Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT ABM Investama Tbk (ABMM). Foto: IST

PT ABM Investama Tbk (ABMM). Foto: IST

Modal Kerja ABM Investama Dibiayai OCBC NISP

Rabu, 25 Desember 2019 | 18:16 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT ABM Investama Tbk (ABMM) mendapatkan fasilitas pinjaman senilai US$ 50 juta dari PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP). Fasilitas pinjaman ini akan digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja perseroan.

Direktur Utama ABM Investama Andi Djajanegara mengatakan, pemberian fasilitas kredit ini menunjukkan kepercayaan perbankan dalam mendukung perseroan. "Selain itu, penandatanganan ini sekaligus menunjukkan komitmen ABM Investama untuk meningkatkan kinerja," ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, baru-baru ini.

Ke depan, ABM Investama akan terus mengembangkan usahanya. Salah satunya adalah dengan menerapkan mining value chain (MVC) yang bisa meningkatkan bisnis perseroan, meskipun harga sumber energi termasuk batubara sedang terkoreksi.

Salah satu pelaksanaan MVC adalah melalui penyertaan modal senilai US$ 60 juta ke PT Multi Harapan Utama (MHU). Perusahaan ini berlokasi di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur dan memiliki cadangan batu bara sebanyak 80 juta ton. "Melalui penyertaan modal tersebut, kontraktor pertambangam ABM Investama, PT Cipta Kridatama (CK) mendapatkan kontrak penambangan jangka panjang (life of mine) dari MHU," jelas dia.

Strategi tersebut juga membuka peluang bagi anak usaha ABM Investama yang lain, yakni PT Baruna Dirga Dharma (BDD) dan PT Prima Wiguna Parama (PWP). ”Ke depan, kami akan melakukan berbagai inovasi dan kerjasama dengan berbagai pihak terkait guna meningkatkan value perusahaan," kata dia.

Sementara itu, Cipta Kridatama mendapatkan kontrak baru dari MHU pada Juli 2019. Direktur Utama Cipta Kridatama Feriwan Sinatra mengatakan, perolehan kontrak senilai US$ 337 juta tersebut diharapkan bisa  meningkatkan kinerja perusahaan.

Dalam kerja sama tersebut, Cipta Kridatama akan membantu usaha pertambangan MHU dalam bentuk penyewaan alat berat serta pemindahan material penutup (overburden removal). Adapun target yang ditargetkan mencapai 36 juta bcm (Bank Cubic Metre) tiap tahun dengan jangka waktu kerja selama lima tahun. "Total target volume pengupasan lapisan tanah penutup di kawasan penambangan tersebut diharapkan tercapai 180 juta bcm," kata dia.

Sebelumnya, pada akhir Februari 2019, Cipta Kridatama juga mendapatkan kontrak kerja dari perusahaan tambang PT Muara Alam Sejahtera (MAS). “Langkah ini akan terus kami kembangkan melalui berbagai inovasi dan inisiatif positif dalam melakukan kerja sama pertambangan di berbagai lokasi pertambangan," kata dia.

Cipta Kridatama merupakan anak usaha dari ABM Investama. Adapun ABM Investama merupakan perusahaan di bidang sumber daya energi, jasa energi, dan infrastruktur yang masih merupakan bagian dari kelompok usaha PT Tiara Marga Trakindo (TMT). 

Target

Tahun ini, ABM Investama tengah mengincar tambang batu bara dengan kalori kisaran 4.200 kilocalories (Kcal) per kilogram (Kg). Sebab perseroan memiliki pengalaman memproduksi dan menjual batu bara dengan tipe kalori tersebut. "Animo pembeli batubara cukup tinggi terhadap batu bara dengan rentang kalori 4.200 kcal per kg," ujar Direktur ABM Investama Adrian Erlangga.

Jika aksi akuisisi tambang terlaksana, dia mengakui, PT Reswara Minergi Hartama akan mendapatkan tambahan cadangan batu bara. Sedangkan, saat ini anak usaha usaha ABM Investama itu baru memiliki total cadangan batu bara kisaran 300 juta metrik ton dari tambang batu bara di Kalimantan Selatan, dan Aceh. 

“Selama ini kami fokus di batu bara termal. Cuma saya akui, dari rencana akuisisi tambang baru, terdapat rencana mengambil alih tambang batubara kokas (coking coal),” ungkap Adrian. 

Lebih lanjut ia menyampaikan, perseroan fokus mengincar tambang batu bara baru di wilayah Kalimantan Selatan, Timur, dan Tengah. ABM Investama hanya menginginkan tambang batu bara dengan kapasitas produksi medium, dan merupakan tambang lama (brownfield). “Jadi pasca akuisisi rampung, tambang itu dapat langsung menyumbang earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA),” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN