Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja menukar tabung gas LPG 3 kg di agen LPG kawasan Cibubur, Jakarta, Jumat (26/2/2021). Foto ilustrasi:  BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Pekerja menukar tabung gas LPG 3 kg di agen LPG kawasan Cibubur, Jakarta, Jumat (26/2/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Tingkatkan Akurasi Penyaluran, Pemerintah akan Ubah Skema Subsidi LPG 3 KG

Rabu, 7 April 2021 | 16:36 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Dirjen  Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata mengatakan mengatakan pemerintah akan melakukan transformasi subsidi LPG 3 KG dan minyak tanah menjadi bantuan non tunai (subsidi langsung) sinergi/integrasi dengan bantuan sosial lainnya berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Pelaksanaan transformasi akan dilakukan  secara berhati-hati dan bertahap mempertimbangkan kondisi sosial dan perekonomian,” ucap Isa dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR pada Rabu (7/4).

Ia mengatakan  pelaksanaan subsidi belum berjalan optimal. Hal ini  terjadi karena  data yang ada belum memadai sehingga terjadi penyaluran subsidi yang tidak tepat sasaran.  Pada saat yang sama masih sejumlah tantangan dalam penyaluran subsidi.

“Kami melihat integrasi data penerima susbidi listrik dan LPG 3 kg  dengan DTKS  belum berjalan dengan baik,” ucap Isa.

Dirjen Kekayaan Negara Kemenkeu Isa Rachmatarwata
Dirjen Kekayaan Negara Kemenkeu Isa Rachmatarwata

Kendala berikutnya yaitu  distribusi subsidi LPG 3 kg  masih bersifat terbuka. Dari sisi  volatilitas parameter, kondisi nilai tukar rupiah dan  harga minyak mentah  mempengaruhi harga produk BBM , LPG dan listrik.

“Hal ini memang jadi tantangan nampaknya tidak mudah kita kendalikan memang harus cari cara cara yang lebih baik untuk bisa prediksi lebih baik dan mencari cara dalam bentuk hedging. Volume konsumsi yang cenderung meningkat jadi tantangan tersendiri,” ucapnya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan selama ini terjadi fluktuasi selisih antara  harga jual eceran  dengan harga patokan LPG. Pada tahun 2020 selisih harganya sebsar Rp 5000 dan pada tahun 2021 ini sekitar Rp 6000 sampai Rp 7000. Dari sisi penerima juga masyarakat miskin menikmati  36% saja dari total subsidi.

“Sementara 40% masyarakat terkaya justru menikmati 39,5 % dari total subsidi,” ucap Febrio.

Ia juga mengatakan  72,1% LPG adalah impor, hanya 27,9% yang berasal dari produksi gas domestik. Menurut Febrio kebijakan untuk subsidi LPG harus diperbaiki. “Ini menjadi suatu urgensi yang sangat tinggi, Ini menjadi kebijakan yang harus kita perbaiki dengan segera,” ujar Febrio.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN