Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

127 Emiten Berpeluang Terbitkan 'Commercial Paper'

Senin, 28 September 2020 | 09:43 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, sebanyak 127 emiten berpeluang menerbitkan surat berharga komersial (SBK) atau commercial paper. Aksi korporasi tersebut menindaklanjuti langkah Bank Indonesia (BI) yang menghidupkan kembali instrumen keuangan SBK untuk korporasi.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, emiten yang berpotensi untuk menerbitkan SBK adalah emiten yang telah menerbitkan obligasi atau sukuk di pasar modal dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Hal ini sebagaimana disebutkan dalah Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.19/9/PBI/2017 tentang Penerbitan dan Transaksi SBK Komersial di Pasar Uang.

Sementara sampai 24 September 2020, sudah ada 814 emiten yang tercatat di bursa. Dari 814 emiten tersebut, ada 127 emiten yang telah menerbitkan obligasi atau sukuk. "Terdapat 127 emiten yang telah menerbitkan obligasi atau sukuk sehingga termasuk ke dalam kategori perusahaan yang berpotensi menerbitkan SBK," terang dia dalam keterangan tertulis.

Sedangkan sampai saat ini, sudah ada dua emiten yang menerbitkan SBK. Emiten pertama adalah PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF yang menerbitkan SBK sebesar Rp 120 miliar.

Instrumen ini memiliki tingkat diskonto sebesar 7% dengan satuan perdagangan Rp 500 juta. Jangka waktunya adalah 12 bulan hingga 12 November 2020. PT BNI Sekuritas dan PT Danareksa Sekuritas bertindak sebagai joint lead arrangers dalam penerbitan SBK ini.

Direktur SMF Trisnadi Yulrisman mengatakan, setelah penerbitan SBK tersebut, perseroan belum berencana untuk menerbitkan instrumen baru. Namun, Trisnadi mengapresiasi adanya opsi instrumen baru ini di industri keuangan. "Bagi SMF, Surat Berharga Komersial bisa menjadi diversifikasi pemenuhan kebutuhan pendanaan sehingga source of fund bisa menjadi lebih bervariasi," ucap dia.

Sementara, emiten kedua yang telah menerbitkan SBK adalah PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA. SBK ini memiliki nilai pokok Rp 100 miliar dengan satuan perdagangan Rp 500 juta. Adapun jatuh tempo dari SBK ini adalah hingga 12 bulan ke depan atau sampai 28 November 2020. PT Danareksa Sekuritas bertindak sebagai penata laksana penerbitan atau arranger.

PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebelumnya mengungkapkan akan menerbitkan SBK sebagai salah satu sumber pendanaan perseroan. Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adriyanto mengatakan, Jasa Marga mempertimbangkan penerbitan SBK senilai Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun sebagai alternatif sumber pendanaan ekspansi. Tenor SBI diprediksi lebih pendek, tak lebih dari satu tahun.

Eka menjelaskan, karena SBK merupakan produk baru, sehingga perseroan tidak terlalu menargetkan jumlah yang besar dalam penerbitannya. Selain menjadi alternatif pendanaan, penerbitan SBK juga ditujukan perseroan demi menyemarakkan produk baru yang dibuat oleh Bank Indonesia.

Sebagai informasi, SBK adalah instrumen pasar uang yang memfasilitasi perusahaan menerbitkan surat utang jangka pendek tanpa jaminan di pasar uang. Tenor SBK ini tergolong pendek, yaitu satu bulan, tiga bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan.

Emiten Baru

Lebih lanjut, Nyoman mengungkapkan, sepanjang tahun 2020, sudah ada 135 penerbitan efek baru. Efek baru ini berbentuk saham oleh 46 emiten, obligasi atau sukuk oleh 81 emiten, exchange traded fund (ETF) oleh tujuh emiten dan efek beragun aset (EBA) oleh satu emiten. "Masih terdapat delapan perusahaan yang berencana akan melakukan pencatatan saham," kata Nyoman.

Sebanyak delapan perusahaan yang akan mencatatkan saham berasal dari berbagai sektor, yakni tiga perusahaan dari sektor properti, real estat dan konstruksi bangunan. Kemudian, sebanyak tiga perusahaan berasal dari sektor perdagangan, layanan dan investasi, satu perusahaan dari sektor miscellaneous industry dan satu perusahaan dari sektor pertanian.

Selain itu, terdapat delapan penerbit yang akan menerbitkan 10 emisi obligasi atau sukuk. Nyoman menjelaskan, satu perusahaan dapat menerbitkan lebih dari satu emisi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN