Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salim Ivomas Pratama

Salim Ivomas Pratama

2019, Salim Ivomas Bukukan Rugi Bersih Rp 546 Miliar

Mashud Toarik, Jumat, 28 Februari 2020 | 08:37 WIB

JAKARTA, investor.id – Emiten yang bergerak di sektor agribisnis, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) melaporkan kinerja audited tahun buku 2019 dengan meraih total pendapatan Rp 13,65 triliun, turun 3% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 (year on year/yoy).

Sementara posisi laba usaha tercatat Rp 639 miliar dan EBITDA Rp1,90 triliun. Perseroan mencatat rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 546 miliar.

Dalam laporan keterbukaan informasi publik yang disampaikan Manajemen SIMP kepada Bursa Efek Indonesia pada, Jumat (28/2/2020) disebutkan bahwa, rugi bersih yang diderita disebabkan oleh penurunan harga komoditas serta beban operasi lain, beban keuangan dan beban pajak penghasilan yang lebih tinggi. Kendati begitu beban-beban tadi sebagian dapat diimbangi oleh laba yang timbul dari perubahan nilai wajar aset biologis Perseroan.

Direktur Utama Grup SIMP Mark Wakeford mengatakan, tahun 2019 merupakan masa yang sangat menantang bagi industri agribisnis seiring pelemahan harga komoditas untuk tanaman-tanaman utama Perseroan.

“Hal ini berdampak signifikan pada kinerja keuangan terutama Divisi Perkebunan.Namun demikian pelemahan ini sebagian dapat diimbangi oleh kenaikan kinerja yang kuat dari Divisi Minyak & Lemak Nabati dimana Divisi ini mencatat kenaikan laba seiring pertumbuhan volume penjualan dan biaya bahan baku yang lebih rendah,” paparnya.

Disebutkan bahwa pada 2019, produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti Perseroan mengalami penurunan 2% yoy menjadi 3,30 juta ton, selain itu kontribusi TBS eksternal yang lebih rendah membuat total produksi CPO Perseroan turun 9% yoy menjadi 840 ribu ton.

Pada saat yang sama, terjadi penurunan harga jual rata-rata (ASP) produk sawit (CPO dan produk PK) yang turun masing-masing 3% yoy dan 39% yoy.

Dari sisi volume penjualan CPO disampaikan relatif tetap sebesar 882 ribu ton sementara itu volume penjualan produk PK naik 14% menjadi 220 ribu ton. Faktor-faktor tadi mebawa dampak signfikan terhadap penurunan total penjualan Grup SIMP.

Khusus terkait turunnya produksi TBS inti, Mark Wakeford menyampaikan hal ini disebabkan karena dilakukannya kegiatan penanaman kembali pada sebagian lahan yang berusia tua dengan benih bibit yang memiliki potensi hasil panen tinggi.

“Kami telah meningkatkan kapasitas pengolahan dengan menyelesaikan 1 pabrik kelapa sawit baru pada bulan September 2019 berkapasitas 45 MT TBS/jam. Kapasitas penyulingan kami di Surabaya telah meningkat 300.000 MT per tahun pada tahun 2018 sehingga berkontribusi pada peningkatan volume penjualan minyak goreng dan margarin pada tahun 2019,” urainya.

Di luar kondisi internal, disebutkan bahwa penurunan kinerja juga dipengaruhi oleh ketidakpastian perekonomian global. Hal ini berdampak pada volatilitas harga komoditas agrikultur. Permintaan minyak sawit dari pasar impor utama seperti Tiongkok dan India, harga minyak mentah yang mempengaruhi permintaan biodiesel serta korelasi antara harga CPO terhadap minyak kedelai akan berdampak pada harga CPO.

“Namun demikian, prospek CPO Indonesia tetap positif seiring upaya pemerintah untuk meningkatkan konsumsi biodiesel serta implementasi B30 pada Januari 2020 sehingga diharapkan dapat meningkatkan permintaan minyak sawit domestik,” imbuhnya.

Pemulihan harga CPO yang kuat dari posisi terendah pada pertengahan 2019 terutama didorong oleh pertumbuhan produksi yang lebih rendah dan permintaan yang kuat.

“Di tengah kondisi harga komoditas yang berfluktuasi, Kami akan memprioritaskan belanja modal pada aspek-aspek yang memiliki potensi pertumbuhan, berfokus pada pengendalian biaya serta inovasi untuk peningkatan produktivitas,” pungkasnya.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN