Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Rupiah Diperkirakan Masih akan Tertekan

GR, Jumat, 10 Mei 2019 | 10:57 WIB

JAKARTA- Pergerakan nilai tukar rupiah pada Jumat ini diperkirakan masih tertekan dengan penggerak utama sentimen dari domestik yakni pengumuman neraca transaksi berjalan periode kuartal I 2019.

Jika neraca transaksi berjalan kuartal I 2019 masih defisit melebihi US$ 5 miliar, kurs rupiah akan semakin terpukul, ditambah sentimen eksternal dari memanasnya perang dagang antara AS dan Tiongkok.

"Kalau data transaksi berjalan ini dirilis saat jam buka pasar, tentu akan mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Bila defisi transaksi berjalan masih negatif di atas lima miliar dolar AS bisa jadi faktor tekanan untuk Rupiah," kata Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Di kuartal IV 2018, defisit transaksi berjalan Indonesia membengkak hingga US$ 9,1 miliar atau 3,57% Produk Domestik Bruto (PDB). Bank Indonesia (BI) sebelumnya meyakinkan bahwa defisit transaksi berjalan di kuartal I 2019 akan lebih rendah dibanding kuartal IV 2018.

Adapun, Bank Sentral akan mengumumkan data transaksi berjalan dan data neraca pembayaran Indonesia pada Jumat siang ini.

Pada Jumat pagi ini, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat 0,17% menjadi Rp14.320 per dolar AS di perdagangan pasar spot, Jumat.

Meski dibuka terapresiasi, rupiah masih memiliki probabilitas untuk melemah. Terlebih, pelemahan rupiah pada beberapa hari terakhir sudah menembus ke atas kisaran resisten Rp14.340 per dolar AS.

Sentimen dari eksternal juga cukup besar menyusul sikap pelaku pasar yang menanti-nanti hasil kunjungan Wakil Perdana Menteri Tiongkok  Liu He ke Washington AS akhir pekan ini.

Gonjang-ganjing hubungan dagang negara ekonomi raksasa dunia, AS dan Tiongkok  sudah mengganggu pasar dalam beberapa hari terakhir. Pelaku pasar sempat berekspetasi positif, setelah perundingan Washington dan Beijing berjalan mulus, namun ekspetasi itu sirna setelah Presiden AS Trump mengancam akan menaikkan bea impor untuk Tiongkok.

Dalam cuitannya, Trump menuduh Tiongkok melanggar janji. Oleh karena itu, dia akan menaikkan bea masuk untuk importasi produk-produk China senilai US$ 200 miliar dari 10% menjadi 25%, pada 10 Mei 2019.

Menyikapi ancaman AS ini, negeri "Tirai Bambu" memanaskan bara perseteruan dengan menyatakan akan melakukan serangan balik.  

Sumber : ANTARA

BAGIKAN