Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Haryo Kuncoro, Direktur Riset SEEBI (the Socio-Economic & Educational Business Institute) Jakarta, Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, Doktor Ilmu Ekonomi Lulusan PPs-UGM Yogyakarta

Haryo Kuncoro, Direktur Riset SEEBI (the Socio-Economic & Educational Business Institute) Jakarta, Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, Doktor Ilmu Ekonomi Lulusan PPs-UGM Yogyakarta

‘Sehat’ Tetapi ‘Penyakit’-nya Masih Eksis

Sabtu, 21 November 2020 | 11:49 WIB
Nasori ,Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Guru Besar FEB Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Haryo Kuncoro mengatakan, neraca transaksi berjalan terdiri atas neraca barang dan neraca jasa. Selama ini, neraca barang mengalami surplus namun besarannya tidak mampu menutup defisit neraca jasa.

“Surplusnya neraca barang didorong oleh penurunan impor yang implisit adalah pelemahan aktivitas ekonomi domestik. Neraca jasa masih tetap defisit, bersumber dari bolongnya jasa transportasi wisatawan, informasi dan telekomunikasi terimbas Covid-19. Artinya, sumber penyakit di neraca jasa belum terobati. Alhasil, surplusnya NTB adalah semu. Gejalanya ‘sehat’ tetapi ‘penyakit’-nya masih eksis. Reformasi struktural mutlak untuk mengangkat penyakitnya,” kata Haryo Kuncoro kepada Investor Daily, Jumat (20/11).

Neraca transaksi berjalan tahunan
Neraca transaksi berjalan tahunan

Hal itu menanggapi neraca transaksi berjalan Indonesia yang secara kuartalan kembali membukukan surplus setelah hampir sembilan tahun mengalami defisit. Pada kuartal III-2020, transaksi berjalan mencatat surplus US$ 1 miliar (0,4% dari PDB), setelah pada kuartal sebelumnya defisit sebesar US$ 2,9 miliar (1,2% dari PDB).

Neraca transaksi berjalan kuartalan
Neraca transaksi berjalan kuartalan

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)-Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky berpandangan, neraca transaksi berjalan yang kembali surplus pada kuartal III-2020 bukan merupakan pencapaian yang patut dibanggakan. Pasalnya, bila ditelaah lebih dalam, hal itu bukan dikarenakan oleh aktivitas ekonomi domestik yang membaik.

“Ini kondisi extra ordinary. Jangan terlalu bangga dulu, kalau dibedah lebih dalam lagi, data-datanya sebenarnya tidak terlalu menyenangkan. Transaksi berjalan yang kembali surplus ini bukan karena perbaikan ekspor, tapi penurunan nilai impor yang jauh lebih dalam. Impor yang turun tajam ini adalah pertanda aktivitas ekonomi domestik belum recover,” ujar Riefky saat dihubungi pada Jumat (20/11) malam.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)-Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)-Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky

Ia justru mengkhawatirkan, gejala penurunan impor yang dalam tersebut akan diikuti oleh kondisi likuiditas di dalam negeri yang meningkat akibat rendahnya permintaan kredit untuk membiayai aktivitas ekonomi. Dampak selanjutnya adalah profitabilitas perbankan yang menurun, bahkanrasio kredit bermasalah (nonperforming loan) pun kini mulai meningkat.

Riefky menyarankan agar pemerintah tidak telalu fokus pada data-data ekonomi, tapi lebih fokus pada upaya membangun keyakinan masyarakat dan pelaku usaha untuk kembali melakukan kegiatan ekonomi. Caranya adalah dengan menunjukkan keseriusan dan konsistensi implementasi kebijakan dalam menangani masalah kesehatan dan pandemi Covid-19.

Naraca Pembayaran Indonesia (NPI) Tahunan
Naraca Pembayaran Indonesia (NPI) Tahunan

Menurut Riefky, data-data ekonomi hanyalah dampak atau hasil dari langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah. Kalau isu utamanya yaitu masalah kesehatan tidak tertangani dengan baik, maka pemulihan ekonomi (recovery) akan sulit dicapai.

“Tidak ada recovery ekonomi, tanpa recovery kesehatan. Menurut saya, penyelesaian masalah kesehatan adalah stimulus ekonomi yang paling baik,” tandas dia. (ts/ns/sny)

Baca juga

https://investor.id/macroeconomics/neraca-transaksi-berjalan-surplus-us-1-miliar

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN