Menu
Sign in
@ Contact
Search

BEI Catat Pipeline Emisi Obligasi Rp 4,6 Triliun

Senin, 12 Februari 2018 | 07:22 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat rencana empat emisi obligasi korporasi dalam waktu dekat. Nilai penerbitan surat utang itu mencapai Rp 4,6 triliun.

 

“Pakai buku September 2017, ini baru. Jadi fund raising kemungkinan Maret 2018,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat di Jakarta, akhir pekan lalu.

 

Adapun emiten yang akan emisi obligasi, salah satunya PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) senilai Rp 2 triliun.

 

Sementara itu, PT Indomobil Finance Indonesia berencana menerbitkan obligasi dengan target dana Rp 1,1 triliun, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) senilai Rp 500 miliar, dan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) sebesar Rp 1 triliun.

 

Menurut Samsul, seluruhnya merupakan senior bond dan belum ada yang melakukan pendaftaran penerbitan obligasi syariah (sukuk) korporasi. “Sukuk itu kan sedikit berbeda, harus ada semacam project bond sebagai backbone project. Misalnya menerbitkan apa untuk satu proyek. Ada akadnya,” kata dia.

 

Selain itu, untuk restrukturisasi, perusahaan cenderung lebih memilih obligasi korporasi karena prosesnya lebih sederhana. Samsul menambahkan, SMF juga berencana menerbitkan efek beragun aset (EBA) atau sekuritisasi aset senilai Rp 700 miliar yang diterbitkan terpisah dengan obligasi SMF.

 

Dia memperkirakan, daya serap obligasi tahun ini tidak akan mengalami kesulitan, karena aliran dana asing bisa masuk ke instrumen obligasi korporasi. “Tahun 2017 saja kan Rp 150 triliun. Obligasi lebih aman dipasarkan, karena rating cukup bagus dan sebagian perusahaan yang menerbitkan juga bagus,” ujar Samsul.

 

Sementara itu, Head of fixed income research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto memproyeksikan total emisi surat utang (obligasi, sukuk, dan MTN) korporasi masih berpeluang tembus kisaran Rp 150-160 triliun pada 2018.

 

Menurut Handy, saat ini ruang kesempatan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan sudah terbatas. Sedangkan The Fed justru berniat menaikkan Fed Funds Rate (FFR), yang berpotensi menimbulkan kenaikan US Treasury 10 tahun dan mengurangi aliran dana masuk (capital inflow) investor asing.

 

“Namun, di tengah faktor global yang kurang kondusif, kondisi di Indonesia harus lebih bagus. Dengan kenaikan produk domestik bruto (PDB) yang semakin baik, potensi kenaikan peringkat dari Moody’s, dan inflasi yang terjaga akan menjadi katalis positif bagi surat utang negara (SUN),” ujar Handy.

 

Seiring dengan hal tersebut, imbal hasil dari SUN bertenor 10 tahun dapat terjaga, karena beberapa katalis positif tersebut dapat menahan kenaikan yield ke depan.

 

Menurut Handy, dalam memutuskan menerbitkan surat utang, posisi risk free rate yield merupakan indikator yang utama. Jika yield SUN 10 tahun tidak naik terlalu tinggi, berarti biaya dana (cost of fund) yang korporasi keluarkan saat mengemisi surat utang tidak akan terlalu besar. (eld)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com