Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang wanita melewati toko pakaian di Beijing, Tiongkok, belum lama ini. (Foto: AFP / WANG Zhao)

Seorang wanita melewati toko pakaian di Beijing, Tiongkok, belum lama ini. (Foto: AFP / WANG Zhao)

Fokus Pasar: Tensi Perang Dagang dan Nasib Ekonomi Global

Selasa, 19 November 2019 | 10:51 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang enggan menurunkan tarif impor untuk seluruh produk Tiongkok membuat pesimisme di kubu Tiongkok untuk menjalin kesepakatan perdagangan dengan AS. Sejauh ini, fokus Tiongkok adalah melanjutkan diskusi sembari menunggu lengsernya Trump melalui pemakzulan ataupun pemilihan umum.

“Kami melihat bahwa tensi dan ego masih ada, sehingga memberikan ruang pesimis yang cukup besar bagi kedua negara. Di satu sisi, Tiongkok yang paling merasakan akibat perang dagang tersebut langsung kepada perekonomiannya yang memberikan pelemahan cukup dalam,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Selasa (19/11).

Di sisi lain, menurut Pilarmas, perekonomian AS juga melemah, namun dapat bertahan lebih lama dan tentu saja ‘Negara Adidaya’ itu tidak ingin kehilangan daya tawarnya saat ini.

Jika Tiongkok atau AS mulai memundurkan kesepakatan lebih lama lagi, tentu perekonomian global tidak akan beranjak kemana-mana dari tempatnya yang saat ini dalam posisi terus melambat.

Baru-baru ini, Trump bertemu dengan Chairman The Fed Jerome Powell untuk membicarakan persoalan ekonomi. Mereka membahas mengenai pertumbuhan ekonomi secara luas, pertumbuhan ekonomi, tren ketenagakerjaan dan inflasi.

Powell hanya menegaskan bahwa kebijakan The Fed tidak dipengaruhi oleh pertimbangan politik, dan hal tersebut merupakan sebuah pernyataan terhadap Trump yang telah berulang kali menyerang The Fed melalui Powell.

Sentimen lainnya juga datang dari Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dilaksanakan pada 21 November yang turut membahas data dari US Markit Manufacturing, Composite, dan Services. “Ketiga data PMI tersebut juga akan kita nantikan dari Eropa yang tengah mengalami perlambatan ekonomi. Hal ini akan menjadi fokus utama mengenai pergerakan perekonomian Eropa,” ungkap Pilarmas.

Beralih ke Asia, data ekonomi Jepang juga akan menjadi salah satu yang dinantikan pelaku pasar pada pekan ini, terutama tentang neraca perdagangan, ekspor, impor, dan inflasi.

Selain itu, di dalam negeri, pertemuan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 21 November nanti juga menjadi hal yang ditunggu pelaku pasar. “Meskipun kami menilai tidak ada perubahan tingkat suku bunga, namun kami melihat bahwa pandangan BI terkait dengan situasi dan kondisi perekonomian saat ini penting bagi pasar,” jelas Pilarmas.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN