Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi: Foto: newsklikpositif.com

Ilustrasi investasi: Foto: newsklikpositif.com

17 Perusahaan Bersiap Masuk Bursa Tahun Depan

Thereis Love Kalla, Rabu, 4 Desember 2019 | 21:15 WIB

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, sebanyak 17 perusahaan telah menyampaikan rencana pencatatan saham perdana (listing) di bursa pada 2020. Adapun 17 perusahaan tersebut merupakan bagian dari 33 calon emiten baru yang masuk pipeline BEI.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menegaskan. dalam pipeline per 4 Desember, terdapat 33 perusahaan yang akan menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Namun, menurut Nyoman, dari 33 perusahaan tersebut yang telah menentukan tanggal pencatatan (listing date) tahun ini sebanyak 16 perusahaan. Sisanya akan listing tahun depan.

“Yang menggunakan laporan keuangan September dan Agustus itu sekitar 17 perusahaan, dan perkiraan kita yang efektifnya tahun depan ada sekitar 17, tapi masih menunggu pergerakannya,” ungkap Nyoman di Jakarta, Rabu (4/12).

Menurut Nyoman, tahun ini, BEI menargetkan untuk bisa berhasil membawa 65-70 perusahaan melantai di BEI. Adapun pada tahun lalu, tercatat ada 57 perusahaan yang melantai di BEI. "Paling tidak mudah-mudahan kami bisa memecahkan rekor pencatatan kami. Kita sudah dapat daftarnya juga, sudah konfirmasi, semoga sampai minggu keempat sudah bisa tercatat," jelas dia.

Adapun nama-nama calon emiten baru yang dipublikasikan BEI, yaitu PT lfishdeco, PT Repower Asia, PT Hoppor International, PT Indonesia Fibreboard Industry, PT Diamond Food Indonesia, PT Agro Yasa Lestari, PT Putra Rajawali Kencana, PT Morenzo Abadi Perkasa, PT Putra Mandiri Jembar, PT Esta Multi Usaha, PT Nara Hotel Internasional, PT Royalindo Investa Wijaya.

Kemudian PT Prima Multi Usaha Indonesia, PT Tourindo Guide Indonesia, PT Galva Technologies, PT Bank Amar Indonesia, PT Alamanda Investama, PT Graha Belitung Utama, PT Era Graharealty , PT Cisadane Sawit Raya, dan PT Pratama Widya.

Selanjutnya adalah PT Karya Bersama Anugerah, PT Diamond Citra Propertindo, PT Perintis Triniti Properti, PT Era Mandiri Cemerlang, PT Cahaya Bintang Medan, PT Andalan Sakti Primaindo , PT Aesler Grup Internasional, PT Batulicin Nusantara Maritim, PT Lancartama Sejati, PT Makmur Berkah Amanda.

Dari daftar tersebut, perusahaan yang berpotensi melakukan listing tahun depan, antara lain PT Hoppor International, PT Esta Multi Usaha, PT Graha Belitung Utama, PT Karya Bersama Anugerah, dan PT Makmur Berkah Amanda.

Namun, Nyoman belum bisa menyampaikan target pencapaian BEI terkait jumlah perusahaan yang akan go public. Pasalnya, pihak BEI masih membahas hal tersebut dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Jumlah target perusahaan tercatat kan ada birokrasinya. Kami masih membahas hal ini dengan OJK dan belum disetujui OJK," ujarnya.

1.000 Emiten Baru

BEI optimistis mengejar target 1.000 emiten baru hingga 2022. BEI menyiapkan sejumlah skema untuk menggaet perusahaan dari berbagai skala. Salah satu kelompok emiten yang diincar adalah debitur bank yang memiliki utang di atas Rp 1 triliun, serta penyumbang pajak terbesar.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi pernah mengatakan, dengan jumlah emiten saat ini yang sebanyak 649 perusahaan, pihaknya menyakini target 1.000 emiten dapat tercapai dalam tiga tahun ke depan. Target dapat dikerjar apabila di tahun-tahun mendatang, BEI mampu menjaring setidaknya 100 emiten per tahun.

Dengan pertumbuhan jumlah emiten baru, BEI berpeluang mempertahankan posisinya sebagai negara dengan pertumbuhan jumlah pencatatan saham perdana tertinggi di Asean.

“Tahun lalu, BEI bisa menjaring 57 perusahaan, ini yang tertinggi sejak era privatisasi. Di antara negara-negara ASEAN, BEI itu bisa tumbuh 24% selama lima tahun terakhir, lalu posisi kita diikuti Thailand. Sementara Malaysia sudah saturasi, bahkan Singapura terlihat negatif pertumbuhan jumlah emitennya,” jelas Inarno kepada Investor Daily, belum lama ini.

Tahun ini, kata Inarno, BEI tetap meyakini mampu membukukan pencatatan efek baru sebanyak 75 pencatatan. Nilai itu tidak hanya dari aksi penawaran umum perdana (intial public offering/IPO), tapi juga termasuk Reksa Dana Echange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE) dan Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA). Posisi sepanjang tahun berjalan ini (year to date) sudah tecatat 32 IPO saham, lima ETF, dan tiga dari DINFRA dan DIRE.

Menurut Inarno BEI, guna mengejar target, BEI melakukan sejumlah inisiatif dengan menggelar berbagai roadshow ke sejumlah kota di Indonesia untuk mengedukasi para pemilik perusahaan. Untuk perusahaan berskala besar, BEI memetakan perusahaan mana saja yang potensial untuk go public. Kelompok debitur bank dengan utang lebih dari Rp 1 triliun dianggap punya potensi besar menggelar IPO.

Tak hanya itu, BEI juga mengincar perusahaan yang rajin membayar pajak dengan nilai tinggi. Perusahaan kategori ini juga diperkirakan sangat banyak jumlahnya di Indonesia. Namun, Inarno belum dapat mengungkap nama atau jumlah pasti para perusahaan potensial tersebut.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA