Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono.

Potensi Ekspor Nonmigas RI Masih Besar

Nasori, Rabu, 14 Agustus 2019 | 15:48 WIB

JAKARTA, investor.id – Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian menilai, potensi ekspor nonmigas Indonesia masih sangat besar dan apabila dioptimalkan dapat memberikan kontribusi positif, termasuk untuk mengurangi defisit neraca perdagangan. Potensi itu terlihat dari capaian ekspor nonmigas tahun lalu yang masih mampu surplus US$ 4 miliar pada saat neraca perdagangan secara keseluruhan mengalami defisit sebesar US$ 8,7 miliar.

“Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong ekspor dan mengendalikan impor guna mengatasi permasalahan defisit neraca perdagangan tersebut,” kata Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono dalam sambutannya pada acara focus group discussion (FGD) “Pengembangan Hortikultura untuk Peningkatan Ekspor dan Ekonomi Daerah” yang dilakukan di Madiun, awal pekan ini.

FGD ini, merupakan tindak lanjut dari kunjungan kerja dan peninjauan bersama Menko Perekonomian ke perkebunan dan pabrik PT Great Giant Pineapple (GGP) di Lampung Tengah pada 26 Juli 2019. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka mendorong ekspor produk hortikultura, terutama pisang dan nanas yang sudah diekspor ke 65 negara di seluruh dunia.

“Untuk mendorong ekspor, pemerintah memberikan berbagai insentif fiskal pada industri berorientasi ekspor. Selain itu, kami mendorong pengembangan produk-produk yang mempunyai daya saing dan potensi ekspor tinggi. Bukan hanya produk-produk hasil industri, namun juga produk dari sektor pertanian, terutama produk hortikultura yang bernilai tinggi,” imbuh Susiwijono.

Hortikultura, memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensi pasar yang masih terbuka lebar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. “Buah-buahan merupakan komoditas yang memberikan kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Hortikultura tertinggi dengan rata-rata sebesar 54,7% dari PDB Hortikultura,” ujar dia.

Meski demikian, Susiwijono menambakan, masih terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan hortikultura, antara lain sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan petani masih lemah, keterbatasan modal, pendampingan dan inovasi teknologi masih lemah, daya saing yang rendah, serta kurangnya akses pasar.

“Solusinya perlu ada kerja sama kemitraan yang dapat membantu petani dalam merancang pola produksi hingga pemasaran di dalam negeri maupun ekspor, supaya petani kita menjadi lebih mandiri, tangguh, dan bisa bersaing di pasar global,” tutur dia dalam keterangan tertulisnya.

Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$ 200 juta pada Juni 2019. Surplus terjadi karena nilai ekspor sebesar US$ 11,78 miliar dan impor US$ 11,58 miliar. Surplus pada Juni 2019 lebih kecil dibandingkan surplus bulan sebelumnya yang sebesar US$ 220 juta.

Namun, secara kumulatif Januari-Juni 2019, neraca dagang Indonesia masih defisit US$ 1,93 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sama 2018 yang hanya defisit US$ 1,2 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor pada Juni 2019 turun 20,54% dibandingkan Mei 2019 yang sebesar US$ 14,83 miliar. Penurunan itu terjadi pada migas sebanyak 34,36% dari US$ 1,14 miliar menjadi US$ 750 juta akibat  penurunan harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP), minyak sawit, dan batu bara.

Sementara itu, jika dilihat secara bulanan, impor di Juni 2019 turun 20,7% menjadi US$ 11,58 miliar dari bulan sebelumnya US$ 14,61 miliar karena dipicu penurunan impor migas sebesar 21,5% dan impor nonmigas 20,55%. (ns)

      

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN