Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Minim Sentimen

Rabu, 4 Oktober 2017 | 12:38 WIB

Di sisi lain, pengamat pasar modal Teguh Hidayat mengatakan, kenaikan IHSG kemarin bukan akibat sentimen pasar, namun lebih pada penguatan teknikal. “Tidak ada sentimen dan faktor fundamental tertentu yang mendorong kenaikan IHSG, terutama dari dalam negeri,” kata dia kepada Investor Daily Jakarta, Selasa (3/10).

 

Menurut Teguh, sejak awal 2017 atau selama tahun berjalan (ytd), IHSG baru naik 12,13%. Kenaikan tersebut masih tergolong moderat normal. Penguatan IHSG di atas kenaikan bursa saham Thailand (9,53%), Jepang (7,85%), dan Malaysia (7,18%).

 

Meski demikian, kenaikan IHSG masih di bawah bursa Hong Kong (28,06%), Filipina (21,52%), India (18,27%), dan bursa saham AS (14,14%).

 

Teguh Hidayat menambahkan, tahun ini sentimen paling besar bagi IHSG berasal dari dalam negeri, seperti ketidakstabilan politik dan keamanan.

 

Tahun lalu, kata dia, IHSG sempat naik 15%, bahkan 22,3% pada 2014. Pada 2015, sentimen terbesar yang menaikkan IHSG adalah program pengampunan pajak (tax amnesty). Program ini dinilai baik oleh para pelaku pasar karena pendapatan pajak akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur, sehingga berpengaruh baik terhadap kondisi ekonomi makro.

 

“Puncak indeks tertinggi tahun lalu adalah pada Agustus-September saat memasuki kuartal III-2016. Sedangkan pada 2015, sentimen utama yang mendorong kenaikan IHSG adalah saat pencalonan Jokowi sebagai presiden dan ketika ia memenanginya,” papar dia.

 

Teguh menjelaskan, sektor utama yang masih jadi penggerak pasar adalah saham-saham sektor keuangan dan sektor konsumi rumah tangga. Tahun lalu, saham sektor keuangan belum naik tinggi akibat isu pembatasan net interest margin (NIM) dan sentimen membengkaknya kredit bermasalah (non performing loan/ NPL).

 

Teguh Hidayat memperkirakan IHSG belum rawan koreksi karena kenaikannya tidak terlampau tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya. “Meskipun akan ada koreksi, penurunannya tidak akan terlalu dalam,” tutur Teguh yang memperkirakan

 

IHSG dalam jangka pendek berada di level resistance 6.000 dengan kemungkinan support akibat koreksi sehat di posisi 5.600- 5.700. (az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN