Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sri Mulyani. Foto: IST

Sri Mulyani. Foto: IST

Tiga Ketidakpastian Global Picu Kurs Rupiah di 14.000-15.000

GR, Kamis, 13 Juni 2019 | 16:32 WIB

JAKARTA- Tiga ketidakpastian global yang diperkirakan masih terjadi pada 2020 akan mendorong bergeraknya kurs rupiah ke Rp14.000 hingga Rp15.000 per dolar AS, di mana asumsi kurs dari pemerintah itu lebih lemah dibandingkan perkiraan Bank Indonesia yang sebesar Rp13.900-Rp14.300 per dolar AS.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat dengan Komisi XI DPR terkait Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2020 di Jakarta, Kamis, mengatakan tiga sumber ketidakpastian global itu adalah, pertama berlanjutnya perang dagang yang terus dilakukan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Berlarutnya perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi dunia itu menimbulkan perkiraan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.

"Ada risiko berlanjutnya perang dagang, dan dampaknya ke pertumbuhan ekonomi dunia, di tengah pertumbuhan ekonomi global yang masih relatif lemah," ujar dia.

Fenomena kedua yang bisa menjadi sumber gejolak, adalah masih tingginya impor, karena Indonesia membutuhkan investasi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Salah satu indikator investasi yakni Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ditargetkan Sri Mulyani pada 2020 untuk tumbuh 7 -7,4%.

Pertumbuhan investasi di rentang tersebut dibutuhkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi ke rentang 5,3% hingga 5,6% pada 2020. Sedangkan, sumber tekanan terhadap kurs yang ketiga adalah stagnasi harga komoditas yang akan mempengaruhi kinerja ekspor Indoneisa.

Seperti diketahui, Indonesia masih mengandalkan komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah untuk ekspor.

"Namun, selain depresiasi, di 2020, ada juga faktor yang akan mendorong apresiasi rupiah seperti tidak berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter The Fed, Bank Sentral AS, dan masuknya arus modal asing seiring membaiknya perekonomian domestik," kata Sri.

Selain asumsi kurs, Menkeu juga mengajukan beberapa asumsi makro kepada Komisi XI DPR untuk menjadi Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2020 yakni pertumbuhan ekonomi 5,3-5,6%, inflasi 2-4% (yoy), tingkat bunga Surat Perbendaharaan Negara (SBN) tiga bulan 5 - 5,6 %, nilai tukar Rp14.000 - Rp15.000 per dolar AS, harga minyak mentah US$ 60-70 per barel.

Sumber: ANTARA

BAGIKAN