Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Badan Pusat Statistik (BPS). Foto ilustrasi: IST

Badan Pusat Statistik (BPS). Foto ilustrasi: IST

Sesuai Ekspektasi, Ekonomi Kuartal III Tumbuh 5,02%

Arnoldus Kristianus, Rabu, 6 November 2019 | 15:13 WIB

JAKARTA, investor.id - Perekonomian nasional pada triwulan III-2019 tumbuh 5,02% secara tahunan (year on year/yoy) dan 3,06% secara kuartalan (quarter to quarter/q to q). Angka itu sesuai ekspektasi pasar. Sampai akhir tahun, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,05-5,1%.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I, II, dan III jauh lebih baik dibanding negara-negara lain. Pada kuartal I dan II, perekonomian nasional tumbuh 5,07% dan 5,05% (yoy). “Meski tidak terlalu menggembirakan, angka itu masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain,” kata Suhariyanto di Jakarta, Selasa (5/11).

Sebagai perbandingan, menurut Kepala BPS, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal I, II, dan III-2019 masing-masing hanya tumbuh 3,1%, 2,3%, dan 2%. Ekonomi Korea Selatan juga cuma tumbuh 2,1%, 2%, dan 2%. Bahkan, ekonomi Singapura pada periode yang sama hanya bertumbuh 2,6%, 0,1%, dan 0,1%.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

Dia mengakui, dengan pencapaian itu, pertumbuhan ekonomi nasional sampai akhir tahun ini diperkirakan di bawah asumsi APBN sebesar 5,3%. “Tapi kalau dibandingkan negara-negara lain, meski melambat, pertumbuhan ekonomi kita tidak terlalu curam," ujar dia.

Suhariyanto menjelaskan, salah satu penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional adalah kondisi ekonomi global yang masih diselimuti ketidakpastian akibat perang dagang antara AS dan Tiongkok. “Harga komoditas juga mengalami fluktuasi menuju penurunan. Itu berdampak pada pelemahan ekonomi di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang,” tutur dia.

Dia mengungkapkan, perekonomian Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku kuartal III-2019 mencapai Rp 4 .067,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp 2.818,9 triliun.

Dari sisi produksi, kata Suhariyanto, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 terhadap kuartal III-2018 sebesar 5,02% (yoy) didorong hampir semua lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha jasa lainnya sebesar 10,72%.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) sebesar 7,44%.

Pertumbuhan dan Kontribusi PDB menurut lapangan usaha, dan menurut pengeluaran
Pertumbuhan dan Kontribusi PDB menurut lapangan usaha, dan menurut pengeluaran

Kepala BPS menambahkan, ekonomi kuartal III-2019 terhadap kuartal sebelumnya meningkat 3,06% (q to q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha pengadaan listrik dan gas sebesar 4,94%. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai komponen ekspor barang dan jasa sebesar 10,87%.

Secara tahun kalender (calendar to calendar/c to c), menurut Suhariyanto, ekonomi Indonesia sampai kuartal III-2019 tumbuh 5,04%. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha jasa lainnya sebesar 10,49%. Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai komponen PK-LNPRT sebesar 13,15%.

Suhariyanto mengemukakan, struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada kuartal III-2019 didominasi kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia, yakni 59,15%, diikuti Pulau Sumatera sebesar 21,14%, dan Pulau Kalimantan 7,95%. Adapun Pulau Sulawesi dengan kontribusi 6,43% memiliki laju pertumbuhan tertinggi.

Pertumbuhan PDB dan pertumbuhan ekonomi Indonesia
Pertumbuhan PDB dan pertumbuhan ekonomi Indonesia

Menurut Kepala BPS, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 terhadap kuartal III-2018 (yoy) terjadi pada hampir semua komponen. Pertumbuhan tertinggi dicapai komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) sebesar 7,44%, diikuti komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) sebesar 5,01%. Selanjutnya komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 4,21%.

Berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 (yoy), sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari komponen PK-RT sebesar 2,69%, diikuti komponen PMTB sebesar 1,38%. “Sumber pertumbuhan ekonomi dari komponen lainnya mencapai 0,95%,” ucap dia.

Suhariyanto menjelaskan, struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku kuartal III-2019 tidak menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi komponen PK-RT yang mencakup lebih dari separuh PDB Indonesia, yaitu 56,52%.

Suhariyanto. Foto: IST
Suhariyanto. Foto: IST

Selanjutnya komponen PMTB sebesar 32,32%, komponen ekspor barang dan jasa sebesar 18,75%, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) sebesar 8,36%, komponen perubahan inventori sebesar 1,52%, dan komponen PK-LNPRT sebesar 1,25%. “Komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDB memiliki peran sebesar 18,81%,” ujar dia.

Kepala BPS mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 terhadap kuartal III-2018 (yoy) sebesar 5,02% didukung semua lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai jasa lainnya sebesar 10,72%, diikuti jasa perusahaan 10,22%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 9,19%, serta informasi dan komunikasi 9,15%.

Sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi kuartal III-2019 (yoy) berasal dari lapangan usaha industri pengolahan sebesar 0,86%, diikuti perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor 0,63%, konstruksi 0,56%, serta informasi dan komunikasi 0,47%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dari lapangan usaha lainnya mencapai 2,50%.

Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 merupakan yang terendah dibanding kuartal III tahun-tahun sebelumnya sejak 2016.

Perkiraan BI

Dody Budi Waluyo. Foto: IST
Dody Budi Waluyo. Foto: IST

Secara terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 sejalan dengan perkiraan BI, yaitu sedikit di atas 5%. “Sektor konsumsi rumah tangga tumbuh sesuai prediksi, yaitu pada kisaran 5%,” kata dia.

Meski demikian, Doddy mengakui, investasi (PMTB) yang menjadi penopang terbesar kedua setelah konsumsi rumah tangga tumbuh tidak setinggi perkiraan. Ini sejalan dengaa analisis BI atas investasi nonbangunan bahwa banyak perusahaan yang menahan untuk tidak melakukan kegiatan investasi baru atau perluasan kegiatan usaha karena menunggu kepastian berusaha.

“Investasi yang terus berjalan adalah investasi terkait pembangunan infrastruktur yang banyak berhubungan dengan program strategis nasional. Di sisi lain, kinerja ekspor lebih baik dibandingkan perkiraan dan mulai tumbuh positif. Ini mengindikasikan perbaikan pada kondisi eksternal,” papar dia.

Menurut Dody Budi Waluyo, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan, investasi harus didorong. Selain itu, belanja APBN (konsumsi pemerintah) harus digenjot.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan
Laju Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan

Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional membaik pada kuarta IV-2019 dan tahun depan. “Salah satunya berasal dari dampak bauran kebijakan moneter dan makroprudensial BI yang akomodatif serta ekspansi fiskal dan reformasi struktural yang dilakukan pemerintah,” tandas dia.

Dody menjelaskan, dampak bauran kebijakan yang telah dilakukan BI dan pemerintah akan terus berlanjut. “Peluang pelonggaran kebijakan ke depan tentunya akan tetap memerhatikan stabilitas makro dan pasar keuangan. Dengan begitu, kondisi akan tetap kondusif bagi sustainability pertumbuhan. Juga untuk menjaga keyakinan pelaku ekonomi tetap positif terhadap perekonomian domestik,” tegas Dody.

Belanja Pemerintah

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, khususnya untuk menahan pelambatan dan ketidakpastian ekonomi global akibat perang dagang.

Airlangga Hartarto. Foto: IST
Airlangga Hartarto. Foto: IST

"Perekonomian kita punya pasar domestik yang bagus. Sedangkan negara-negara lain, seperti Singapura dan Hong Kong, memang sudah slowdown," ucap Airlangga di Jakarta, Selasa (5/11).

Menurut Airlangga, resesi di Hong Kong dan Singapura tidak banyak berpengaruh karena Indonesia tak banyak memiliki perdagangan langsung dengan Hong Kong. Hong Kong selama ini hanya menjadi negara transshipment atau transit pengapalan barang ke negara lain.

Pemerintah, kata Airlangga, sudah memiliki strategi untuk menangkal dan menghindar dari dampak resesi. Salah satunya, Indonesia akan terlibat secara aktif dalam negosiasi pakta perdagangan bebas dan kemitraan ekonomi komprehensif regional (RCEP).

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada akhir 2019 berada pada kisaran 5,05% hingga 5,06%. "Kami masih melihat bisa tumbuh pada level 5,05-5,06%," kata Suahasil di Jakarta, Selasa (5/11).

Menurut Suahasil, salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mendukung kinerja perekonomian hingga akhir tahun adalah mengoptimalkan belanja pemerintah.

"Kami pastikan di tengah perlemahan global yang berimbas pada perlemahan penerimaan, belanja akan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi," tegas dia.

Wamenkeu Dia menjelaskan, optimalisasi belanja pemerintah telah dilakukan dengan memperlebar defisit anggaran ke kisaran 2,0% hingga 2,2% terhadap PDB.

"Belanja tetap dikeluarkan, tapi tidak boleh dihambur-hamburkan. Jadi, belanjanya efisien dan mendukung pertumbuhan. Kalau mendukung, maka mungkin defisitnya melebar," tandas dia.

Sesuai Ekspektasi

Peneliti ekonomi senior Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan RI Eric Sugandi mengatakan, pertumbuhan PDB pada kuartal III-2019 sejalan dengan perkiraan kalangan ekonom dan sesuai ekspektasi pasar. Itu sebabnya pula, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 1,36% ke level 6.264,15.

Eric Sugandi. Foto: ipotnews.com
Eric Sugandi. Foto: ipotnews.com

Perihal pertumbuhan ekonomi kuartal IV tahun ini, Eric mengemukakan, setiap tahun pertumbuhan ekonomi kuartal IV cenderung melambat dilihat dari kuartal. Sebab kegiatan produksi cenderung melambat menjelang akhir tahun.

“Pertumbuhan full year 2019 akan berada di kisaran 5% sampai 5,1%. Jadi, di bawah target pemerintah sebesar 5,3%,” ucap dia.

Eric menjelaskan, perang dagang antara AS dan Tiongkok berpengaruh negatif terhadap kinerja ekspor Indonesia dan ikut menekan pertumbuhan PDB. Sedangkan konsumsi rumah tangga mulai melambat.

“Pada kuartal IV-2019 ada faktor musiman, yaitu Natal dan Tahun Baru yang akan membantu pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Tetapi diperkirakan tidak akan sebesar saat Lebaran dan Ramadan,” tutur dia.

Menurut Eric Sugandi, agar perekonomian nasional tahun depan tumbuh 5,3%, pemerintah harus menjaga daya beli masyarakat. Konsumsi rumah tangga dijaga agar dapat menjadi bantalan saat pertumbuhan ekonomi global melambat.

Dia mencontohkan, kenaikan iuran BPJS dan tarif dasar listrik (TDL) yang direncanakan pemerintah tahun depan bakal berpengaruh terhadap daya beli kelompok menengah ke bawah dan bisa ikut menekan konsumsi rumah tangga.

“Idealnya pemerintah memberikan bantuan atau kompensasi bagi kelompok menengah ke bawah yang terdampak. Misalnya lewat BLT (bantuan langsung tunai) dan raskin (beras untuk rumah tangga miskin raskin), atau proyek padat karya,” papar dia.

Eric menambahkan, penurunan suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) juga diharapkan mampu membantu pertumbuhan ekonomi lewat jalur investasi dan konsumsi. “Namun, penurunan suku bunga ini dari sisi supply kredit. Sisi demand kreditnya juga ditentukan pertumbuhan konsumsi, sebab debitur cenderung tidak agresif meminjam jika permintaan terhadap produk mereka masih lemah,” ujar dia.

Atas dasar itu, Eric Sugandi memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 bakal tumbuh pada kisaran 5% sampai 5,2%.

Tumbuh 5,05%

Di sisi lain, ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani mengatakan, jika dilihat dari awal tahun, pertumbuhan ekonomi kuartal III terus melemah. Apalagi pengeluaran pemerintah menurun saat ekonomi melambat. “Padahal, belanja menjadi salah satu langkah penting dalam counter cyclical kebijakan ekonomi,” tandas dia.

Head of Industry and Regional Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani. Foto: id.linkedIn
Head of Industry and Regional Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani. Foto: id.linkedIn

Dendi memperkiraka n pertumbuhan ekonomi 2019 mencapai 5,05% karena waktu yang tersisa hanya tinggal satu kuartal. Adapun tahun depan, prospek pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada kebijakan pemerintah dalam mengelola anggaran untuk bisa menjadi pendorong perekonomian.

“Belanja pemerintah harus lebih agresif dan terarah pada pos-pos pengeluaran yang memiliki dampak pengganda (multiplier effect) tinggi. Pada saat yang sama, belanja harus dilakukan, tentunya belanja negara harus dalam porsi efisien dan efektif,” tegas dia.

Dia menambahkan, faktor eksternal kemungkinan tidak terlalu mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Soalnya, permintaan dunia melemah sehingga ekspor sulit tumbuh tinggi. Harga komoditas pun bakal berada pada level moderat. (az)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA