Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Rasio Gini Menurun

Oleh Arnoldus Kristianus dan Imam Suhartadi, Selasa, 17 Juli 2018 | 13:09 WIB

BPS juga mengumumkan ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh rasio Gini. Rasio Gini pada Maret 2018 tercatat 0,389, menurun 0,002 poin dibandingkan September 2017 sebesar 0,391.


Rasio Gini di daerah perkotaan pada Maret 2018 tercatat 0,401, turun dibanding September 2017 yang sebesar 0,404. Sedangkan rasio Gini di daerah perdesaan naik (004) jadi 0,324 pada periode yang sama.


Selain rasio Gini, ketimpangan juga diukur dari pengeluaran kelompok masyarakat. Berdasarkan ukuran ini, tingkat ketimpangan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40% terbawah kurang dari 12%, ketimpangan sedang 12–17%, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 17%.


Menurut Suhariyanto, pada Maret 2018, distribusi pengeluaran kelompok 40% terbawah sebesar 17,29%, yang berarti ketimpangannya rendah. Di daerah perkotaan tercatat 16,47% (ketimpangan sedang). Sementara perdesaan 20,15% (ketimpangan rendah). Artinya, tingkat ketimpangan di perkotaan lebih tinggi dibanding perdesaan.


Suhariyanto merinci faktor-faktor yang memengaruhi tingkat ketimpangan. Secara nasional tercatat bahwa kenaikan rata-rata pengeluaran perkapita per bulan periode September 2017-Maret 2018 penduduk kelompok 40% terbawah (3,06%) lebih cepat dibanding penduduk kelompok 40% menengah (2,54%) dan kelompok 20% teratas (2,59%).


Data menarik lain adalah delapan provinsi yang tingkat ketimpangannya lebih tinggi dari rata-rata nasional, yakni Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan rasio Gini tertinggi 0,441, diikuti Sulawesi Tenggara (0,409), Jawa Barat (0,407), Gorontalo (0,403), Sulawesi Selatan (0,397), Papua Barat (0,394), Sulawesi Utara (0,394), dan DKI Jakarta (0,394). Adapun rasio Gini terendah adalah Provinsi Bangka Belitung sebesar 0,281. (hg)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/stabilkan-harga-pangan/177890

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA