juga masih bergulir hingga sekarang,”tuturnya.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN