Kamis, 23 Maret 2023

BI: Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 Diprediksi 2,6%

Arnoldus Kristianus
16 Mar 2023 | 16:03 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bulan Maret 2023 pada Kamis (16/03/2023).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bulan Maret 2023 pada Kamis (16/03/2023).

JAKARTA, Investor.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat mencapai 2,6% sepanjang 2023. Proyeksi tersebut sejalan dengan dampak positif pembukaan ekonomi Tiongkok dan penurunan disrupsi suplai global.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa lebih baik dari proyeksi sebelumnya, hal ini diikuti oleh risiko resesi yang terus turun.

“BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 akan mencapai 2,6%. Perbaikan prospek ekonomi global diperkirakan menaikkan harga komoditas non-energi, di tengah harga minyak yang menurun akibat berkurangnya disrupsi suplai,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bulan Maret 2023 pada Kamis (16/03/2023).

Advertisement

Perry menuturkan, perkembangan ekonomi global serta ekspektasi kenaikan upah, karena keketatan pasar tenaga kerja di AS dan Eropa mengakibatkan proses penurunan inflasi global berjalan lebih lambat. Hal tersebut mendorong kebijakan moneter ketat negara maju berlangsung lebih lama sepanjang 2023. Pengetatan kebijakan moneter bersamaan munculnya kasus penutupan tiga bank di AS, meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global yang menahan aliran modal ke negara berkembang dan meningkatkan tekanan nilai tukar di berbagai negara.

“BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah guna memitigasi ketidakpastian pasar keuangan global, termasuk dampak rambatan penutupan bank di AS terhadap pasar keuangan domestik dan nilai tukar rupiah,” tandas Perry.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat didorong peningkatan permintaan domestik dan ekspor. Konsumsi rumah tangga diperkirakan makin kuat sejalan dengan peningkatan mobilitas di seluruh wilayah, penjualan eceran, dan membaiknya keyakinan konsumen.

Menurut Perry, pertumbuhan investasi berjalan solid karena ditopang penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) dan meningkatnya aliran masuk Penanaman Modal Asing (PMA). Prospek permintaan domestik yang meningkat juga dipengaruhi dampak lanjutan perbaikan ekspor.

“Ekspor barang dan jasa diprakirakan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya seiring perbaikan prospek ekonomi global,” kata Perry .

Dari kondisi yang terjadi hingga Februari 2023 menunjukkan ekspor nonmigas Indonesia tumbuh tinggi, termasuk dari peningkatan ekspor batu bara, bijih logam, dan crude palm oil (CPO) ke Tiongkok. Selain itu, kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara diprakirakan juga meningkat.

Secara spasial, prospek ekspor yang lebih baik mendukung prospek ekonomi di wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) yang lebih tinggi. Berdasarkan lapangan usaha, prospek sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi dan pergudangan diperkirakan tumbuh kuat.

“Dengan berbagai perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi pada 2023 diperkirakan akan bias ke atas dalam kisaran 4,5 sampai 5,3%,” kata Perry.

Editor: Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Finance 6 menit yang lalu

Ekonom Proyeksi BI Pertahankan Suku Bunga 5,75% Sepanjang 2023

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memproyeksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI7DRR) sebesar 5,75% tahun ini.
Business 1 jam yang lalu

Riset Snapcart: Gratis Ongkir Jadi Daya Tarik Konsumen untuk Belanja Online

Penawaran menarik khususnya gratis ongkir sepertinya akan selalu menjadi salah satu kunci daya tarik utama
International 1 jam yang lalu

Bank Sentral Swiss Naikkan Suku Bunga 50 bps di Tengah Kekacauan

Bank sentral Swiss (Swiss National Bank/ SNB) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps) pada Kamis (23/3).
Market 2 jam yang lalu

Kekayaan Lim Hariyanto Pemilik Harita Melonjak, Geser Posisi 12 Konglomerat!

Kekayaan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, pemilik Grup Harita, tiba-tiba melonjak. Bahkan mengalahkan 12 atau selusin konglomerat.
Business 2 jam yang lalu

Ini Bukti Komitmen Ekonomi Berkelanjutan GRP

PT Gunung Raja Paksi (GRP) berkomitmen penuh menerapkan prinsip environment, social, and governance (ESG) dalam menjalankan roda perusahaan.
Copyright © 2023 Investor.id