Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Monitor perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Monitor perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

10 Sekuritas dengan Nilai Transaksi Terbesar, Mirae Teratas

Rabu, 6 Januari 2021 | 23:11 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Mirae Asset Sekuritas berhasil menjadi broker yang mencatatkan nilai perdagangan saham terbesar sepanjang 2020 senilai Rp 410,27 triliun, dengan total volume 7,44 miliar lot. Hal ini membuat Mirae memiliki pangsa pasar 9,19% pada akhir 2020, melesat dibandingkan akhir 2019 yang sebesar 4,64%.

Berdasarkan data internal Mirae, pada 25 September tahun lalu, pihaknya pertama kali menempati posisi teratas dengan nilai perdagangan terbesar. Pencapaian itu menandakan Mirae menggeser posisi PT Mandiri Sekuritas yang sebelumnya merajai pangsa pasar.

Sepanjang 2020, nilai transaksi perdagangan saham yang dicatatkan Mandiri Sekuritas mencapai Rp 357,53 triliun dengan total volume 4,15 miliar lot. Alhasil, Mandiri Sekuritas menempati urutan dua dengan pangsa pasar 8,01%. Posisi tiga adalah PT Indo Premier Sekuritas yang membukukan nilai transaksi Rp 222,36 triliun dengan total volume 3,26 miliar lot.

Selanjutnya, PT UBS Sekuritas Indonesia berada pada posisi empat yang mencatatkan nilai transaksi perdagangan saham Rp 209,66 triliun dengan total volume 969,84 juta lot. Posisi lima ditempati PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia yang membukukan nilai transaksi Rp 208,13 triliun dengan total volume 1,49 miliar lot.

Kemudian, PT Maybank Kim Eng Sekuritas menduduki peringkat enam dengan nilai transaksi Rp 207,69 triliun dan total volume 1,26 miliar lot. PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia menyusul pada posisi tujuh dengan nilai transaksi Rp 199,67 triliun dan total volume 861,91 juta lot.

Peringkat delapan adalah PT CLSA Sekuritas Indonesia yang membukukan nilai transaksi Rp 164,58 triliun dengan total volume 786,66 juta lot. Masih broker asing, posisi sembilan ditempati PT Macquarie Sekuritas Indonesia dengan nilai transaksi Rp 162,51 triliun dan total volume 534,62 juta lot.

Sementara itu, PT Morgan Stanley Sekuritas Indonesia bertengger pada peringkat 10 dengan nilai transaksi Rp 147,72 triliun dan total volume 475,1 juta lot. Adapun posisi Morgan Stanley per akhir 2020 tersebut turun jauh dari posisi lima pada akhir 2019.

Wealth Management Division Head Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fajrin Noor Hermansyah mengatakan, pencapaian ini merupakan hasil konsistensi Mirae selama ini yang fokus menjadi mitra nasabah ritel di Indonesia. “Perusahaan terus menerus melakukan inovasi untuk meningkatkan kualtas pelayanan kepada nasabah,” kata dia kepada Investor Daily, Rabu (6/1).

Ke depan, menurut Fajrin, pihaknya akan terus mengedukasi masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal. Sebagai informasi, sebanyak 99% saham Mirae dikendalikan oleh Mirae Asset Securities (HK) Ltd dan sisanya 1% oleh PT AITI Investment dan PT SNET Indonesia.

Penggerak utama d ibalik nilai transaksi Mirae adalah investor ritel. Selama pandemi Covid-19, investor ritel masih menjadi investor paling aktif di pasar modal Tanah Air.

Fenomena Influencer

Sementara itu, fenomena artis hingga tokoh masyarakat yang merekomendasikan pembelian saham sejumlah emiten kini menjadi perhatian para pelaku pasar. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan, pihaknya menilai kondisi tersebut merupakan fenomena baru.

“Walaupun ada aturan mengenai ini, yang akan dipakai adalah persuasi dan edukasi kepada para influencer. Kami melihatnya positif, membantu kami untuk market deepening. Kami perlu ajak mereka diskusi supaya tahu risiko-risiko dan dampaknya secara keseluruhan,” jelas dia, baru-baru ini.

Namun, BEI tetap mengingatkan para influencer itu seharusnya punya tanggung jawab moral terhadap para followers. BEI juga akan meminta klarifikasi emiten yang sahamnya disebut-sebut oleh influencer. “Kami telah mengirimkan permintaan penjelasan kepada emiten terkait,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN