Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Profil utang Luar Negeri Indonesia

Profil utang Luar Negeri Indonesia

Utang Luar Nergeri RI Naik Lagi Jadi Rp 5.501,6 Triliun

Nasori, Rabu, 15 Januari 2020 | 10:41 WIB

JAKARTA, investor.id - Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir November 2019 tercatat US$ 401,4 miliar atau setara dengan Rp 5.501,6 triliun, yang berarti tumbuh 8,3% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ULN Indonesia ini melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 12,0% (yoy).

Bank Indonesia (BI) dalam publikasi  Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Januari 2020, Rabu (15/1), meyebutkan perkembangan ULN akhir November 2019 tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN baik pemerintah maupun ULN swasta.

“Total ULN US$ 401,4 miliar itu terdiri atas ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar US$ 201,4 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$ 200,1 miliar,” tulis Bank Indonesia dalam publikasi tersebut.

Bank sentral memaparkan, posisi ULN pemerintah pada akhir November 2019 tercatat sebesar US$ 198,6 miliar atau tumbuh 10,1% (yoy). Pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 13,6% (yoy).

“Posisi ULN pemerintah tersebut juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya, terutama karena pelunasan pinjaman bilateral dan multilateral yang jatuh tempo pada periode laporan,” tulis BI.

Sedangkan posisi ULN Swasta yang US$ 200,1 miliar pada akhir November 2019 itu swasta tumbuh 6,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 10,7% (yoy).

“Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh cukup tingginya pelunasan surat berharga domestik yang jatuh tempo, meskipun pada periode yang sama terdapat penerbitan surat utang perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) dan penarikan pinjaman oleh perbankan,” pungkas BI.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA