Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Sritex Beli Kembali Surat Utang US$ 175,48 Juta

Minggu, 24 Februari 2019 | 00:42 WIB
AJG

JAKARTA – PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) melalui anak usahanya, Golden Legacy Pte Ltd, menyelesaikan penawaran tender tunai untuk membeli kembali surat utang senior yang senilai US$ 350 juta. Adapun total pembelian surat utang berkupon 8,25% tersebut mencapai US$ 175,48 juta. Surat utang itu sebetulnya baru akan jatuh tempo pada 2021.

Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan mengatakan, penawaran tender dilakukan oleh penerbit dan dibiayai oleh perseroan melalui pembayaran kembali utang perseroan senilai US$ 175,48 juta. Hal ini sesuai dengan Intercompany Loan Agreement pada Juni 2016. Dengan begitu, perseroan bisa mengurangi beban keuangan hingga 2%.

"Dengan begitu penawaran tender ini, maka mengurangi biaya bunga ratarata dan memperkuat struktur modal perseroan," kata Iwan, belum lama ini. Penyelesaian awal atas penawaran tender pada 28 Januari 2019 dan penyelesaiannya 19 Februari 2019. Setelah penawaran tender ini diselesaikan, maka total kewajiban perseroan berdasarkan surat utang lama sebesar US$ 174,51 juta.

Sebelumnya, Corporate Communications Sritex Joy Citra Dewi mengatakan, pihaknya ingin mempercepat pelunasan obligasi untuk menurunkan cost of fund atau beban keuangan dan diversifikasi pendanaan. Perseroan, menurut dia, selalu mencari opsi untuk mendapatkan pendanaan yang lebih murah.

Buyback dilakukan melalui tender dengan harga pembelian kembali obligasi yang ditawarkan US$ 1.012,5 atau lebih tinggi US$ 12,5 dari harga pokok obligasi yang sebesar US$ 1.000. Sementara itu, mengenai bisnis perusahaan, Iwan pernah mengatakan bahwa terdapat beberapa calon perusahaan yang berpotensi diakuisisi oleh perseroan. Karakteristik yang diincar adalah perusahaan tekstil dengan porsi bisnis ekspor sebesar 70% dari total penjualan.

Terkait rencana pertumbuhan anorganik tersebut, Sritex membuka opsi untuk penghimpunan dana melalui instrumen surat utang atau penambahan modal melalui skema rights issue.

 

Yield Cukup Tinggi

Sementara itu, sejumlah perusahaan menahan diri untuk menerbitkan surat utang selama tahun politik 2019. Apalagi, saat ini imbal hasil (yield) surat utang masih cukup tinggi, sehingga harga cenderung turun.

Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Wahyu Trenggono, meski penerbit masih menahan diri, investor justru berminat pada pasar obligasi karena yield yang menjanjikan. “Selama dua pemilu terakhir, investor tidak melihat hal tersebut sebagai tambahan risiko. Dinamis tapi tidak ekstrim,” kata Wahyu.

Berbeda dengan tahun lalu, di mana pasar obligasi mengalami turbulensi karena faktor global. Pada tahun ini, Wahyu menilai pergerakan pasar obligasi cenderung mirip dengan pemilu 2008 maupun 2014. Pasar obligasi menurut dia, tidak melihat pemilu sebagai ancaman.

Selain itu, jika pemilihan presiden dilakukan secara cepat, maka tren penurunan yield pun akan lebih cepat. Pasalnya selama belum ada kepastian presiden dan wakilnya, maka korporasi cenderung menahan diri. “Semakin cepat terpilihnya presiden bisa meningkatkan penerbitan obligasi korporasi,” kata dia.

Selain itu, IBPA mencatat, dari Standard Charterd mengemukakan bahwa bila dibandingkan India, risiko Indonesia cenderung medium. Sementara menurut Moodys, Indonesia masih dalam kategori resiko yang rendah untuk menempatkan dana dari investor. Untuk itu, kecenderungan pasar obligasi Indonesia tahun ini gejolaknya tidak begitu besar.

“Pasar SBN ownership paling besar asing hampir 40% dari SUB. Investor asing portofolionya tidak hanya di indonesia. Kalau kecenderungan asing tidak terlalu besar maka resiko dari negara tersebut tidak terlalu besar,” kata dia.

Pasar obligasi, menurut Wahyu masih dipengaruhi oleh Faktor global yang masih cukup dominan. Investor memandang resiko global, seperti perang dagang merupakan hal yang bisa mempengaruhi portofolio Indonesia. Faktor global yang didengungkan seperti perang dagang, investor akan mulai bosan dan tidak akan bereaksi dengan isu tersebut.

“Kalau suku bunga the fed ga banyak dinaikan, dana-dananya tidak akan banyak mengalir deras ke amerika. Dananya mengalir ke emerging market maka negara tersebut obligasinya akan naik,” ujar Wahyu.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN