Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Sentimen Positif Kebijakan Pemerintah

Oleh Nasori dan Triyan Pangastuti, Senin, 17 September 2018 | 15:38 WIB

Dihubungi terpisah, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah menuturkan, penguatan rupiah merupakan bentuk sentimen positif atas kebijakan pemerintah yang sudah diterapkan.

Meski demikian, menurut dia, kemungkinan besar BI akan ikut menaikkan suku bunga acuan jika The Fed menaikkan The Fed fund rate. “Namun sentimen ini sangat jangka pendek, sebab kebijakannya belum berdampak. Jadi, bukan berarti kita bisa santai-santai, karena sumber tekanan masih ada,” kata dia.

Sementara terkait dengan posisi kepemilikan asing di SBN yang berkurang dan porsi domestik dalam SBN yang masih kecil, menurut Piter, tidak masalah, karena BI bisa masuk dan ada kepentingan untuk memupuk kepemilikan SBN sebagai instrumen moneter. “Kini saatnya untuk BI masuk dan stabilisasi harga SBN. Sambil jalan, memang tidak mudah untuk meningkatkan domestik”, jelas dia.

Sementara terkait yield SBN sebesar 8,25% yang belum menarik bagi investor asing, menurut Piter, yang dilihat asing adalah tidak hanya return tetapi juga return up the risk.

“Masalahnya volatilitas rupiah masih tinggi, rupiah berpengaruh minat investor asing. Untuk menguatkan rupiah, BI dan pemerintah harus fokus perbaiki current account. Itu bisa membuat rupiah lebih strong dan lebih jangka panjang,” tandas dia.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu), porsi kepemikan asing di SBN per 12 September 2018 susut menjadi 36,81%. Asing sempat mencatatkan posisi kepemilikan tertinggi pada 25 Januari 2018, yaitu sebesar 41,29%. Sementara jumlah SBN yang dimilik investor asing per 12 September mencapai Rp 835,25 triliun.

Menurut Piter, di negara lain kepemilikan asing hanya 10%, sisanya 90% dimiliki investor domestik. Kepemilikan yang didominasi asing ini yang menyebabkan Indonesia gampang terkena tekanan dan lebih fragile. Oleh karena itu pemerintah harus segera meningkatkan kepemilikan SBN bagi domestik.

“Instrumen SBN itu harus lebih variatif. Pemerintah mengelaurkan ORI Ritel, tapi juga harus bisa diperjualbelikan, sehingga menarik. Investasi bisa dilakukan untuk jangak pendek dengan menghasilkan capital gain,” tutur dia. (bersambung)


 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/macroeconomics/imbal-hasil-sbn-825-tak-cukup-menarik/180435

BAGIKAN