Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di markasnya di Jenewa, Swiss( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di markasnya di Jenewa, Swiss( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

WHO Rekomendasikan Kenaikan Tarif Cukai Rokok 25% Per Tahun

Minggu, 18 Oktober 2020 | 15:02 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia untuk menaikkan tarif cukai rokok 25% setiap tahun. Dengan kenaikan itu diyakini akan menurunkan tingkat perokok usia anak sehingga bisa mendorong mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Tidak hanya untuk meningkatkan pajak atau cukai saja, tapi juga penting untuk melakukan simplifikasi struktur pajak dan cukai. Indonesia merupakan satu negara yang sangat kompleks dalam hal struktur pajak,” ucap Head of Fiscal Policies for Health Unit Head Promotion Department WHO Quarter Jeremias N Paul dalam seminar daring bertajuk Teka-Teki Cukai di Masa Pandemi, Jakarta, Jumat (16/10).

Ia mengatakan, struktur pajak dan cukai harus dibuat secara sederhana dan spesifik sehinigga bisa membuat proporsi pajak yang semakin tinggi dan harga rokok menjadi tidak terjangkau. Dalam hal ini negara harus melakukan intervensi.

“Saat ini Indonesia memiliki struktur pajak yang sangat kompleks, sementara peningkatan cukainya tidak cukup untuk mengurangi keterjangkauan harga,” ucap dia.

Menurut Jeremias, penyesuaian kenaikan harga rokok dengan inflasi tidak akan berdampak terlalu besar kepada tingkat konsusmi. Perlu ada tindakan lebih lanjut untuk melakukan pengendalian tembakau. Dengan kenaikan tarif cukai hingga 25% maka akan terjadi penurunan jumlah perokok termasuk jumlah orang yang meninggal karena dampak penyakit komplikasi dari merokok.

“Pajak tembakau yang tinggi merupakan salah satu cara yang efektif dan mendatangkan dampak mengurangi penggunaan tembakau,” ucap dia.

Jeremias mengatakan, pengendalian tembakau bukan hanya kewajiban Kementerian Kesehatan saja. Dalam hal ini, pengenaan tarif cukai menjadi tanggung jawab dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Lebih lanjut Jeremias mengatakan agar kebijakan ini bisa berjalan efektif maka harus dikerjakan secara lintas sektor.

“Dengan menggunakan pendekatan yang lintas pemerintah dan masyarakat,” ucap nya.

Kepala Sub-Bidang Cukai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Sarno mengatakan, pemerintah masih melakukan pembahasan untuk menentukan tarif kenaikan cukai rokok pada 2021. Dalam hal ini kebijakan cukai rokok akan berdampak bagi banyak pihak baik petani tembakau, industri tembakau, dan konsumen rokok sendiri.

Dalam hal ini ada dua sektor yang saling beradu yaitu kesehatan dan industri.

“Kemenkeu sebagai sentra yang harus bisa menangani semua ini. Karena sulit juga, kalau dinaikkan seperti 2020. Ini agak eksesif 23%, dibilang agak prokesehatan. Sedangkan kalau kami mau naikkan moderat nanti dibilang proindustri. Ini yang masih dibahas agar kebijakan adil,” ucap Sarno.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 ditargetkan bisa menurunkan prevalensi perokok usia anak yaitu 10 sampai 18 tahun, dari 9,1% ke 8,7%.

Lebih lanjut Sarno mengatakan, dari beberapa penelitian menunjukkan untuk bisa menurunkan konsumsi rokok rata-rata kenaikan tarif cukai rokok yang dilakukan adalah sekitar 10%.

Sehingga, apabila tarif cukai rokok dinaikan 10% maka dampaknya akan menurunkan rata-rata 1% sampai 2% konsumsi rokok.

“Ini juga dibuktikan dari data 2013 sampai 2018 penurunan konsumsi rokok turun 1% sampai 2% dengan kenaikan tarif cukai rokok sekitar 10%. Kalau tahun depan berapa kenaikan tarif cukai belum bisa kita sampaikan karena masih dalam tahap pembahasan,” pungkas Sarno.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN