Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Bursa Efek Indonesia. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Bursa Efek Indonesia. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

10 Perusahaan Ajukan Izin 'Equity Crowdfunding'

Gita Rossiana, Rabu, 25 September 2019 | 20:31 WIB

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, ada 10 perusahaan yang akan mengajukan izin sebagai penyelenggara layanan urun dana melalui penawaran saham berbasis teknologi informasi (equity crowdfunding).

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Fakhri Hilmi menjelaskan, pihaknya sangat mendorong perusahaan yang ingin menjadi penyelenggara equity crowdfunding. Pasalnya, layanan ini sangat menbantu perusahaan kecil dan rintisan (start-up).

"Tujuan kami mengembangkan equity crowdfunding untuk mendorong perusahaan kecil dan rintisan memperoleh akses pendanaan di pasar modal," ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (25/9).

Fakhri menyebutkan, sejauh ini, sudah ada 10 perusahaan di pipeline OJK yang akan menjadi penyelenggara equity crowdfunding. Sebelumnya, OJK sudah mengeluarkan izin untuk PT Santara Daya Inspiratama sebagai penyelenggara equity crowdfunding.

Santara Daya Inspiritama berdiri pada 2012 di Yogyakarta. Perusahaan ini fokus dalam penyediaan layanan urun dana bagi kegiatan usaha kecil seperti makanan, peternakan domba, peternakan bebek, perkebunan pepaya dan durian. Dalam kegiatannya Santara memiliki anggota pemodal terdaftar sebanyak 1.082 orang.

Adapun izin bagi Santara ini berdasarkan Keputusan  Dewan  Komisioner  Otoritas  Jasa   Keuangan  Nomor: KEP-59/D.04/2019 tentang Pemberian Izin Usaha Penyelenggara Equity Crowdfunding yang dikeluarkan pada awal September 2019.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis OJK Anto Prabowo mengatakan, OJK mengatur dan mengawasi kegiatan usaha equity crowdfunding. Hal ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan bagi pihak yang terlibat dalam equity crowdfunding.

Dengan kepastian hukum dan perlindungan bagi para pihak tersebut, perusahaan start-up memiliki ruang yang lebih besar untuk bertumbuh. Selain itu, perusahaan perintis juga bisa lebih mudah mengakses pendanaan dari pasar modal.

Anto mengungkapkan, dalam mengawasi perusahaan equity crowdfunding, OJK menerapkan pendekatan pengawasan berbasis market conduct. "Dengan pendekatan tersebut, OJK mendorong penerapan keterbukaan informasi oleh penerbit, terbentuknya penyelenggara yang kredibel, serta terbangunnya sistem teknologi Informasi yang aman dan andal dalam kegiatan urun dana," ujar dia.

Lebih lanjut, penawaran saham oleh penerbit melalui layanan equity crowdfunding tidak termasuk dalam penawaran umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasalnya, penawaran saham dilakukan melalui penyelenggara yang memperoleh izin dari OJK. 

"Penawaran saham juga dilakukan dalam jangka waktu paling lama 12 bulan serta total dana yang dihimpun melalui penawaran saham paling banyak Rp 10 miliar," jelas dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA