Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
cukai rokok

cukai rokok

PKJS UI Dukung Rencana Pemerintah Naikkan Cukai Rokok

Arnoldus Kristianus, Rabu, 11 September 2019 | 13:59 WIB

JAKARTA, investor.id – Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) mengapresiasi rencana pemerintah menaikkan cukai rokok tahun 2020. Wacana ini menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah serius menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul melalui upaya pengendalian konsumsi rokok, khususnya untuk kalangan remaja dan masyarakat miskin.

Saat ini harga rokok di Indonesia masih tergolong murah, dengan rata-rata harga jual Rp 17.000. Bahkan, praktik penjualan rokok dalam bentuk eceran masih dilakukan di berbagai tempat. Dengan harga tersebut remaja masih mampu menjangkau rokok dengan mudah, apalagi jika mereka membeli secara patungan.

Perilaku merokok di kalangan remaja di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) prevalensi merokok remaja usia 10-18 tahun meningkat dari 7,2% tahun 2013 menjadi 9,1% pada 2018.

“Harga rokok yang murah, serta masih maraknya praktik penjualan rokok secara eceran memicu tingginya konsumsi rokok pada kalangan remaja di Indonesia,” ucap Manager Program Pengendalian Tembakau PKJS-UI Renny Nurhasana dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu (11/9/2019).

Selain mengancam remaja, harga rokok yang terjangkau mengancam kesejahteraan keluarga miskin. Berdasarkan kajian yang dilakukan PKJS UI konsumsi rokok berhubungan secara signifikan dengan kemiskinan, stunting pada balita, dan tingkat kecerdasan anak yang rendah. PKJS-UI melakukan studi kasus terhadap keluarga dengan balita stunting di Kabupaten Demak, di mana terbukti adanya kebutuhan makanan bernutrisi yang tidak terpenuhi akibat konsumsi rokok orang tua.

“Studi kasus yang dilakukan di Demak membuktikan adanya shifting kebutuhan penting untuk belanja rokok, sehingga anak mengalami stunting. Hal ini membuktikan bahwa perilaku merokok menghambat pembangunan SDM dari berbagai aspek seperti kesehatan, pendidikan, dan sosio-ekonomi pada generasi selanjutnya” ucap Renny.

Di sisi lain, masyarakat miskin dan anak di bawah umur masih memiliki pilihan merek rokok dengan harga lebih murah apabila harga merek rokok yang biasa mereka konsumsi naik. Hal ini terjadi akibat variasi harga rokok di Indonesia yang masih sangat memungkinkan peluang untuk tetap merokok. Oleh karena itu, simplifikasi cukai rokok juga perlu diberlakukan agar variasi harga rokok berkurang sehingga konsumsi rokok dapat dikendalikan.

“Simplifikasi cukai rokok di Indonesia akan berdampak pada harga rokok yang lebih tinggi dan insentif untuk menciptakan merek baru berkurang. Bila penyeragaman tarif cukai rokok dilakukan, upaya pengendalian konsumsi rokok akan lebih efektif,” ucap Ketua Program Studi Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Vid Adrison.

Menurut dia, rencana pemerintah menaikkan cukai rokok tahun 2020 mendatang memang patut diapresiasi. Namun bila kenaikan cukai tidak optimal, maka penurunan konsumsi merokok akan berjalan lambat. Kenaikan cukai rokok yang ideal semestinya akan meningkatkan harga rokok secara signifikan agar tidak mudah dijangkau masyarakat.

“Selain itu, simplifikasi cukai rokok perlu diberlakukan untuk memperkecil peluang opsi harga rokok yang lebih murah. Upaya-upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang hebat serta mempercepat pembangunan SDM Indonesia yang berkualitas,” kata Vid.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA